Kasus Stunting

Duh, 28 Persen Warga di Kabupaten Simalungun Alami Stunting

28 persen warga di Kabupaten Simalungun diketahui mengalami stunting. Pemerintah daerah genjot vaksinasi

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Pemkab Simalunun melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) melaksanakan kegiatan Orientasi Verifikasi dan Validasi (Verval) data kasus stunting dan keluarga berisiko stunting.

Kegiatan pembahasan stunting ini berlangsung di pendopo rumah dinas Bupati Simalungun, Pamatang Raya, Simalungun, Selasa (9/8/2022) diikuti oleh 413 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari nagori/desa dan kelurahan se-Kabupaten Simalungun.

Menurut Plt Kadis PPKB Kabupaten Simalungun Gimrood Sinaga, tujuan dilaksanaan kegiatan tersebut adalah sebagai salah satu upaya Pemkab Simalungun untuk percepatan penurunan stunting.

Baca juga: Demi Turunkan Angka Stunting, Gubernur Edy Minta Dana Anggaran Khusus Rp 33 Miliar ke Kemenkes

“Sesuai dengan data, jumlah stunting di Simalungun sebanyak 28 persen dari jumlah penduduk Simalungun pada tahun 2022. Kita berharap  pada tahun 2024 mendatang menjadi 14 persen,”kata Gimrood.

Selama berlangsung kegiatan itu, para peserta disuguhi berbagai materi yang disajikan oleh narasumber dari Kantor Wilayah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Utara dan Dinas PPKB Kabupaten Simalungun.

Simalungun sendiri pernah didatangi Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia (RI) Hasto Wardoyo, Juli 2022 lalu. Kala itu, Hasto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Simalungun, tepatnya di RS Balimbingan, Kecamatan Tanah Jawa Kabupetan Simalungun.

Baca juga: Cegah Stunting, Pokmas Mandiri dan Lurah Terjun Bentuk Tim Genting

Dalam menurunkan angka Stunting, Hasto mengatakan, harus dimulai dari langkah pencegahan. Program Pemkab Simalungun sudah baik, dengan melakukan pencegahan ataupun pengawasan terhadap masyarakat yang akan menikah. 

“Jadi program pak Bupati ini bagus sekali, dengan melakukan pemeriksaan kesehatan bagi pasaangan yang akan menikah tiga bulan lagi, karena disini (Simalungun) penduduknya 1 juta, setiap tahun dari 100 ribu warga, yang lahir 16 ribu setiap tahun, demikian juga dengan angka pernikahanya cukup tinggi,” papar Hasto. 

Disampaikan Hasto Wardoyo, pencegahan akan bisa dilakukan jika pengawasan dilakukan sebelum pernikahan, pemeriksaan kesehatan ketika hamil, dan juga melahirkan, mempersiapkan ASI eksklusif kepada anak dan memberikan layanan kontrasepsi.(alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved