Kuliner Siantar

Kedai Kopi Subur, Kuliner Siantar yang Sudah Ada Sejak Jaman Kolonial, Kini Dikelola Generasi Ketiga

Jauh sebelum menjamurnya coffe shop seperti sekarang, Kuliner Siantar ini nyatanya sudah ada sejak kolonialisme Belanda.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ALIJA
Kedai Kopi Subur Baru 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR- Tak lapuk diterpa jaman, Kedai Kopi Subur Baru, Kuliner Siantar yang berada di Kota Pematangsiantar ternyata menyimpan cerita panjang.

Jauh sebelum menjamurnya coffe shop seperti sekarang, Kuliner Siantar ini nyatanya sudah ada sejak kolonialisme Belanda.

Di Kedai Kopi Subur, sajian kopi dan Kuliner Siantar yang ditawarkan pun masih tergolong tradisional seperti kopi hitam, kopi susu, kopi dingin. Kemudian teh dan beberapa olahan roti.

Semua masih hidangan jadul tempoe doeloe.

Reporter Tribun Medan berkesempatan mewawancarai bapak Kho, Rabu (20/8/2022).

Baca juga: Berkunjung ke Siantar, Menteri Sandiaga Uno Makan Siang di Kedai Jalanan dan Singgah ke Roti Ganda

Pria 70 tahun merupakan generasi ketiga yang mengelola Kedai Kopi Subur Baru yang berada di Jalan Sutomo No.60 Kota Pematangsiantar. 

Dalam wawancara dengan reporter Tribun Medan, Kho tak ingat jelas tahun pasti kakeknya mendirikan kedai kopi.

Yang ia kenang dan dengar cerita, bahwa kakeknya sudah mendirikan kedai kopi sejak zaman Belanda.

“Kalau tahunnya nggak tahu pasti. Yang saya ingat kami berdiri masih zaman kolonial Belanda. Kalau sekitaran tahun 1920 udah ada ya.

Saya aja sudah 70, kemudian ayah saya lagi sebagai penerus kakek saya. Waktu itu kita di sini aja masih gubuk,” kata pria bernama lengkap Kho Chin Yong.

Kho yakin betul, usaha kakeknya bisa dibilang sebagai kedai kopi paling awal dibandingkan kedai kopi lain yang kini tersohor di Kota Pematangsiantar.

Saat itu tak ada kedai kopi yang berdiri di inti Kota Pematangsiantar. 

Baca juga: BERITA POPULER Hari Ini, Kekecewaan Kakak Marissya hingga Razman Nasution Ngamuk di Kedai Kopi Johny

“Di jaman kami, siapa ya? Cuma kami sendiri sepertinya di sekitaran sini. Kemudian ada Kedai Kopi Kok Tong (tahun 1925) dan Kedai Kopi Sedap (Tahun 1939). Kalau Kedai Kopi Sedap itu masih keluarga juga. Saya panggilnya pakcik itu sama yang pionir Kedai Kopi Sedap,” kata Kho.

“Di sini itu kopi hitam, kopi susu, kopi dingin, pokoknya tradisional lah. Kalau kopi, kita dari biji kopi Sidikalang itulah. Dan kalau teh, dari Pematang Sidamanik,” kata Bapak Kho.

(Alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved