Breaking News:

Berita Dairi

Hasil Panen Durian Warga Dairi Berkurang, Dampak Tambang PT. DPM

Ia mengatakan merasa khawatir dengan pertanian Dairi kedepan akan hancur apabila PT. DPM beroperasi nantinya.

Penulis: Abdan Syakuro | Editor: Royandi Hutasoit
HO / Tribun Medan
Puluhan massa yang tergabung dalam Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU) bersama perwakilan warga Dairi menggelar aksi didepan Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok Jalan Walikota Nomor 9, Kota Medan, Rabu (24/8/2022) siang. Mereka menuntut PT. DPM untuk membatalkan proyek karena tidak memenuhi standar lingkungan dan keselamatan Internasional, berada dilokasi yang tidak memungkinkan untuk tambang. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perwakilan dari warga Dairi yang hadir pada aksi yang dilakukan bersama Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU) menggelar aksi didepan Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok Jalan Wali Kota Nomor 9, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Rabu (24/8/2022) siang.

Penduduk di 11 desa dibagian hilir proyek PT. Dairi Prima Mineral (DPM) memiliki banyak pertanyaan dan kekhawatiran berkaitan dengan rencana tambang seng dan timbal didaerah yang oleh para ahli seismik digambarkan sebagai salah satu daerah paling rawan gempa di dunia.

Bendungan tailing yang diusulkan sebagai penampung limbah beracun tambang akan berada di atas kompleks patahan yang menghasilkan gempa berkekuatan 9.1 magnitudo yang menyebabkan tsunami 2004 lalu. Daerah ini juga rawan hujan lebat dan tanah longsor, membuat tanahnya khususnya sangat tidak stabil.

Seorang warga Desa Pandiangan Ungkap Napitupulu menuturkan dampak dari PT. DPM ini kepada warga sekitar adalah bahwa dam tailing dan gudang bahan bahan peledaknya berada hanya sekitar 50 meter dari rumah warga.

"Jadi kami khawatir dengan adanya dam tailing dan bahan peledak yang berdekatan dengan pemukiman warga akan berdampak kepada pertanian masyarakat jika terjadi kebocoran dari dam tailing itu sendiri mengakibatkan daya rusak yang sangat berbahaya sekali dan tidak dapat dikembalikan seperti semula," kata Ungkap.

Ia mengatakan merasa khawatir dengan pertanian Dairi kedepan akan hancur apabila PT. DPM beroperasi nantinya.

"Kita tau bahwa tanah Dairi itu adalah tanah yang sangat kaya dan subur. Disitu ada durian, padi, jagung, cokelat, kemiri, kapulaga, duku, manggis, semuanya itu komoditas pertanian untuk kesejahteraan masyarakat Dairi," kata Ungkap.

Ungkap mengatakan bahwa Dairi berada di swalayan bencana jika terjadi gempa maka bisa dipastikan Dairi akan terkena juga dampaknya.

"Penelitian ahli juga menunjukkan bahwa tanah Dairi itu berada di tanah yang tidak stabil dan bekas ledakan gunung Toba 7000 tahun yang lalu. Dairi itu juga berada didaerah rawan gempa dan bencana karena menurut riset penilitian dari BPBD Kabupaten Dairi bahwa tahun 2018 itu Dairi adalah swalayan bencana," kata Ungkap.

Ia mengatakan sampai saat ini Kementerian Lingkuhan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia (RI) belum pernah mengeluarkan izin lingkungan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved