Breaking News

Sosok

SOSOK Harangan Wilmar Hutahaean, Pengusaha Ternama Asal Toba Pemilik Labersa Grup

Harangan Wilmar Hutahaean adalah seorang pengusaha sukses yang mendirikan beberapa perusahaan ternama di Indonesia.

Penulis: Rizky Aisyah |
HO / Tribun Medan
Harangan Wilmar Hutahaean (tengah) 

Sebagai pengusaha, Harangan relatif menggunakan uangnya untuk mendirikan perusahaannya.

Misalnya, lapangan yang dibangun di atas seluas 18 hole saja menelan biaya Rp 148 miliar.

Sementara hotel juga menyedot rupiah yang tidak sedikit Rp 102 miliar. Artinya, hanya dua proyek itu saja sudah menelan dana sekitar 250 miliar.

Kala pembangunan itu diambil dari kantong pribadi. “Hanya pembangunan hotel dan perumahan menggunakan bantuan bank. Hotel yang dibangun itu adalah oleh yang diposisikan hotel bintang 5 dengan 236 kamar. Sementara untuk manajer hotel, Harangan menggunakan jaringan hotel Accor dan Sheraton.”

Sementara di bidang perkebunan sawit, lewat PT Hutahaean diberikan hak mengelola 5.418, 65 hektar di Kebun Dalu Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rohul.

Masih di wilayah kabupaten yang sama, hanya berbeda kecamatan, tepatnya di Kebun Teluk Sono Harangan juga memiliki kebun 7.700 ha kebun kelapa sawit.

Dia memulai masuk ke dalam lingkaran bisnis perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, awalnya berbisnis di perkebunan kelapa sawit sebenarnya, awalnya, hanya factor x saja.

Di tahun 1987, waktu itu, ia menemui gubernur di rumah dinasnya untuk perbincangan tentang kira-kira bisnis apa yang berprospek ke depan.

Lalu Gubernur memberikan hak izin dengan memberikan SK Gubernur oleh Gubernur Riau Letjen Soeripto (1988-1998) tentang izin lokasi dan pembebasan hak, pembelian tanah untuk perkebunan.

Sejak itu, Harangan bersama karyawannya menanami bibit sawit di kebun yang diberikan hak pakai oleh gubernur.

Lalu, tahun 1992, kelapa sawit itu sudah mulai berbuah dan bisa diproduksi 1,2 ton per hektare per tahun.

Tahun 1996, sebagai pengusaha Harangan kemudian membangun pabrik pengilangan minyak kelapa sawit pertama.

Pabrik ini bisa memproduksi sekitar 30 ton per jam. Tahun kedua, sudah meningkat menjadi 60 ton per jam.

Bukan Harangan namanya kalau tidak berani mengambil resiko. Sebagai pengusaha yang naluri bisnisnya ditempa alam, dia kemudian dengan tanpa berpikir rumit, mendirikan lagi pabrik kedua.

Tahun 2004, pabrik ini didirikan yang berlokasi di Teluk Sono dan Sei Murai, Kabupaten Rokan Hulu, dengan kapasitas produksi 60 ton per jam. Waktu itu, biaya pendirian pabrik ini sekitar Rp 66 miliar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved