Puasa Sunnah
Macam-macam Puasa Sunnah Beserta Niat Puasanya
Puasa sunnah juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu, tidak setiap saat bisa dilakukan. Salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu duniawi.
Penulis: Rizky Aisyah |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Macam-macam puasa sunnah adalah ibadah yang dilakukan nabi Muhammad.
Puasa sunnah juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu, tidak setiap saat bisa dilakukan.
Puasa sunnah juga salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu duniawi.
Baca juga: Niat Puasa Ayyamul Bidh, Tata Cara dan Manfaat Puasa untuk Kesehatan
Berikut ini terdapat beberapa macam-macam puasa sunnah beserta niat puasanya
Puasa Syaban
Puasa Syaban adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Syaban, bulan sebelum Ramadhan. Bulan Syaban adalah bulan yang sering diabaikan orang karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan.
Puasa Syaban dapat dilakukan sepanjang bulan Syaban. Sebagian orang berpuasa Syaban pada malam Nisfu Syaban.
Nisfu Syaban adalah hari ke-15 bulan ke-8 penanggalan Islam. Malam Nisfu Syaban dianggap sebagai malam pengampunan, pembebasan dan berkah.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak daripada puasa bulan Sya'ban. Terkadang hampir beliau berpuasa sya'ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Niat Puasa Syaban
NAWAITU SHAUMA GHADIN AN ADA'I SUNNATI SYA'BANA LILLAHI TA'ALA
Artinya:
"Aku berniat puasa sunah Sya'ban esok hari karena Allah SWT."
Puasa Ayyamul Bidh
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa yang dilakukan setiap pertengahan bulan Muslim, kecuali Tasyrik dan Ramadhan.
Puasa ini berlangsung tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan Islam. Dari ayahnya kata Ibnu Milhan Al Qabisiy.
Niat Puasa Ayyamul Bidh
NAWAITU SHOUMA GHADIN AYYAMAL BIDHI SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya: Saya niat berpuasa besok pada (ayyamul bidh) hari-hari putih sunah karena Allah Ta'ala.
Baca juga: Niat Puasa Weton, Jenis, Tata Cara Serta Manfaatnya
Berbeda dengan puasa sunnah atau puasa lainnya di bulan Ramadhan, dimana niatnya harus dibaca sebelum fajar, puasa Ayyamul Bidh dapat dilakukan setelah fajar dan niatnya adalah sebagai berikut:
NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya: Saya berniat puasa pada hari-hari putih, sunnah karena Allah ta'ala.
Puasa Senin-Kamis
Puasa Senin-Kamis. Puasa ini merupakan puasa sunnah yang hampir bisa dilakukan setiap bulan. Sunnah dari puasa senin-kamis ini tertuang seperti yang diriwayatkan Aisyah,
“Rasulullah biasanya berpuasa pada hari Senin-Kamis,” [H.R. Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah].
Puasa ini dipercaya oleh umat muslim, bisa mendatangkan keberkahan dan ketenangan dalam menjalani hidup.
Selain itu, berpuasa dua hari dalam seminggu, Senin dan Kamis, bisa menjadi rutinitas yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh Anda
Niat puasa sunnah di hari Senin
NAWAITU SAUMA YAUMAL ITSNAINI SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
Artinya: Saya niat puasa hari Senin, sunnah karena Allah ta'ala.
Niat puasa sunnah di hari Kamis
NAWAITU SAUMA YAUMAL KHOMIISI SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya: Saya niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah ta'ala.
Puasa Sunnah 1-7 Dzulhijjah
Puasa Sunnah 1-7 Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan dari hari ke 1 hingga ke 7 Dzulhijjah.
Puasa sunnah ini merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437)
Niat Puasa Sunnah 1-7 Dzulhijjah
"NAWAITU SHAUMA SYAHRI DHILHIJJATI SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA"
Artinya: Aku niat puasa sunnah di bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala
Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk puasa 10 hari hingga Idul Adha.
Dalam Hadis Riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW berkata:
"Tak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti 10 hari ini (di bulan Dzulhijjah)."
Dalam hadits tersebut di atas, puasa 7 hari ini dapat ditambah dengan dua hari puasa lainnya: puasa Tarwiyah dan Arafah.
Niat puasa Tarwiyah
NAWAITU SAUMA TARWIYATA SUNNATAN LILLAHI TA'ALA.
Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah tarwiyah karena Allah ta'ala."
Setelah membaca niat puasa, Anda bisa menjalankan sahur dan puasa tarwiah pagi-pagi keesokan harinya.
Puasa Daud
Puasa sunnah Nabi Dawud adalah puasa berselang, yaitu puasa satu hari dan tidak puasa hari berikutnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)
Niat puasa Daud
NAWAITU SHAUMA DAAWUDA SUNNATAL LILLAHI TA’ALA
Artinya : "Saya niat puasa Daud, sunnah karena Allah Ta'ala"
Baca juga: Macam-macam Puasa Sunnah yang Dianjurkan, Berikut Niat dan Doanya
Puasa Tasu'a
Puasa Tasu'a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini digabung dengan puasa keesokan harinya, yaitu tanggal 10 Muharram. Karena orang Yahudi juga berpuasa pada hari yang sama dengan tanggal 10 Muharram.
Niat Puasa Tasu'a
"NAWAITU SAUMA GHODIN MIN YAUMI TASU'A SUNNATAN LILLAHI TA'ALA."
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta’ala.”
Puasa Arafah
Puasa Arafah dirayakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa 9 hari Muharram sangat dianjurkan bagi Muslim yang tidak menjalankan ibadah haji.
Hari ini dikenal sebagai Hari Arafah, umat Islam yang berziarah untuk melakukan wukuf dipadang Arafah.
Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata), ”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” H.R. Muslim.
Niat puasa Arafah
Nawaitu sauma arafah sunnatan lillahi ta'ala
Artinya: "Saya niat puasa Arafah, karena Allah ta'ala."
Niat puasa Arafah ini bisa dibaca begitu selesai menjalankan ibadah puasa Tarwiyah di hari sebelumnya.
Puasa Asyura
Puasa asyura dirayakan pada tanggal 10 Muharram. Bulan Muharram memiliki keutamaan yang paling istimewa dan penuh dengan bulan Muharram. Hari itu adalah Asyura, tanggal 10 Muharram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
Niat Puasa Asyura
NAWAITU SHAUMA GHADIN 'AN ADAI SUNNATIL AASYUURAA LILLAAHI TA'AALAA.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
(cr30/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Macam-Macam-Puasa-Sunnah-September-2022.jpg)