Breaking News:

Opini Online

PEREMPUAN, SENJATA SILUMAN

Menurut sejarah, perempuan ambil bagian dalam pemberontakan bersenjata, revolusi, dan perang.

Editor: Abdi Tumanggor
(Shutterstock)
Ilustrasi Terorisme 

PEREMPUAN, SENJATA SILUMAN

Penulis: Trias Kuncahyono

ADA ASUMSI umum bahwa terorisme adalah dunia kaum laki-laki. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh sedikitnya perempuan teroris; juga karena aksi ini membutuhkan keberanian luar biasa serta merupakan tindakan kasar dan sungguh-sungguh membuang nilai-nilai kemanusiaan.

Akan tetapi, realitasnya menurut sejarah, perempuan ambil bagian dalam pemberontakan bersenjata, revolusi, dan perang.

Perempuan memainkan peran dominan di Russian Narodnaya Volya  (Kehendak Rakyat Rusia), sebuah organisasi revolusioner abad ke-19, yang berpandangan aktivitas teroris sebagai jalan paling baik untuk memaksa reformasi politik dan menyingkirkan otokrasi tsar.

Perempuan juga bergabung dengan Tentara Rakyat Irlandia (IRA), organisasi Baader-Meinhof di Jerman, Red Brigades di Italia, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina. Laporan penelitian European Parliamentary Research Service (2018), juga menegaskan hal itu.

Secara historis, perempuan telah aktif dalam organisasi kekerasan politik di berbagai wilayah di seluruh dunia. Mereka tidak hanya sebagai pelengkap dan pendukung, tetapi juga sebagai pemimpin dalam organisasi, rekrutmen dan penggalangan dana dan dalam peran operasional langsung.

Kata Cyndi Banks (2019), profesor kriminologi dari Northern Arizona University, perempuan selalu menjadi bagian dari gerakan teroris baik sebagai pendukung maupun pelaku.

Misalnya, dalam Religious Wave (Gelombang Agama) -meminjam istilah yang digunakan David Rapoport (2004)- perempuan mengisi berbagai peran mulai dari staf pendukung hingga pelaku nyata aksi teror di Pakistan, India, Sri Lanka, Chechnya, Afghanistan, Palestina, Suriah, Irak, Yaman, dan Kenya.

Rapaport membagi gelombang aksi teroris menjadi: dari 1880-an hingga 1920'an disebut Anarchist Wave (Gelombang Anarkis), dari 1920-an sampai 1960-an sebagai Anti-Colonial Wave (Gelombang Anti-Kolonial), dari 1960-1979 dinamakan New Left Wave (Gelombang Kiri Baru), dan dari 1979 -selanjutnya disebut Religious Wave (Gelombang Agama).

Keterlibatan perempuan itu, kata Mia Bloom (2017), akademisi, pengarang Kanada dan profesor komunikasi dari Georgia State University, didorong oleh perubahan etos dan taktik terorisme.

Organisasi terorisme ingin bahwa aksi mereka menimbulkan lebih banyak korban. Maka, dikembangkan teknologi dan taktik baru untuk mewujudkan keinginan itu.

Keinginan tersebut diwujudkan dengan: pengenalan terorisme bunuh diri dan merekrut kaum perempuan. Kedua fenomena paralel tersebut diwujudkan di Lebanon pada 1980-an selama pendudukan Israel.

Perempuan pengebom bunuh diri pertama, kata Mia Bloom (2017), adalah seorang gadis Lebanon berusia 17 tahun: Sana'a Mehaydali tahun 1985. Ia "menjalankan misi" Partai Nasional Sosialis Suriah (SSNP/PPS), sebuah organisasi sekular pro-Lebanon Suriah.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved