Materi Belajar

Materi Belajar : Sejarah Runtuhnya Kerajaan Kediri

Sejarah runtuhnya kerjaan Kediri atau disebut juga dengan Panjalu menjadi topik bahasan yang akan dibahas pada materi sejarah berikut ini.

Penulis: Rizky Aisyah |
Ho / Tribun
Sejarah Runtuhnya Kerajaan Kediri 

TRIBUN-MEDAN.com.MEDAN - Sejarah runtuhnya kerjaan Kediri atau disebut juga dengan Panjalu menjadi topik bahasan yang akan dibahas pada materi sejarah berikut ini. Sub pembahasan sejarah kerajaan Kediri (panjalu) yakni:

  1. Sejarah Runtuhnya Kerajaan Kediri

Sejarah berdirinya Kerajaan Kediri bermula ketika Raja Airlangga membagi Kerajaan Jenggala untuk menghindari perpecahan di antara kedua putranya. Pembagian kerajaan ini dilakukan oleh Empu Bharada.

Kerajaan Jenggala terbagi dua sebagai berikut.

  1. Kerajaan Jengala yang beribukota di Kahuripan.
  2. Ibukotanya adalah kerajaan Kediri di Daha.

Kedua kerajaan ini berbatasan dengan Sungai Brantas. Namun perpecahan tetap terjadi karena terjadi perang saudara setelah kematian Airlangga pada tahun 1049 M.

Kehidupan Politik Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (1135-1157 M) dan juga dikenal sampai ke Tiongkok. Kabar ini dibawa oleh seorang saudagar Cina bernama Khou Ku Fei. Khou Ku Fei menyatakan bahwa pada tahun 1200 M, Kediri merupakan kerajaan yang makmur dan sudah memiliki pemerintahan yang diatur dengan undang-undang.

Raja-raja yang berkuasa pada kerajaan Kediri

Berikut nama-nama raja yang memerintah Kerajaan Kediri.

  1. Raja Jayawarsa.
  2. Rakai Sirikan Sri Bameswara.
  3. Raja Jayabaya (1135-1159).
  4. Raja Sarweswara (1159-1169).
  5. Sri Aryeswara (1169-1181).
  6. Sri Gandra (1181-1182).
  7. Kameswara (1182-1185).
  8. Kertajaya (1185-1222).
     
    Kehidupan sosial budaya kerajaan Kediri

Seni sastra berkembang pesat pada masa Kameswara. Perkembangan bidang sastra pada masa Kediri disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

  1. Adanya pujangga-pujangga yang pandai.
  2. Adanya perlindungan terhadap para pujangga.
  3. Berkembangnya penghormatan kepada para raja melalui seni sastra.
  4. Adanya kebebasan berfikir dalam mengembangkan seni sastra.
  5. Khou Ku Fei menyatakan bahwa pada tahun 1200 M, Kediri merupakan kerajaan yang makmur dan sudah memiliki pemerintahan yang diatur dengan undang-undang. Saat itu Jayabaya banyak menghasilkan karya sastra yang mengagumkan, beberapa karya sastra yang mengagumkan tersebut adalah Kitab Bharatayudha yang dimodifikasi oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Kitab ini memastikan persatuan antara dua kerajaan yang sebelumnya terpisah. Namun yang paling terkenal dari Raja Jayabaya adalah ramalan-ramalannya yang terkenal hingga saat ini dan telah dibukukan. Kitab itu adalah kitab Jongko Jayabaya.

Karya sastra lainnya antara lain kitab Hariwangsa karya Empu Panuluh, kitab Gatotkacasraya karya Empu Panuluh, kitab Smaradahana karya Empu Darmaja dan kitab cerita Panji.

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Kediri

Sejarah kemunduran kerajaan Kediri adalah karena pada masa pemerintahannya Kertajaya ingin dipuja dan disembah seperti dewa.

Hal ini membuat para brahmana tidak senang dan mereka mencari perlindungan dari Akuwu (kepala desa) Tumapel, Ken Arok. Saat itu, ambisi Ken Arok untuk menjadi raja sangat kuat, dan Ken Arok mengembangkan kekuatan yang sangat dahsyat.

Akhirnya Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya pada tahun 1222. Serangan ini dilakukan di daerah bernama Ganter. Dengan ini, Kerajaan Kediri hancur. Setelah kejadian tersebut, Ken Arok mendirikan kerajaan Singasari.

(cr30/tribun-medan.com)

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved