Berita Sumut
Pemprov Sumut Tak Peduli Ribuan Babi Mati Karena Virus ASF hingga Peternak Bangkrut
Gerakan Peternakan Babi Indonesia merasa mendapat tindakan yang berbeda dari pemerintah terkait paparan Virus ASF (African Swine Fever)
Penulis: Aprianto Tambunan |
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Gerakan Peternakan Babi Indonesia merasa mendapat tindakan yang berbeda dari pemerintah terkait paparan Virus ASF (African Swine Fever), Rabu (21/12/2022).
Sebanyak 2300 babi yang terdata mati di Kota Medan dan Deliserdang disebabkan oleh paparan Virus ASF.
Pengawas Gerakan Peternak Babi Indonesia (GPBI), Sutrisno Pangaribuan mengatakan, perlakuan pemerintah terhadap peternak babi jauh berbeda dengan peternak sapi dan kambing yang sempat terpapar virus PMK.
"Pemerintah waktu virus PMK menyerang langsung reaktif dengan membentuk satuan tugas dan alokasikan anggaran untuk menyelesaikan masalah tersebut, sedangkan masalah ASF ini Pemerintah belum melakukan tindakan konkrit,"Ucap Sutrisno Pangaribuan, Rabu (21/12/2022) .
Dikatakan, pada saat paparan virus PMK. Pemerintah, melalui Direktorat Jendelar Peternakan dan Kesehatan Hewan langsung memberikan kompensasi terhadap sapi mau pun kambing yang mati.
"Waktu virus PMK kemarin pemerintah langsung tanggap, brapa ternak sapi dan kambing yang mati langsung diberikan kompensasinya. Sedangkan kami peternak babi sampai sekarang nol tidak pernah diberikan kompensasi, semisal pemerintah hanya sanggup memberikan Kompensasi sebanyak Rp. 10 ribu, oke gak masalah yang penting ada perhatian pemerintah," ucapnya.
Sutrisno menyebutkan, sudah berulang kali melakukan tindakan untuk mencari solusi masalah paparan Virus ASF.
"Kita sudah berulang kali menyurati, ke Presiden, Gubernur, DPRD bahkan ke Polda Sumatra Utara tentang hal ini. Bahkan sudah berulang kali juga dilakukan pertemuan namun sampai sekarang masih mengambang gadak titik terangnya, "ungkapnya.
Dari data yang didapatkan Gerakan peternak babi Indonesia dalam waktu sepekan, sebanyak 2300 babi mati di wilayah Deliserdang dan Kota Medan.
"Jadi dari data yang kita update dalam sepekan terakhir, sudah 2300 babi mati dari wilayah, Tangguk Bongkar, Mandala, Suka dono, Simalingkar B, Mulio Rejo, Sungai Mati Martubung," bebernya.
Sutrisno mengatakan, hingga saat ini peternak mencari solusi sendiri tampa bantuan pemerintah dalam masalah paparan virus ASF tersebut.
"Sampai sekarang kita masih bergerak sendiri mulai dari Penyemprotan disinfektan, pengobatannya, belum ada bantuan pemerintah," Ucap Sutrisno.
Dia berharap, pemerintah dapat memberitahu perhatian kepada peternak babi.
"Dari dulu yang kita minta pemerintah memberikan perhatian ke peternak babi, dengan salah satu contoh memberikan kompensasi sebagai bentuk membantu para peternak," Pungkasnya.
(Cr29/tribun-medan.com)