Catatan Musik Tiga Dekade Dewa
Usia 19, Lagu Kangen, Kaus Metal
Mendengarkan nada-nada Dewa, sedikit banyak seperti mendengarkan Toto. Juga Chicago, dan sedikit Joe Satriani pada beberapa solo gitar Andra.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SATU hari di akhir 1992, saya menonton program musik di televisi –saya lupa nama acaranya tapi tentu saja pastinya di TVRI– dan mendapati video klip dari band bernama Dewa. Judul lagunya ‘Kangen’, dan seketika saya tergelitik perasaan janggal.
Dalam pandangan saya; yang belum lama beranjak dari usia remaja, yang baru-baru saja tergila-gila pada segala sesuatu yang berkaitpaut dengan heavy metal, apa yang tersuguh dalam klip tersebut merupakan rangkaian kontradiksi: nama band, judul lagu, dan penampilan para personelnya.
Band ini bernama Dewa. Sungguh satu nama yang besar dan agung. Dewa adalah entitas supranatural, sesuatu yang tak terjangkau dan tak terdefenisi, yang menguasai unsur-unsur alam atau aspek-aspek tertentu dalam kehidupan alam semesta.
Apabila dialih-bahasakan bebas ke Inggris, Dewa bisa dimaknai juga sebagai Tuhan.
Waktu itu saya memang belum tahu bahwa Dewa, tiada lain tiada bukan, akronim nama-nama personel band tersebut. D adalah Dhani (Ahmad Dhani Prasetyo), E adalah Erwin (Erwin Prasetya), W adalah Wawan (Setyawan Juniarso Abipraja), dan A adalah Andra (Andra Ramadhan) dan Ari (Ari Bernardus Lasso).
Ketidaktahuan ini membawa saya pada penilaian miring. Sebagai penggemar heavy metal [atau katakan sajalah rock yang “keras” dan “bising”], saya terlanjur merasa tahu perihal sejumlah band yang juga mengusung nama Tuhan. Atau setidaknya yang berhubungan dengan Tuhan, dengan Ketuhanan dan kitab suci, terutama Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).
Sebutlah Judas Priest, Black Sabbath, Testament, Sepultura, atau yang ketika itu [awal 1990-an] sedang naik daun, Lamb of God dan Nirvana, dedengkot grunge yang tidak 'heavy' tapi tak kalah bising.
Seorang personel Dewa di klip itu, Andra Ramadhan, mengenakan kaus Testament bermotif malaikat pencabut nyawa dari album Souls of Black yang rilis tahun 1990.
Dua personel lain, Ari Lasso dan Wawan Juniarso, juga mengenakan kaus metal. Lasso memakai kaus bergambar wajah Jim Morrison, vokalis The Doors, sedangkan pada Wawan melekat kaus band yang tengah meniti puncak ketenaran lewat album kembar mereka yang fenomenal, Use Your Illusion, Guns N’Roses.
Jadi begitulah. Testament, The Doors, Guns N’Roses, tapi lagu yang dinyanyikan berjudul ‘Kangen’. Lagu cinta yang serba merayu mendayu-dayu. Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..., alamak oi!
Apa boleh buat, saya pun segera pula membanding-bandingkan Dewa dengan Slank, band yang muncul dan melejit –dan jadi idola baru– dua tahun sebelumnya.
Slank menggebrak lewat lagu ‘Suit-Suit... He-He (Gadis Sexy)’. Sebuah revolusi dalam rock Indonesia. Selain ‘Suit-Suit... He-He (Gadis Sexy)’, yang sekaligus dijadikan judul album, juga terdapat lagu ‘Memang’, ‘Maafkan’, ‘Aku Gila’, ‘Apatis Blues’, dan ‘Ladies Night di Ebony’. Rock yang lebih lepas dan bebas, baik dalam musikalitas maupun lirik. Slank memasukkan idiom-idiom keseharian dalam lirik mereka.
Filosofi ini kian menguat di album kedua, Kampungan, rilis tahun 1991. Saat ‘Kangen’ mulai mengudara, televisi dan –terutama sekali– stasiun-stasiun radio, masih rutin memutar ‘Mawar Merah’ dan ‘Terlalu Manis’, dua hits terbesar dari album tersebut.
Dan kontras, memang. Dibanding hits Slank, 'Kangen' terasa jauh lebih tertib. Musikalitasnya rapi; sangat terukur, dan liriknya ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, seturut kaidah dalam KBBI.
Saya tidak suka. Saya lebih suka Slank. Lebih suka Power Metal. Lebih suka Roxx, yang bulan Agustus di tahun yang sama, menelurkan album (Black Album) yang antara lain memuat lagu yang kemudian menjadi legendaris, ‘Rock Bergema’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dewa193.jpg)