Berita Medan

Sri Murni Pilah Sampah Plastik untuk Beli Baju Lebaran dengan Menabung di Bank Sampah Citra Aur

Sri Murni Rahayu (37 tahun) tersenyum menceritakan usahanya memilah sampah plastik demi membeli baju Lebaran

|
Penulis: Hendrik Naipospos | Editor: Array A Argus
Tribun Medan
Sri Murni Rahayu (37 tahun) memperlihatkan saldo tabungannya di Bank Sampah Citra Aur, Senin (13/2/2023) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Sri Murni Rahayu (37 tahun) tersenyum menceritakan usahanya memilah sampah plastik demi membeli baju Lebaran.

Hidup di sekitar bantaran Sungai Deli membuat ia berdampingan dengan sampah, ia pun belajar memilah sampah agar bernilai ekonomis dan tidak merusak lingkungan hingga akhirnya Murni memutuskan menjadi nasabah Bank Sampah Citra Aur di Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara.

“Saya menjadi nasabah sejak September 2022, awalnya berpikir daripada (sampah) merusak lingkungan lebih bagus saya pilah, kalau sudah banyak, ditabung (jual) ke Bank Sampah Citra Aur,” ucap Murni kepada wartawan Tribun Medan, Senin (13/2/2023).

Murni memperlihatkan buku tabungannya setelah lima bulan rutin memilah sampah, ia sudah memiliki saldo Rp 305 ribu.

“Target saya Rp 1 juta bisa terkumpul sebelum lebaran, kan lumayan sampah plastik bisa membeli baju lebaran nanti,” tuturnya tersenyum.

Saban hari ia bekerja sebagai loper koran, tanpa sadar hobi memilah sampah perlahan membantu perekonomian keluarganya.

Syafri Tanjung di Bank Sampah Citra Aur
Pengelola Bank Sampah Citra Aur, Syafri Tanjung (51 tahun), saat menimbang sampah milik nasabahnya, Senin (13/2/2023).

Pengelola Bank Sampah Citra Aur, Syafri Tanjung (51 tahun), menyebutkan setiap bulan minimal ada 50 kg sampah plastik yang diterima pihaknya.

Sampah plastik tersebut adalah tabungan dari 52 nasabah, ia memberikan harga Rp 700 per kilo.

“Ini bagian dari konsep PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), mengedukasi warga kalau memilah sampah bisa menghasilkan duit sehingga sampah plastik di lingkungan kami tidak terbuang lagi ke Sungai Deli,” jelas Syafri.

Syafri Tanjung menjelaskan untuk menyadarkan warga agar mau memilah sampah bukan hal mudah karena memerlukan relawan tanpa digaji.

“Awalnya kami diedukasi oleh rekan-rekan dari Roda Hijau dan Pemko Medan, sekarang kami mulai menerapkan di lingkungan ini. Memang sulit karena pergerakan ini adalah aksi sosial, belum ada gaji untuk para kader,” ucapnya.

Diwawancarai secara terpisah, Co-founder Roda Hijau, Nona Khairunisa (32 tahun), menceritakan jika pihaknya kini menggalakkan program Medan Mulai Memilah, di antaranya dengan mengedukasi masyarakat pentingnya memilah sampah, menggagas pembentukan bank sampah dan menyediakan fasilitas jasa angkut sampah gratis bagi masyarakat perkotaan.

“Sampah itu bermasalah karena tidak dipilah, kita edukasi masyarakat untuk memilah sampah dengan harapan bisa menjadi gaya hidup baru demi lingkungan yang sehat,” tutur Nona.

“Dengan program ini sampah yang awalnya tidak terolah sekarang sudah dikelola sehingga hanya sampah residu yang berakhir ke TPA,” sambungnya lagi.

Roda Hijau juga melakukan edukasi ke sekolah-sekolah sebagai upaya membentuk kesadaran pengelolaan sampah sejak dini, hal ini dinilai cukup penting guna mencipatakan pemahaman secara merata kepada seluruh lapisan untuk meningkatkan kesadaran berpikir kritis dan berorientasi solusi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved