Artis Soimah Murka, Didatangi Petugas Pajak Bawa Debt Colector, Gebrak Meja Bak Preman
Sejak heboh dan mencuatnya kasus pegawai pajak memiliki harga berlimpah Rapael Alun, mulai
TRIBUN-MEDAN.com - Sejak heboh dan mencuatnya kasus pegawai pajak memiliki harga berlimpah Rapael Alun, mulai banyak yang membuka suara terkait ulah para pegawai pajak.
Beberapa waktu lalu, seorang Komika, Babe Cabita pernah mengungkapkan dirinya mendapat pengalaman tak enak dengan pajak.
Ia sudah membayar pajak tetapi masih saja dikenakan denda karena kurangnya informasi.
Babe mencoba mendapat keringanan untuk membayar dendanya dengan meminta pengurangan atau penghapusan.
Baca juga: Cerita Penghuni Kos Tempat Mahasiswi Polmed Ditikam Pria Misterius Hingga Tewas
Baca juga: Terjawab Isu Keretakan Rumah Tangga Ria Ricis, Ustazah Oki Akhirnya Buka Suara : Rame Ya
"Halo @DitjenPajakRI mumpung lagi rame aku juga mau minta tolong, aku sudah bayar pajak terhutang (kurang bayar) tahun 2019 sebesar 167 juta.”
“Karena aku kemarin kurang edukasi dan ternyata masih harus bayar dendanya 70 juta. Ampuuun. Dendanya bisa dihapus gak?" katanya dikutip dari tribunmedan.com.
Sayangnya, upayanya itu gagal. Direktorat Pajak menolak permohonannya.
Sebagai warga negara yang taat pajak, dan takut di pidana, Babe pun terpaksa menjual aset-asetnya demi membayar denda pajak tersebut.
Rupanya hal tak mengenakkan dengan pajak dialami juga oleh artis Soimah Pancawati atau Soimah sebagaimana dikutip dari kompas.com.
Baca juga: Wakapolres Tanjungbalai Salat Isya dan Tarawih Sembari Berikan Tausiyah Agama
Petugas pajak tiba-tiba tanpa seizinnya sudah berada di depan pintu rumahnya menagih pajak.
Bahkan kata Soimah, seolah dirinya penjahat, petugas pajak tersebut membawa debt collector untuk menagih pajaknya.
"Tahun 2015, datang ke rumah, orang pajak buka pagar tanpa kulonuwun (permisi) tiba-tiba di depan pintu yang seakan-akan saya mau melarikan diri," ujar Soimah dikutip dari YouTube Blakasuta.
Soimah juga merasa dirinya selalu dicurigai oleh petugas pajak atas apapun yang dilakukan.
Baca juga: Diam-diam Bangun Pabrik Bisnis di Kaltim, Anak Bocorkan Rencana Besar Ida Dayak
Bahkan Soimah harus menyimpan semua nota pengeluarannya.
"Waktu itu awal-awal sukses, kalau banyak uang, tugas saya pertama membahagiakan, membantu keluarga, masak bantu keluarga enggak boleh? Dijaluki (dimintai) nota mas," kata Soimah.
"Lha masak aku bantu saudara pakai nota, jadi enggak percaya 'masak bantu saudara segini besarnya', yo sak karepku to (terserah aku dong). Jadi harus pakai nota, itu tahun 2015," imbuhnya.
Bukan itu saja, pendopo yang saat itu belum selesai dibangun, yang tujuannya dibangun adalah untuk mewadahi para seniman, juga tak luput dari penilaian pajak.
"Ini pendopo belum jadi, udah dikelilingi sama orang pajak. Didatangi, diukur, dari jam 10.00 pagi sampai jam 05.00 sore, ngukuri pendopo," ujar Soimah.
"Ini tuh orang pajak atau tukang? Kok ngukur jam 10 pagi sampai jam 5 sore, arep ngopo (mau ngapain). Akhirnya pendopo itu di appraisal hampir Rp 50 miliar, padahal saya bikin aja belum tahu total habisnya berapa," lanjutnya.
Saat tahu pendopo yang dibangunnya dinilai hampir Rp 50 miliar, Soimah merasa bingung, antara sedih atau senang.
"Di sisi lain saya sedih, kok bisa begitu, di sisi lain saya senang. Senangnya gini, kalau itu laku Rp 50 miliar, tukunen, aku untung nanti aku baru bayar pajak, tukunen nek payu Rp 50 miliar," ucap Soimah.
Soimah juga mengungkap sikap oknum petugas pajak yang mendatangi rumahnya di Jogja bersama debt collector.
Dia dituding sengaja menghindari petugas pajak dengan selalu tidak ada di rumah, padahal Soimah memang sedang bekerja di Jakarta.
"Jadi posisi saya sering di Jakarta, di rumah alamat KTP kan ditempat mertua saya, selalu didatangi, bapak selalu dapat surat, bapak kan kepikiran, enggak ngerti apa-apa," kata Soimah.
"Akhirnya datang orang pajak ke tempat kakak saya, bawa debt collector, bawa dua, gebrak meja, itu di rumah kakak saya," lanjutnya.
Walaupun menyayangkan tindakan oknum petugas pajak tersebut, Soimah mengatakan dirinya tetap taat bayar pajak.
" Soimah enggak bakal lari kok, bisa dicari, jangan khawatir, bayar pasti bayar, tapi perlakukan lah dengan baik," ucap Soimah.
"Saya kerja hasil jerih payah, proses panjang, keringat saya sendiri, bukan hasil maling, bukan hasil korupsi, kok saya diperlakukan seakan-akan saya ba****an, saya ini koruptor," sesalnya.
(*/Tribun-Medan.com)
Artikel ini telah tayang di Bangkapos.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Luapkan-Rasa-Kecewa-kepada-Rizky-Billar-Soimah-Ungkap-Kondisi-Lesti-Kejora-Usai-Jadi-Korban-KDRT.jpg)