Breaking News

Gempa Mentawai

WASPADA Gempa Mentawai Berkarakteristik Megathrust, BMKG: Peringatan Tsunami Diakhiri Bukan Dicabut

Update kondisi gempa yang baru saja terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (25/5/2023) pagi tadi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Salomo Tarigan

TRIBUN-MEDAN.com - Update kondisi gempa yang baru saja terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (25/5/2023) pagi tadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan karakteristik gempa magnitudo (M) 6,9 (direvisi semula 7,3 Mag) yang terjadi di Kepulauan Mentawai.

"Karakteristik gempa megathrust dengan mekanisme naik (thrust fault) di bidang kontak antarlempeng di kedalaman 23 Km," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di akun Twitter-nya, Selasa (25/5/2023).

Daryono mengatakan berdasarkan hasil pengamatan tinggi muka laut, ketinggian tsunami di lokasi Tanah Bala, dengan ketinggian tsunami 11 Cm.

Daryono menambahkan pihaknya sudah mengakhiri peringatan dini tsunami dampak gempa M 6,9 di Mentawai.

“Peringatan dini tsunami gempa M 6,9 di Mentawai-Siberut diakhiri bukan dicabut," kata Daryono.

Sebelumnya,dalam keterangan tertulis  Daryono menjelaskan kronologi kejadian gempa bumi yang dinyatakan berpotensi tsunami.

"Hari Selasa (25/4/2023) pukul 03.00.57 WIB wilayah Pantai Barat Sumatera diguncang gempa tektonik," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (25/4/2023).

"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6.9. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0,94° LS ; 98,38 derajat BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 177 kilometer Barat Laut Kepulauan Mentawai Sumatera Barat pada kedalaman 23 kilometer," sambungnya.

Ia mengutarakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," terangnya.

Selanjutnya, ia jelaskan perihal dampak gempa tersebut.

"Gempabumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Siberut, Mentawai dengan skala intensitas VI MMI atau getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan," tuturnya.

"Daerah Pasaman Barat, Padang Pariaman, Agam dan Padang dengan skala intensitas V MMI atau getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti," ungkapnya.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami. Daerah yang berpotensi terdampak tsunami dengan status waspada di daerah Nias Selatan, Pulau Tanabala Sumatera Utara," tambahnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved