Kakak Beradik Putus Sekolah

Miris, Gegara Tak Punya Kendaraan Antar Anak Sekolah, Kakak Beradik ini Terpaksa Putus Pendidikan

Aris mengatakan, anaknya tidak lagi sekolah karena jarak tempuh untuk sekolah cukup jauh. 

Tayang:
Editor: Satia
Tribunlampung.co.id
Aris Mugiarto (46) dan kedua anaknya yang putus sekolah karena tidak punya biaya dan kendaraan mengantar 

"Berjalannya waktu anak pertama saya ini melanjutkan lagi untuk sekolah, berbarengan dengan adiknya Satria,"

"Jadi sampai duduk di kelas V mereka itu harus berhenti karena faktor ekonomi dan sampai sekarang mereka tidak mengenyam pendidikan," terangnya.

Anaknya yang satu lagi seharusnya umur 8 tahun sekolah kelas II tapi ini tidak bersekolah karena kembali faktor ekonomi. 

"Selain faktor ekonomi bahwa kami juga tidak ada alat transportasi dan akomodasi untuk antar anak kami pulang pergi ke sekolahnya," imbuhnya.

Baca juga: Siswi SD Buta Usai Dicolok Kakak Kelas Pakai Tusuk Bakso Ternyata Korban Palak, Uang Selalu Dirampas

Aris yang bekerja sebagai mekanik elektronik ini mengatakan, dirinya bersama keluarga saat ini tinggal di Way Kandis.

Anaknya tersebut sekolah di Tanjungkarang Timur dan cukup jauh jarak tempuhnya. 

"Sementara saya tidak ada penghasilan lain, selain menerima jasa service elektronik. Dulu saya ada motor tetapi sekarang saya harus menjual karena untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga kami," kata Aris. 

Ia menjelaskan, anaknya tidak sekolah bukan karena permasalahan uang komite dan itu tidak benar.

Anak harus berhenti sekolah karena persoalan tidak ada alat transportasi dan selain itu faktor ekonomi.

"Apalagi usaha elektronik saya terganggu terutama pada saat Covid-19, usaha saya hancur. Jadi saya mulai nol lagi untuk usaha ini yang hanya di rumah saja menunggu orang mau service alat elektroniknya," kata Aris. 

Baca juga: Viral, Supir Taksi Online Memaki Penumpangnya Hanya Karena Tak Diizinkan Mampir ke Laundry

Diinya tidak memiliki penghasilan tetap hanya dapat service kalau service dapat Rp 100 ribu setiap kali orang membetulkan elektronik. 

"Saya tidak ada kendaraan dan biaya untuk antar anak sekolah, makanya saya minta anak untuk sementara berhenti sekolah dulu, " kata Aris.

Pihaknya juga tidak pernah mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) atau bantuan-bantuan lainnya.

"Saya itu tidak pernah sama sekali mendapatkan bantuan dari siapapun," kata Aris. 

Aris mengatakan, dirinya kolef usahanga dan motor dijual untuk menyambung biaya hidup. 

"Anak kami terpaksa berhenti sekolah karena kaki makan saja senin kamis," kata Aris. 

 

Artikel ini Tayang di Tribun Lampung

Baca Berita Tribun Medan Lainnya di Google News

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved