Tribun Wiki
Sejarah Lompat Batu dan Cikal Bakal Desa Bawomataluo di Nias Selatan
Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan adalah permukiman yang kerap dijadikan lokasi kunjungan wisata
Wilayah desa tersebut dibumihanguskan oleh penjajah.
Bermigrasi
Karena Desa Orahili Fau sudah hancur, pemimpin masyarakat bernama Owatua kemudian membawa anak-anaknya, yakni Lahelu’u, Bofõna, Fõna Oli’õ, dan Tuha Geho beserta cucu-cucunya dan penduduk pindah ke daerah Mazinõ.
Tidak lama mereka tinggal di daerah Mazinõ, tahun 1886 mereka pindah ke daerah bernama Barujõ Sifaedo antara Desa Hili Nawalõ Fau dan Hili Nawalõ Mazinõ.
Mereka tinggal selama lima tahun.
Baca juga: Sejarah Buah Semangka Simbol Perlawanan Palestina Terhadap Israel
Karena kesulitan mendapatkan sumber air bersih, jauh dari laut dan dikelilingi oleh jurang terjal, maka pada tahun 1871, mereka kembali pindah, kali ini ke bukit Fanayama (sekarang tepat berada di belakang Puskesmas Bawõmataluo) selama tiga tahun.
Pada tahun 1873, atas saran dari Ere (Imam Besar adat) dianjurkan pindah ke bukit Hili Soroma Luo yang sekarang dikenal dengan Desa Bawõmataluo.
Mulai pada saat itu, keempat bersaudara anak Owatua (Lahelu’u, Bofona, Fona Oli’õ dan Tuha Geho) mulai membangun dan menata Hili Soroma Luo (Desa Bawõmataluo).
Sampai saat ini, keturunan dari keempat bersaudara anak Owatua itulah yang menjadi pewaris tahta Si’ulu (bangsawan) di Desa Bawõmataluo.
Baca juga: Sejarah Gedung Bank Indonesia di Medan yang Dulunya Bank Belanda
Menurut catatan, nama Bawomataluo berarti "Bukit Matahari", dan merupakan salah satu desa yang paling terpelihara dan dibangun dengan gaya tradisional.
Permukiman ini dibangun di sekitar monumen megalitik yang diposisikan dalam arah vertikal dan horizontal.
Secara lokal, masing-masing disebut daro-daro dan naitaro.
Daro-daro melambangkan laki-laki dan naitaro melambangkan perempuan.
Lokasi pemakaman tempat ditemukannya batu-batu tersebut berada di lahan bertingkat yang didekati dengan menaiki 7 anak tangga batu pada tahap pertama dan 70 anak tangga pada tahap kedua (disebutkan juga total 80 anak tangga).
Di sini juga terdapat fitur batu di area terbuka yang merupakan bagian dari ritual adat.
Dua jalan beraspal batu disejajarkan di kedua sisi batu megalitik, yang masing-masing membentang sepanjang sekitar 300 meter (980 kaki), berakhir di rumah Ketua atau Raja masyarakat, di ujung barat daya pemukiman; rumah berukuran 19 kali 30 meter (62 kaki × 98 kaki).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/lompat-batu_20180127_180449.jpg)