Berita Viral

SOSOK W, Guru SD yang Ajak Sekeluarga Akhiri Hidup, Dikenal Ramah dan Taat Ibadah, Sisakan 1 Anak

Inilah sosok W (40), guru SD yang ditemukan meninggal sekeluarga bersama istri SL (38), dan anaknya ARE (12).

Editor: Liska Rahayu
HO
Kasus guru SD bunuh dan keluarganya bunuh diri di Malang membuat heboh warga.  

"Kalau sehari-harinya, aktifnya kerja, pulangnya bisa sampai malam," ungkap Iswahyudi.

Karena aktivitas di sekolah itu, membuat W jarang bersosialisasi dengan warga setempat.

"Dulu, ngelesi (membuka les privat)," katanya.

Rumah tempat W, istri dan anaknya meregang nyawa itu ternyata bukan rumah pribadi mereka.

Guru SD ini indekos di rumah itu lebih dari 7 tahun silam.

"Mulai anaknya belum sekolah, dia sudah ngekos di sini," katanya.

Dijelaskan Iswahyudi, si kembar AKE dan kakaknya kini masih duduk di bangku SMP, hanya keduanya bersekolah di tempat berbeda.

Si kembar juga jarang ke luar rumah dan bergaul dengan warga setempat.

Sementara SL adalah ibu rumah tangga.

Lalu, bagaimana hubungan keluarga ini?

Sepengetahuan Iswahyudi, keluarga ini harmonis dan tidak ada masalah.

"Aman, gak ada masalah," tegasnya. 

Kronologi Kejadian

Iswahyudi, Ketua RT 03/RW 10 Dusun Boro Bugis, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, menuturkan, warga mengetahui tragedi tersebut saat anak sulung korban, berteriak meminta tolong.

Sepertinya, permintaan tolong ini disampaikan anak tersebut atas perintah sang ayah yang saat ditemukan masih hidup.

Mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumah, tetangga pun berdatangan.

Namun, warga sempat kesulitan masuk karena ternyata pintu dikunci dari dalam.

Akhirnya warga pun berhasil memasuki rumah tersebut dan mendapati korban di dalam kamar.

"Yang saya tahu, pak Wahab masih hidup saat ditemukan, terus dibawa ke rumah sakit. Setengah jam kemudian, meninggal. Kalau yang dua orang (istri dan anak), saya tidak tahu," kata Iswahyudi.

Dia menyampaikan pula, informasi yang dia dapatkan dari warga lain, keempat orang dalam keluarga itu tidur dalam satu kamar.

"Namun, satu anaknya diminta pindah tidur ke depan. jadi di kamar yang tidur 3 orang," lanjutnya.

Iswahyudi tak tahu persis apa yang memicu tragedi itu. Apalagi, sebelumnya sama sekali tak ada tanda-tanda semacam keributan di rumah tersebut.

Sehari-hari, Wahab juga tampak lebih sibuk bekerja.

"Dia (Wahab) itu aktifnya bekerja. Jadi sampai malam. Kadang ngelesi. Setahu saya (keluarganya) aman, gak ada masalah," sambungnya.

Kata dia lagi, korban dan keluarganya sebenarnya bukan warga asli desa tersebut. Di rumah tersebut, mereka indekos.

"Mereka ngekos di rumah itu. Sudah 7 tahun. Mulai anaknya masih kecil belum sekolah, sampai SMP," lanjutnya.

Disclaimer: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

(*/TRIBUN-MEDAN.com) 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter

 

Artikel ini telah tayang di Sripoku.com

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved