Breaking News

Berita Viral

Profil Dee Company, PH Film Dosen Gaib Dikecam Warganet Diduga Eksploitasi Kasus Bullying PPDS

Dee Company adalah rumah produksi atau production house milik Dheeraj Kalwani yang kini dikecam karena diduga eksploitasi kasus bullying PPDS

Editor: Array A Argus
Twitter
Dee Company dikecam warganet diduga eksploitasi kasus kematian mahasiswi sebagai promo film 

 TRIBUN-MEDAN.COM,- Dee Company atau PT Dee Sukses Indonesia adalah rumah produksi atau production house (PH) yang didirikan oleh Dheeraj Kalwani.

Sebelum menggunakan nama Dee Company, perusahaan ini bernama K2K Pictures yang berdiri tahun 2007 silam.

Kemudian, di tahun 2017, barulah K2K berganti nama menjadi Dee Company hingga sekarang.

Baru-baru ini, rumah produksi tersebut dikecam warganet.

Sebab, rumah produksi ini dituding telah mengeksploitasi kasus dugaan bullying yang terjadi di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Kematian dr Aulia Risma Lestari, menurut warganet, menjadi bahan promosi film Dosen Gaib: Sudah Malam Atau Sudah Tahu yang digarap dee Company.

Tak pelak, kasus ini pun ramai dibahas di Twitter dan beberapa media sosial lainnya.

Warganet menyebut bahwa pihak yang memanfaatkan kematian mahasiswi Undip tersebut sangat tidak beretika.

Bahkan, warganet menyebut bahwa PH tersebut tidak berempati atas kasus dugaan bullying yang dialami korbannya.

Dikutip dari CNN Indonesia, Dheeraj Kalwani selaku produser mengatakan bahwa postingan yang diunggah soal promosi film Dosen Gaib merupakan kesalahan dari tim publish.

Deeraj mengatakan, postingan tersebut sudah dihapus.

"Kesalahan dari tim publisis, sudah langsung saya tegur dan marahi, dan langsung diturunkan kemarin siang (18/8)," kata Dheeraj.

Ditengah kecaman warganet itu, sutradara dan kreator film langganan box office Indonesia, Joko Anwar ikut buka suara.

Namun, Joko Anwar tak menyebut spesifik nama rumah produksi yang sengaja diduga mengeksploitasi tragedi untuk materi promosi filmnya.

Hanya saja, Joko Anwar mengecam tindakan tersebut.

Ia menilai bahwa rumah produksi dimaksud kurang berempati dan tidak memiliki kepekaan terhadap kemalangan yang menimpa orang lain.

"Mau protes ke PH yang gunain tragedi buat materi promo filmnya tetapi males. Enggak bakal paham juga mereka kenapa itu perbuatan yang sangat tak berhati dan tak beretika, karena kemungkinan besar mereka enggak punya," tulis Joko Anwar dalam unggahan di akun Instagramnya pada Minggu (18/8/2024).

Tidak hanya Joko Anwar, rekan seprofesinya di industri film, Ernest Prakasa juga menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap tindakan PH tersebut.

Ernest menyoroti track record buruk dari rumah produksi itu, dan menyentil perilaku produser yang dianggap kontroversial.

"Lagi pada heboh sama kelakuan produser yang kontroversial itu. Jujur, kalo lo liat track record dia dari dahulu, yang barusan ini mah enggak ada apa-apanya," cuit Ernest melalui akun X-nya pada hari yang sama.

Profil Dee Company

Dee Company didirkan oleh Dheeraj Kalwani, produser film keturunan India. 

Pria bernama asli KK Dheeraj itu telah banyak memproduksi berbagai film horor dan komedi.

Beberapa di antaranya adalah Siksa Neraka, Makmum, Selebgram, Generasi Kocak, dan lain sebagainya.

Dilansir dari sejumlah sumber, Dheeraj Kalwani lahir pada 23 Agustus 1985 di Indonesia.

Ayahnya merupakan pemilik pabrik keramik di Gunung Putri, Bogor.

Sedangkan sang ibu adalah pedagang berlian.

Saat memasuki bangku SMA, Dheeraj merasa enggan untuk meneruskan usaha orang tuanya.

Dia justru tertarik pada industri kreatif, dan belajar tentang film di India selama dua tahun.

Pada 2007, K2K Pictures pun didirikan Dheeraj, sebelum berganti nama menjadi Dee Company.

Dheeraj mulai aktif menjadi produser pada 2007 lalu.

Dirinya sudah memproduseri sejumlah film sukses, seperti Genderuwo (2007), Mr.Bean Kesurupan Depe (2012), Jokowi (2013), Malam Suro di Rumah Darmo (2014). 

Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati, Rasuk, Makmum, Mumun, Khanzab, Siksa Neraka dan terakhir Vina: Sebelum 7 Hari.

Dilaporkan ke Bareskrim

Deheeraj Kalwani adalah produser film Vina: Sebelum 7 Hari.

Ia sempat dilaporkan ke Bareskrim Polri karena dianggap bikin gaduh.

Sejumlah orang yang tergabung dalam asosiasi Lawyer Muslim Indonesia atau Almi melaporkan produser dalam film yang berjudul Vina sebelum 7 hari.

Selain kegaduhan di tengah masyarakat, mereka menilai film ini juga menimbulkan narasi negatif terhadap penanganan proses pidana yang telah ditangani pihak kepolisian.

Aliansi Lawyer Muslim Indonesia (ALMI) melaporkan produser Film Vina: Sebelum 7 Hari ke Mabes Polri karena dinilai bikin gaduh.

Sekretaris Jenderal ALMI, Muallim Bahar mengungkapkan alasan asosiasinya mengadukan film tersebut ke kepolisian.

“Jadi hari ini kami sudah konsultasi di Penyidik Siber Mabes Polri terkait dengan film Vina ini yang lagi viral,” ujar Muallim Bahar dilansir Tribun-medan.com dari GRID.ID, Rabu (29/5/2024).

“Kami dari ALMI ini melaporkan itu karena kami anggap, kami duga membuat kegaduhan di dunia publik, baik di sosial media atau yang lain-lain,” terangnya.

Terlebih, menurut pihak ALMI, kasus kematian Vina saat ini masih dalam proses penyidikan.

“Proses penyidikan segera berjalan di Polda Jawa Barat yang belum berkekuatan hukum tetap,” tutupnya.

Ketua ALMI, Zainul Arifin pun menerangkan, pasal yang diduga bisa menjadi dasar hal ini memiliki delik pidana.

“Maka dari itu poinnya ada dua, pertama ada delik pidana dalam hal ini UU ITE pasal 28 ayat 2, kemudian yang kedua pasal 31 UU Perfilman,” terangnya.

“Ada dua ranah yang bisa diambil oleh penegak hukum dan juga pemerintah terkait dengan tindak pidana yang mengandung SARA dan membuat kegaduhan,” tutupnya.

 Seperti diketahui, tayangnya film ‘Vina: Sebelum 7 Hari' seolah membangkitkan lagi kasus yang belum selesai namun sudah ditutup.

Setelah film Vina: Sebelum 7 Hari tayang, pihak kepolisian kembali mengumumkan 3 DPO kasus kematian Vina, gadis 16 tahun yang meregang nyawa akibat dianiaya dan dilecehkan secara seksual.(tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved