Berita Viral
NASIB Pilu Ratna Sari Pulang Naik Motor Warga, Baru Melahirkan 2 Hari, Minta Ambulans Tak Direspons
Sebuah peristiwa miris dialami seorang ibu yang melahirkan di RSUD Tarempa Kepulauan Anambas, Riau.
TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah peristiwa miris dialami seorang ibu yang melahirkan di RSUD Tarempa Kepulauan Anambas, Riau.
Ibu bernama Ratna Sari (33) membuat pilu warganet, sebab baru dua hari melahirkan di rumah sakit pulang dengan naik sepeda motor.
Pada video yang beredar, Ratna mengaku sempat meminta ambulas dari rumah sakit tetapi tak digubris.
Ia kecewa dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit ia dirawat selama persalinan.
Ratna merasa tidak nyaman dengan tindakan penanganan medis di RSUD Tarempa.
Baru dua hari pasca menjalani operasi, Ratna diketahui diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Ratna pun mencoba meminta ambulans untuk diantarkan pulang ke Pelabuhan Tarempa.
Warga asal Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, tersebut awalnya meminta penggunaan ambulans untuk mengantarnya ke rumah usai melahirkan secara caesar.
Alih-alih diberikan oleh petugas medis terkait, permintaan Ratna justru tak diindahkan, karena pengantaran bertepatan dengan waktu istirahat siang.
"Awalnya bidannya bilang lagi jam istirahat dan kalau misalnya bersurat baru bisa diantar jemput," ungkap Ratna, Senin (16/9/2024).
Baca juga: PDIP Usulkan Lima nama Calon Ketua DPRD Medan, Berikut Nama-namanya
Baca juga: Rutan Kelas I Medan Terima Kunjungan Diryantah Ditjenpas Kemenkumham RI
Akhirnya Ratna diantar pulang oleh seorang warga dengan menaiki kendaraan sepeda motor sambil menggendong bayinya.
Sebab ia tak ingin memperpanjang pembahasan dan dikejar jadwal keberangkatan kapal pompong,
"Orang rumah sakit itu tahu kalau saya habis operasi. Saya ngalah saja dan paksa naik motor ke pelabuhan, yang penting saya pulang lah," bebernya.
Pihak rumah sakit pun akhirnya menanggapi hal tersebut.
Kepala Ruangan Kebidanan, Meri, mengaku belum mendapat informasi yang pasti mengenai peristiwa tersebut.
Kepada Tribun Batam, ia mengaku sedang tidak bertugas karena jadwal libur.
Menurut dia, jika ada pasien khususnya bersalin dan ingin diantar jemput, pihaknya selalu memfasilitasi dengan ambulans.
Anggota yang bertugas di ruang kebidanan, sebutnya, selalu berkoordinasi dengannya apabila memberikan layanan penanganan pasien bersalin.
"Jadi kalau ada pernyataan seperti itu, tidak cocok deh bang," tuturnya.
Baca juga: 4 Pria di Dairi Dianiaya karena Permasalahan Wanita, Pelaku Sempat Todongkan Soft Gun
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kapolres Langkat Santuni Anak Yatim
Ia menegaskan kembali, pada kejadian ini, anggota yang bertugas di ruangan belum ada menyampaikan kepadanya.
"Tidak ada harus pakai surat. Insyaallah kalau ada pasien kami mau pulang, ambulans selalu stand by."
"Kalau informasinya belum sampai ke saya. Kalau ada pasien yang mau diantar jemput, pasti anggota bilang ke saya dulu," ungkapnya.
Terpisah, Humas RSUD Tarempa, Januardi mengatakan, persoalan yang menimpa Ratna hanya kesalahpahaman.
Dijelaskannya, setiap kali ada pasien yang ingin diantar pulang, petugas medis akan melakukan komunikasi dengan bagian ambulans.
"Saya sudah konformasi ke petugas ambulance tidak ada dihubungi. Mereka itu selalu stand by. Jika ada petugas medis hubungi biasanya mereka lansung bergerak," terangnya.
Dalam prosedur RSUD Tarempa, kata pria yang akrab disapa Adi tersebut, pengantaran dan penjemputan pasien dengan ambulans bukanlah suatu keharusan atau kewajiban.
Namun karena kebiasaan layanan lebih, dengan melihat faktor penyakit yang diderita pasien hingga tak mampu, maka ambulans dioperasikan.
"Walaupun seharusnya tidak diantar pulang, kita tetap antarkan. Karena sudah menjadi budaya di sini. Kita di sini hanya jalankan prosedur," tutupnya.
Kasus lain di tempat berbeda, seorang pasien BPJS penderita kanker payudara bernama Irmawati dikabarkan mendapat pelayanan kurang menyenangkan.
Pasalnya Irmawati dipulangkan oleh pihak rumah sakit ke rumah padahal dirinya belum sembuh.
Irmawati dipulangkan setelah menjalani perawatan di RS selama sepekan.
Peristiwa ini terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lanto Daeng Pasewang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Keluarga pasien, Rahma menuturkan, Irmawati dipulangkan setelah menjalani perawatan selama sepekan.
"Iya, pada 7 September pasien diminta oleh pihak rumah sakit untuk pulang dulu ke rumah," kata Rahma, Rabu (11/9/2024).
"Dan bisa kembali ke rumah sakit setelah tiga hari kemudian," sambungnya.
Alasan rumah sakit meminta Irmawati pulang lantaran klaim BPJS yang sudah menghampiri Rp11 juta.
Padahal sang pasien masih membutuhkan pelayanan dan dikhawatirkan semakin kritis.
"Itu kan kondisinya tidak memungkinkan untuk dipulangkan karena kondisinya lemah sekali dan otomatis sudah tidak mendapat pelayanan sama sekali," jelas Rahma.
Saat itu, kata Rahma, pihak keluarga hendak merujuk Irmawati ke RS Bhayangkara Makassar.
Namun status pasien telah berubah menjadi pasien dipulangkan.
Alhasil Irmawati harus kembali ke rumah dan menunggu waktu tiga hari ke depan.
"Sabtu disuruh pulang, berarti kembali hari Selasa tiga hari kemudian (di RSUD Lanto)," ucapnya.
Singkat cerita, pada Selasa (10/9/2024), Irmawati kembali dibawa ke RSUD Lanto Daeng Pasewang sesuai anjuran pihak rumah sakit.
Setibanya, pihak rumah sakit mengaku bahwa status Irmawati baru tercatat sebagai pasien dipulangkan dan bukan pasien baru.
"Kalau hari Selasa baru terhitung status dipulangkan, lantas waktu hari Sabtu itu statusnya apa waktu kami minta dipulangkan?" kata Rahma dengan nada kesal kepada Tribun Timur.
"Kenapa memang itu tiga hari nusuruh pulang? Kenapa memang itu tiga hari sebelumnya tidak ada tindakanmi, pemberitahuan?" tambahnya.
Atas pelayanan kurang menyenangkan tersebut, Rahma lantas menghubungi Pj Bupati Jeneponto, Junaedi Bakri.
Irmawati akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara, Makassar, Selasa (10/9/2024) malam, atas instruksi Junaedi Bakri.
"Alhamdulillah, betul Pak Pj Bupati sudah buktikan."
"Dan Irmawati sudah dirujukmi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar," tutup Rahma.
Sebagai informasi, Pj Bupati Jeneponto Junaedi Bakri memang kerap mengingatkan petugas kesehatan untuk mendahulukan pelayanan dibandingkan pengurusan administrasi bagi pasien.
Seperti yang pernah dilontarkan Junaedi dalam acara pembukaan MTQ di depan kantor Desa Balumbungan, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto, 22 Maret 2024 lalu.
"Saya sampaikan kepada Kepala Puskesmas, kepala rumah sakit, Kepala Dinas Kesehatan, kalau ada keluarga atau warga masyarakat di Jeneponto yang sakit, tolong dilayani dengan cepat."
"Layani saja dulu, jangan dulu tanya KTP, KK, BPJS, itu persoalan belakangan," kata Junaedi Bakri yang diringi tepuk tangan masyarakat.
(*/tribun-medan.com)
RSUD Tarempa
melahirkan di RSUD Tarempa
melahirkan di rumah sakit pulang dengan naik seped
Tribun-medan.com
AHMAD SAHRONI Tolak Berdebat dengan Salsa Erwina Hutagalung Soal Gaji DPR, Kini Ngaku Bodoh:Ane Bego |
![]() |
---|
MIRIS Nasib Nurjanah Dikurung 15 Tahun Usai Dinikahi, Ruang 2 Meter Jadi Tempat Tidur Sampai BAB |
![]() |
---|
MAHFUD Saran UGM Tak Perlu Membela Jokowi di Kasus Ijazah: Gak Usah Bilang Jokowi Orangnya Gini |
![]() |
---|
Lisa Mariana Masih Ngotot Tes DNA Ulang, Hotman Paris Beri Sindiran Menohok: Lu Kira RK Itu Bodoh |
![]() |
---|
Gegara Tak Diberi Rp240 Ribu, Pemuda di Lubuklinggau Bakar Rumah Ibunya Lalu Sembunyi di Plafon |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.