Sumut Memilih

Persiapan Edy Rahmayadi Jelang Debat Kedua Calon Gubernur Sumut

Menjelang debat calon Gubernur Sumut nomor urut 2, Edy Rahmayadi mengaku tak ada persiapan khusus. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ANUGRAH
Gubernur Sumut nomor urut 2, Edy Rahmayadi saat hendak mengikuti debat calon Gubernur Sumatera Utara, Rabu (30/11/2024). 

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN- Debat calon Gubernur Sumatera Utara kedua akan dilaksanakan Rabu (6/11/2024).

Menjelang debat calon Gubernur Sumut nomor urut 2, Edy Rahmayadi mengaku tak ada persiapan khusus. 

Mantan Pangkostrad itu mengatakan debat calon Gubernur Sumut adalah pemaparan visi misi yang telah dia rencanakan bila terpilih sebagai Gubernur nantinya. 

"Saya tidak pernah mempersiapkan debat karena debat ini memaparkan visi dan misi, untuk kedepannya saya menjadi Gubernur," kata Edy Rahmayadi, Senin siang, (4/11/2024). 

Edy menyebut, saat ini terus fokus menemui masyarakat. Melalui kampanye dan pertemuan terbatas mantan Gubernur Sumut itu menemui seluruh masyarakat di Sumut. 

"Kampanye bagian dari demokrasi, kampanye untuk rakyat dapat memilih pemimpin terbaik," tuturnya. 

Mendekati pemilihan 27 November 2024, Edy mengatakan akan terus melakukan sosialisasi dan bertemu masyarakat. 

Dia mengatakan, kampanye adalah kunci untuk bisa memenangkan pemilihan kepala daerah. 

Edy Rahmayadi mengatakan banyak menerima masukan dan saran dari tokoh masyarakat, tokoh agama hingga kaum milenial, dalam pembangunan Sumut kedepannya. 

"Omongan kosong untuk dipilih rakyat tanpa berkampanye," sebut mantan Ketua Umum PSSI itu.

Debat kedua pasangan calon Gubernur Sumatera Utara akan berlangsung 6 November 2024. 

Berlangsung di hotel Santika Dyandra, kota Medan, debat kedua mengambil tema peningkatan daya saing daerah dan pembangunan berkelanjutan. 

Pada debat kedua KPU melibatkan 9 panelis. Mereka terdiri dari kalangan akademis, hingga wakil rektor. 

Ada pun sub tema debat yakni peningkatan infrastruktur, peningkatan investasi, kualitas SDM dan persoalan pengelolaan sumber daya alam. Kemudian peningkatan investasi daerah penanaman modal, penciptaan lapangan kerja dan penguatan sektor pariwisata. 

Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyelesaian persoalan daerah, pengelolaan sumber daya alam, degradasi lingkungan dan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, reboisasi hutan, pengelolaan persampahan, pencemaran air, tanah, dan udara, ketersediaan air bersih, industrialisasi dan amdal. 

Paslon Gubernur Edy-Hasan dan Bobby-Surya saat debat perdana Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgub Sumut) di Hotel Grand Mercure Medan, Rabu (30/10/2024).  
Paslon Gubernur Edy-Hasan dan Bobby-Surya saat debat perdana Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgub Sumut) di Hotel Grand Mercure Medan, Rabu (30/10/2024).   (TRIBUN MEDAN/ANUGRAH)

Debat perdana Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara 2024 di Hotel Grand Mercure, Kota Medan, Rabu (30/10) malam, berlangsung dengan tensi tinggi. 

Dua pasangan calon, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala dan Bobby Nasution-Surya, terlibat saling sindir dalam debat bertema Pelayanan Publik dan Kesejahteraan Sosial.

Meski begitu, jalannya debat berlangsung kondusif. Bahkan, debat ditutup dengan nuansa damai. 

Bobby terlihat sungkem kepada Edy di hadapan ratusan undangan. Hal itu dibalas Edy dengan menepuk perlahan lengan Bobby sembari menyalaminya. Suasana guyub juga terlihat saat Hasan Basri bersalaman dengan Surya.

Berikut fakta-fakta debat perdana Pilgub Sumut 2024 :

1. Sentilan SMA/SMK Tak Teraliri Listrik

Awal debat berlangsung dengan penyampaian visi misi dari dua pasangan calon. Momen ini dimanfaatkan Bobby Nasution dengan menyebutkan masih adanya SMA/SMK di Sumut yang tidak teraliri listrik.

Diketahui, SMA/SMK menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov). Adapun Edy Rahmayadi merupakan Gubernur Sumut pada periode lalu.

"Masih ada SMA/SMK yang tidak ada listrik, internet pun tidak ada," ujar Bobby. Jika terpilih menjadi Gubernur Sumut, Bobby bilang, akan menyelesaikan persoalan tersebut. Termasuk memberantas kutipan (pungutan liar). "Ada kutipan di SMA/SMK," tutur dia.

Merespons pernyataan tersebut, Edy balik menyentil Bobby. "Kalau tahu ada kutipan (pungli), kenapa tak dilaporkan," ungkap Edy.

Edy pun menceritakan tentang angka partisipasi murni (APM) siswa di Sumut. Sebagai gubernur Sumut, ia mengklaim berhasil membangun 24 SMK dan SMA. 

Jumlah itu, sambung Edy, memang belum optimal karena angka kebutuhannya mencapai 96 SMA/SMK. Untuk itu ia akan melanjutkan pembangunan di 33 kabupaten kota dengan bertahap, bertingkat, dan berlanjut dengan memprioritaskan APBD. 

"Anggaran pendidikan itu 20 persen, tapi (beberapa tahun lalu) berhenti karena refocusing anggaran Covid-19," beber Edy.

2. Bobby Puji Edy

Saat sesi tema Keterbukaan Informasi Publik, Bobby Nasution memberi pujian kepada Edy Rahmayadi karena Sumut masuk lima besar di Indonesia.

Meski begitu, Bobby menekankan pujian atas kinerja Edy selama menjabat Gubernur Sumut, sebatas bagian transparansi informasi publik.

"Pak Edy saya kali ini saya apresiasi kepemimpinan bapak sebagai Gubernur Sumatera Utara. Setahu saya keterbukaan publik Sumut masuk 5 besar di Indonesia. Izinkan saya mengapresiasi, untuk bagian ini saja," ucap Bobby. 

Bobby menambahkan Edy juga pernah memberi apresiasi kepada dirinya sebagai Wali Kota Medan.

Ke depan, Bobby menargetkan Sumut bisa menembus 3 besar tentang keterbukaan informasi publik. "Kami akan coba 3 besar di Indonesia. Ini perlu kita sampaikan untuk diketahui masyarakat," katanya. 

Menanggapi pernyataan Bobby, Hasan Basri mengapresiasi kejujuran menantu Presiden ke-7 Jokowi itu. "Terima kasih kepada Pak Bobby sudah berkata jujur," kata Hasan.

3. Masalah Kesehatan

Tensi panas terjadi saat Bobby membahas layanan kesehatan di Sumut. Awalnya, Bobby lebih dahulu pamer program Universal Health Coverage (UHC) Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) yang dicanangkan Pemko Medan.

"Kami di Medan sudah UHC. Dengan anggaran provinsi, sebenarnya Sumut bisa UHC, tapi di masa bapak lebih milih membeli gedung eks Medan Club yang harganya 400 miliar. Sedangkan masyarakat berobat pun belum bisa gunakan KTP, gratis. Kenapa?" kata Bobby.

Menjawab itu, Edy dengan santai menyebut UHC bukanlah solusi mengatasi persoalan kesehatan masyarakat. Edy pun menekankan agar pemimpin jangan lagi membohongi rakyat.

"UHC, Universal Health Coverage. Itu yang dibanggakan dengan KTP bisa berobat? BPJS yang pakai APBN saja tidak jadi jawaban, belum bisa menyelesaikan masalah. Apalagi UHC yang setingkat Wali Kota Medan untuk rakyat berobat. Jangan bohongi rakyat," kata Edy.

"Persoalannya, rumah sakit tak ada obatnya. Itu yang harus kita diskusikan caranya, supaya pelayanan kesehatan bisa diatasi," ucap Edy. 

Pernyataan Edy ini menjadi sindiran balik bagi Bobby. Diketahui, beberapa waktu lalu beredar video viral tentang rumah sakit yang dikelola Pemko Medan kehabisan obat hingga berujung pasien meninggal.

Bobby kembali menanggapi jawaban Edy. Dia menyatakan, "Pak Edy, pertanyaan saya simpel. Kok lebih memilih Medan Club?" 

Bobby menambahkan, Edy sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. "Kenapa lebih memilih Rp 400 miliar untuk beli aset untuk perluasan halaman kantor gubernur dibandingkan memberikan uangnya ke masyarakat agar bisa berobat?" tanyanya.

Menurut Bobby, dengan uang Rp 400 miliar, fasilitas rumah sakit dan puskesmas bisa diperbaiki. "Itu lebih baik daripada beli Medan Club hanya untuk meluaskan kantor gubernur yang hari ini sudah besar," ujar Bobby.

4. Bobby Sungkem ke Edy

Debat perdana Pilgub Sumut 2024 berakhir dengan nuansa damai. Usai penutupan debat, Bobby terlihat sungkem kepada Edy di hadapan ratusan undangan. 

Hal itu dibalas Edy dengan menepuk perlahan lengan Bobby sembari menyalaminya. Suasana guyub juga terlihat saat Hasan Basri bersalaman dengan Surya.

Edy Rahmayadi ditanyai soal momen Bobby sungkem, mengatakan bahwa hal itu biasa dan lumrah. Edy bilang, Bobby masih punya hubungan kekeluargaan dengan dirinya.

"Hal biasa itu, sering begitu dia, kan masih keponakan saya juga dia itu. Soal pujian Bobby harusnya wartawan yang puji saya. Kalian tanya jugalah istri saya ini," kata Edy Rahmayadi didampingi istrinya, Nawal Lubis. 

5. Perang Yel-yel

Massa pendukung pasangan Bobby Nasution-Surya dan Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala terlibat perang yel.

Sekitar pukul 19.30 WIB kedua pendukung pasangan calon mulai antre untuk masuk ke area debat. Sempat terjadi adu dorong-dorongan antar kedua pendukung pasangan calon.

Sembari antre di pintu masuk, pendukung Bobby dan Edy tak henti menyanyikan yel yel bernada sindiran. "Lanjutkan, lanjutkan pembangunan Sumut, Edy Hasan" kata pendukung Edy yang mengenakan seragam merah. 

Tak lama pendukung Bobby yang berada bersebelahan langsung menyahut. Sambil berloncat loncat sejumlah orang yang mengenakan seragam putih dengan tulisan Bobby dan Surya bernyanyi. "Ayo, ayo Bobby Surya-ku yakin menang," teriak pendukung Bobby. 

Aksi saling sahut terus terjadi. Pendukung Edy menyahuti dengan kalimat proyek lampu pocong yang dikerjakan saat Bobby menjabat Wali Kota Medan. "Lampu pocong, lampu pocong," kata pendukung Edy.

Ucapan itu kemudian disambut teriak-teriakan oleh pendukung Bobby. "Woy woy, 2,7. Gubernur apa apa," sahut pendukung Bobby. 

Untuk diketahui, angka 2,7 yang dimaksud adalah megaproyek senilai Rp 2,7 triliun yang dianggarkan Edy Rahmayadi saat menjabat sebagai Gubernur Sumut, untuk pembangunan infrastruktur. Namun, progres proyek itu dianggap lambat, dan akhirnya dihentikan setelah Edy purnatugas.

Tak sampai di situ, pendukung Edy menyinggung soal banjir di Medan yang sampai saat ini terus menjadi sorotan. "Banjir, banjir, banjir," teriak pendukung Edy.

Pendukung Bobby kemudian merespons dengan meneriakkan yel-yel, "Bobby Nasution untuk Sumatera Utara, hidup Bobby. Bobby... Bobby!"

Para pendukung terus saling sahut hingga akhirnya petugas kepolisian turun tangan memisahkan kedua kubu.

6. Kostum Pocong

Pendukung Edy Rahmayadi juga bikin suasana makin riuh dengan mengenakan pakaian menyerupai pocong. 

Sosok pocong diduga berupa satir politik menyinggung Bobby Nasution yang menjabat sebagai Wali Kota Medan terkait proyek gagal “lampu pocong” yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Pendukung berkostum pocong, saat diwawancara Tribun, mengaku sebagai relawan muda pasangan Edy-Hasan. Ia datang ke lokasi debat bersama ratusan pendukung lainnya. "Saya relawan muda, dari daerah," ujarnya.

Pendukung Edy-Hasan juga membawa berbagai atribut, termasuk poster bergambar harimau dengan tulisan "Harimau Medan Zoo. Selamatkan kami." 

Diketahui, di masa kepemimpinan Bobby Nasution, banyak harimau yang mati di kebun binatang yang dikelola oleh Pemko Medan. Bobby di awal kepemimpinannya sempat menyampaikan akan merevitalisasi Medan Zoo, dengan menggandeng investor.

Namun, hingga jelang berakhirnya kepemimpinan Bobby, kondisi Medan Zoo tak kunjung mendapat perhatian. Satu per satu hewan langka pun mati di Medan Zoo

(cr17/tribun-medan.com) 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved