Ramadan 2025

8 Tradisi Menyambut Bulan Puasa Ramadan di Indonesia

Tradisi Marpangir dilakukan oleh masyarakat Sumatera Utara sebagai ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Penulis: Rizky Aisyah | Editor: Randy P.F Hutagaol
ISTIMEWA
Personel Polres Padangsidimpuan mengamankan kegiatan "Marpangir" Umat Muslim Padangsidimpuan jelang Ramadhan di Padangsidimpuan, Sabtu (2/4/2022). 

TRIBUN-MEDAN.com –  Bulan Ramadan tinggal beberapa bulan lagi. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam menyambut momen spesial ini dengan penuh suka cita. 

Bahkan, setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut Ramadan. 

Tradisi menyambut Ramadan ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat. 

Tidak mengherankan jika semua tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan suci Ramadan memiliki makna mendalam yang bertujuan untuk mensucikan diri, saling mendoakan, memaafkan, dan menjalin silaturahmi antar sesama.

Berikut adalah 8 tradisi yang menyenangkan dan penuh makna untuk merayakan Ramadan di Indonesia: 

1. Nyorog (Jakarta)

Penduduk asli Jakarta, atau suku Betawi, memiliki banyak tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi nyorog, atau memberikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang sudah lanjut usia. 

Anda bisa menghadiahkan makanan kepada orang tua atau mertua yang tinggal di rumah lain, atau kepada tokoh masyarakat. 

Tradisi nyorog tidak melulu tentang mengirim makanan, namun tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan selama bulan Ramadan. 

2. Cucurak  (Jawa Barat)

Selanjutnya adalah tradisi cucurak, yang dalam bahasa Sunda berarti menyambut bulan suci Ramadan bersama keluarga besar. 

Selain berkumpul, tradisi cucurak biasanya terdiri dari duduk lesehan, membentangkan daun pisang, dan menyantap hidangan bersama. Menu yang disajikan antara lain nasi basah, tempe, jengkol, sambal, dan lalapan.

Menurut kepercayaan masyarakat Sunda, tradisi cucurak bukan hanya sekedar kegiatan berkumpul dan makan bersama, namun juga merupakan momen silaturahmi dan ajakan untuk mengucap syukur atas segala rezeki yang diberikan Tuhan.

3. Padusan (Yogyakarta)

Masyarakat Yogyakarta memiliki tradisi menyambut Ramadan yang masih dilakukan hingga saat ini. Namanya adalah padusan, atau padus (mandi) dalam bahasa Jawa. 

Padusan dilakukan sebagai bentuk penyucian diri, membersihkan jiwa dan raga dalam persiapan menyambut bulan suci Ramadan. 

Pada tingkat yang lebih dalam, Padusan juga dapat diartikan sebagai waktu untuk merenung dan introspeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu, sehingga memungkinkan umat Islam untuk beribadah dalam keadaan suci lahir dan batin.

4. Marpangir (Sumatera Utara)

Di beberapa daerah di Sumatera Utara, terdapat tradisi menyambut Ramadan yang dikenal dengan nama Marpangir. Ini adalah tradisi mandi tradisional dengan menggunakan dedaunan dan rempah-rempah. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved