Breaking News

Ramadan 2025

Bubur Sup Pedas Khas Masjid Raya Al Mashun, Tradisi Ramadan yang Selalu Dirindukan Masyarakat

Setiap bulan Ramadan, Masjid Raya Al Mashun Medan tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga destinasi wisata kuliner spiritual bagi masyarakat. 

TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA TARIGAN
MESJID AL MASHUN - Suasana Masjid Raya Al - Mashun menjelang berbuka puasa, Sabtu (1/3/2025). Masjid ini kembali menyediakan bubur sup khas yang selalu ada saat Ramadan. Bubur tersebut bisa dinikmati mulai dari hari pertama Ramadan hingga hari ke 27. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Setiap bulan Ramadan, Masjid Raya Al Mashun Medan tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga destinasi wisata kuliner spiritual bagi masyarakat. 

Salah satu hidangan yang paling dinantikan adalah bubur sup pedas, makanan khas yang hanya disajikan selama bulan suci ini. 

Hamdan, pengurus Masjid Raya Al Mashun, menjelaskan bahwa bubur sup ini menjadi spesial karena proses pembuatannya yang mempertahankan tradisi memasak menggunakan tungku raksasa.

"Bubur sup ini menjadi ikon Ramadan di Masjid Raya Al Mashun. Proses pembuatannya yang tradisional membuat cita rasanya unik dan selalu dirindukan," ujar Hamdan kepada Tribun Medan, Sabtu (1/3/2025).

Masjid Raya Al Mashun sendiri merupakan bangunan bersejarah yang dibangun oleh Sultan Deli ke-IX pada tahun 1906 dan diresmikan pada tahun 1909. 

Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Islam pada masanya. Sultan Deli kala itu bahkan menyiapkan guru-guru dan pemuka agama untuk mengajarkan ilmu keislaman kepada umat muslim.

Sebagai masjid tertua di Kota Medan, Masjid Raya Al Mashun memiliki daya tarik tersendiri, terutama saat Ramadan. Selain keindahan arsitekturnya yang megah, masjid ini juga menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan melalui bubur sup pedas. 

Tahun ini, pengurus masjid menyiapkan 1.000 porsi bubur sup setiap harinya, yang akan disajikan mulai hari pertama hingga hari ke-27 Ramadan.

"Kami berhenti menyajikan bubur sup pada hari ke-27 karena sudah mulai fokus menyambut masyarakat yang datang untuk membayar zakat. Menu berbuka tetap ada, tetapi bubur sup sudah tidak disediakan lagi," jelas Hamdan.

Antusiasme masyarakat terhadap bubur sup khas Masjid Raya Al Mashun selalu tinggi. Tidak hanya warga Medan, banyak juga pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk mencicipi hidangan ini. 

"Mungkin ada semacam kerinduan karena bubur sup ini hanya ada setahun sekali. Masyarakat selalu antusias menyambutnya," ungkap Hamdan.

Keistimewaan bubur sup ini terletak pada proses pembuatannya yang masih tradisional. Bubur dimasak menggunakan kancah raksasa dari tembaga yang dipanaskan dengan kayu bakar. 

Bahan-bahannya pun dipilih dengan cermat, terdiri dari 30 kilogram beras, 10 kilogram daging, serta kentang dan wortel yang cukup untuk menghasilkan sekitar 1.000 porsi.

Proses memasak dimulai menjelang waktu Zuhur dan bubur sup siap dibagikan setelah salat Ashar.

Selain rasanya yang lezat, bubur sup ini juga memiliki manfaat kesehatan yang baik untuk berbuka puasa.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved