TRIBUN WIKI

Sosok Prof Ferry Latuhihin, Pengamat Ekonomi yang Soroti Keberadaan Danantara

Prof Ferry Latuhihin merupakan pengamat ekonomi dan analis pasar modal. Ia pernah menjabat sebagai penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo

|
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Instagram @jenderal.keuangan
PENGAMAT EKONOMI- Prof Ferry Latuhihin, pengamat ekonomi yang pernah masuk dalam TKN Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. Ia mengkritisi keberadaan Danantara. 

Ia pernah menjabat sebagai penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Adapun pendidikan Prof Ferry Latuhihin, ia pernah menimba ilmu di Erasmus University Rotterdam, Belanda.

Ia meraih gelar S1 hingga S3 di kampus tersebut.

Baca juga: Profil Sundari Soekotjo, Legenda Penyanyi Keroncong yang Bergelar Doktor

Selain dikenal sebagai pengamat ekonomi, Prof Ferry Latuhihin juga merupakan Kepala Ekonom di Tanamduit, sebuah platform keuangan digital yang menawarkan berbagai instrumen investasi dan pilihan asuransi dalam satu aplikasi .

Karena keilmuwannya itu, ia pun sering diundang sebagai narasumber di berbagai media massa, baik cetak, daring, televisi, maupun podcast YouTube.

Dari informasi yang ada di beberapa media massa menyebutkan, bahwa Prof Ferry Latuhihin juga pernah menjabat sebagai
Chief Economist Bank Internasional Indonesia (BII).

Tak heran, saat Pilpres 2024 kemarin, ia didapuk sebagai penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Baca juga: Profil Almira Tunggadewi Yudhoyono, Cucu SBY Putri AHY yang Mulai Tekuni Modeling

Berbekal wawasan yang mendalam, dirinya membantu merumuskan program-program yang menjawab tantangan ekonomi bangsa. 

Saat ini, Prof Ferry Latuhihin juga aktif memberikan edukasi ke masyarakat lewat platform media sosial Instagram @jenderal.keuangan.

Di sana, ia kerap tampil dengan video-video edukasi seputar ekonomi.

Tidak hanya itu, Prof Ferry Latuhihin juga aktif dalam seminar eksklusif yang fokus membahas mulai dari dasar-dasar bisnis dan keuangan hingga metode penilaian tingkat lanjut seperti DCF (Discounted Cash Flow), Residual Income dan EVA (Economic Value Added), serta membongkar studi kasus eksklusif analisis perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.(ray/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved