Catatan Sepak Bola

Piala Dunia “Stecu Stecu”

Tolok ukur popularitas lagu ini tentu saja jumlah tontonan. Di YouTube, “Stecu” sudah ditonton 7,5 juta kali.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS/PSSI/HO
LOLOS PIALA DUNIA - Pesepak bola Timnas U-17 Indonesia Zahaby Gholy selebrasi saat melawan Timnas U-17 Yaman pada pertandingan kedua Grup C Piala Asia U-17 di Stadion Prince Abdullah Al-Faisal, Jeddah, Senin (7/4/2025) malam WIB. Timnas U-17 Indonesia berhasil menggulung Yaman dengan skor 4-1 sehingga lolos ke Piala Dunia U-17 2025. 

TRIBUN-MEDAN.com- Sejak dirilis pada Maret 2025, lagu berjudul “Stecu” yang dinyanyikan Fariz Adam melesat seperti meteor.

Banyak sekali konten di media sosial, terutama yang ditayangkan di Instagram dan TikTok, juga sebagian kecil Facebook, menggunakan potongan syairnya sebagai suara latar.

Tolok ukur popularitas lagu ini tentu saja jumlah tontonan. Di YouTube, “Stecu” sudah ditonton 7,5 juta kali.

Ini baru di akun resmi sang penyanyi. Belum di akun-akun lain, termasuk yang mengutipnya secara liar dan oleh sebab itu ilegal.

Adapun di Spotify, setidaknya sampai pekan pertama April, telah didengar lebih dari 3 juta kali.

Lagu “Stecu” memapar dinamika upaya awal sepasang anak manusia yang  sama-sama dijerat asmara.

Namun seorang di antara mereka, yakni Si Perempuan, memilih untuk bersiasat.

Meski sesungguhnya menyimpan perasaan juga, ia justru menunjukkan sikap sebaliknya.

Acuh tak acuh, sikap “stecu” alias ‘setelan cuek’, yang konon dilakukannya untuk menguji keseriusan laki-laki yang menaruh hati kepadanya.

Saya tidak bermaksud untuk panjang lebar bicara tentang lagu ini.

Tidak liriknya atau popularitasnya, bagaimana lagu bernada riang dengan tempo cepat ini bisa disukai. Sama sekali tidak.

Pun tentu juga tak ada urusan dan korelasinya dengan video pendek selebritas Jennifer Coppen yang mencupliknya sembari memamerkan kebersamaan dengan bek tengah Tim Nasional Indonesia, Justin Hubner.

Grafis perjalanan Tim Nasional U-17 Indonesia
Grafis perjalanan Tim Nasional U-17 Indonesia di kejuaraan Piala Asia U-17 2025. Indonesia berhasil lolos ke Piala Dunia U-17 yang akan berlangsung di Qatar November mendatang.

Lantas? Barangkali ini sebangsa cocokologi. Namun “Stecu”, ‘Setelan Cuek’, rasa-rasanya memang tidak keliru-keliru amat apabila disebut sebagai diksi yang dapat mewakili, atau katakanlah jadi representasi, perjalanan Tim Nasional U-17 Indonesia.

Senin, 7 April 2025, di Riyadh, Arab Saudi, Indonesia menekuk Yaman di matchday kedua babak penyisihan grup putaran final Piala Asia U-17.

Tambahan tiga poin, setelah sebelumnya mengemas poin sempurna berkat kemenangan sensasional versus Korea Selatan, memastikan langkah Garuda Muda ke Piala Dunia U-17 yang akan digelar di Qatar, November mendatang.

Masih ada laga ketiga kontra Afganistan, sebenarnya. Masih ada babak perempat final. Mungkin juga semi final dan final. 

Siapa tahu pula bisa sampai pada podium kejuaraan. Namun kegembiraan sudah terlanjur membuncah. Sepertinya sudah tidak terlalu banyak lagi yang peduli pada Piala Asia.

Segera setelah laga melawan Yaman usai, di media sosial; di TikTok, di Instagram, termasuk di Facebook dan X (dulunya Twitter), warganet Indonesia pecinta sepak bola (maupun yang mungkin bukan pecinta sepak bola?), ramai mengunggah kalimat, atau foto, atau video yang menunjukkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Piala Dunia.

‘Welcome Piala Dunia!’, ‘Assalamualaikum Piala Dunia’, ‘Piala Dunia, Kami Datang...’,  menjadi narasi jamak –dan tumbuh sebagai trending topic.

Tidak sedikit yang sembari tetap menyalurkan bakat mengejek-ejek negara tetangga; Thailand yang sudah duluan pulang, Vietnam yang masih tertahan, bahkan Malaysia yang sama sekali tidak ada dalam berkompetisi.

Tak pernah ucap hello, pergi kau melambai... Ahai!

Pendek kata, dengan cara masing-masing, yang elegan maupun yang kampungan, semua berupaya menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaan maksimal.

Kecuali para pemain. Jam berganti jam. Tidak seorang pemain pun yang mengunggah kemenangan atas Yaman dan keberhasilan pergi ke Piala Dunia.

Akun-akun media sosial mereka senyap, sepi sama sekali. Bahkan yang sekadar berbentuk kode-kode, atau emoticon, juga tidak ada. Seisi skuad betul-betul menunjukkan sikap “stecu”.

Bukankah ini wajar belaka? Tergantung dari sisi mana melihat. Wajar, jika menggunakan kaca pandang profesionalitas.

Para pemain profesional tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Tahu yang mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan.

Mereka bisa mengukur diri, dan oleh sebab itu punya beragam dasar pertimbangan untuk menjaga diri.

Anak-anak Garuda Muda ini belum banyak yang sampai pada level profesional.

Sejauh ini hanya dua orang yang tercatat tergabung dengan klub Liga 1 yakni Muhammad Zahaby Gholy di Persija Jakarta dan Dafa Al Gasemi Setiawarman di Dewa United. Itu pun tidak selalu masuk dalam daftar line up.

Selebihnya baru menapak di semi profesional, menjadi bagian dari tim muda klub Liga 1 dan berlaga di kompetisi Elite Pro Academy atau EPA.

Sebutlah misalnya Evandra Florasta dan Fadly Alberto Hengga bersama Dewa United, I Putu Panji Apriawan di Bali United dan Nazriel Alfaro Syahdan di Persib Bandung.

Ada pun Mathew Baker, yang masih berusia 15, merumput untuk Melbourne City U-21 di Liga Australia.

Kedua, dan mungkin yang lebih krusial, mereka datang dari Generasi Z. Generasi yang lahir dan tumbuh dalam “asuhan” teknologi-teknologi yang terus terbarukan dalam selang-selang  waktu serba singkat.

Mereka generasi yang berakrab-akrab dengan segenap kecanggihan gadget. Mereka tidak bisa lepas dari gadget.

Tidak bisa lepas dari media sosial, dan update status untuk eksistensi diri merupakan semacam “jalan ninja”.

Pertanyaannya, bagaimana bisa para pesepak bola Gen Z yang belum sampai di level profesional ini berubah sedemikian “revolusioner”?

Bagaimana bisa kemenangan atas negara dengan nama terhormat di kancah sepak bola yang diikuti peristiwa sebesar lolos ke Piala Dunia tetap ditanggapi dengan sikap “stecu”?

Jawabannya jelas: Nova Arianto! Sebagai pelatih kepala, terhadap pemain-pemainnya Nova menerapkan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar.

Termasuk perihal gadget dan perilaku bermedia sosial.

Terkesan sepele, tapi dalam hal ini Nova justru terbilang sangat keras, cenderung kejam. Sepanjang masih mengikuti kompetisi ia melarang para pemain berinteraksi di media sosial dalam bentuk rupa apa pun dengan siapa pun tanpa kecuali.

Pada jam-jam tertentu pemain diperbolehkan mengontak keluarga mereka lewat telepon atau video call, untuk saling berkabar, melepas kangen. Setelahnya, ponsel akan dikumpulkan kembali dan disimpan, oleh Nova.

Terkecuali atas izinnya, tidak ada siapa pun yang mendapatkan previlage untuk memegang ponsel.

Nova tidak ingin konsentrasi mereka terganggu. Semua harus 100 persen fokus pada sepak bola, pada tujuan, pada target. Tidak boleh kurang.

Sekiranya tetap ada yang nekat melanggar, Nova tak segan-segan menjatuhkan hukuman. Paling ringan denda Rp 500 ribu. Terberat, pencoretan dari tim.

“Sejauh ini belum pernah ada yang kena hukum. Nggak ada yang berani (melanggar),” kata Evandra Florasta seraya tersenyum kecut. Evandra, usai sesi latihan sebelum laga kontra Yaman, menjawab wartawan yang menanyakan perihal “kurangnya ekspresi” para pemain, “kurang heboh”, tidak sebagaimana umumnya pemain muda yang serba bergaya.

Perkara berbicara kepada media ini pada dasarnya juga tidak sembarang.

Nova Arianto sedemikian rupa mengatur siapa yang bisa diwawancara dan siapa yang tidak, dan –sudah barang tentu– apa yang bisa disampaikan dan apa-apa saja yang tidak boleh disampaikan.

Tangan besi? Mungkin begitu. Namun sadar tak sadar, pola pendekatan Nova ini efektif membentuk mental dan kepribadian pemain.

Lihatlah, mereka sekarang tidak takut menghadapi lawan mana pun. Mereka masuk lapangan dengan kepala tegak dan berupaya keluar juga dengan kepala tegak. Ini terpampang jelas saat Indonesia mengempas Korea Selatan.

Mereka memang lelah, mereka mengalami kram otot, kadang panik, kadang marah, kadang meringis, tapi tidak takut.

Sama sekali tidak. Mata mereka terus menyala-nyala, mengobarkan api perlawanan sepanjang laga.

Nova tidak sekadar melatih. Tidak sekadar mengajari bagaimana bertahan bagaimana menyerang, bagaimana menghalau bola bagaimana melesakkan gol.

Dia sedang menjaga pemain-pemain yang masih serba labil ini.

Melindungi mereka dari sikap terlalu cepat berpuas diri, dan yang paling celaka, jemawa; pongah dan congkak, hingga belum-belum sudah merasa jadi bintang dan akhirnya layu sebelum sempat betul-betul berkembang, seperti yang sudah berkali-kali terjadi terhadap bakat-bakat besar sepak bola di negeri ini.

(t agus khaidir)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved