Berita Viral

TERNYATA Ini Salah Satu Penyebab Terjadinya Pertemuan Prabowo-Megawati

Presiden Prabowo Subianto akhirnya menemui Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada Senin (7/4/2025) malam.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: AbdiTumanggor
Partai Gerindra
PRABOWO-MEGAWATI: Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri pada Senin (7/4/2025) malam. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Kondisi ekonomi di dunia saat ini bergejolak gegara kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru terpilih, Donald Trump.

Donald Trump telah mengumumkan tarif baru untuk semua impor ke Amerika Serikat dan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan negara lain, termasuk beberapa mitra dagang terbesar AS.

Presiden Trump memberlakukan 'Tarif Timbal Balik' terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia yang dikenakan 32 persen.

Baca juga: KADO PAHIT Lebaran dari Presiden Donald Trump, Berikut Ini Dampaknya untuk Perekonomian Indonesia

Pertemuan Prabowo-Megawati

Setelah meluncurkan kebijakan tarif Presiden Trump tersebut, Presiden Prabowo Subianto menemui Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri pada Senin (7/4/2025) malam.

Pertemuan keduanya berlangsung selama sekitar 1,5 jam di kediaman Megawati, tepatnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta.

Kabar pertemuan Megawati dan Prabowo dikonfirmasi oleh Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Utut Adianto.

Meski demikian, Adianto tidak menjelaskan apa saja yang dibahas dalam perbincangan tersebut.

”Saya tidak ada di sana, jadi tidak tahu apa yang beliau bicarakan,” ujarnya, dikutip dari Kompas.id, Selasa (8/4/2025). 

Selain Presiden Prabowo, Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dan Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani juga turut datang ke kediaman Megawati.

Mobil yang ditumpangi keduanya keluar dari Jalan Teuku Umar tak lama setelah mobil dinas kepresidenan Maung Garuda putih.

Baca juga: Imbas Tarif Impor Balasan Donald Trump, Industri Otomotif dan Elektronik Indonesia di Ujung Tanduk

Isi pertemuan Prabowo-Megawati

Menurut Dasco, pertemuan Prabowo dan Megawati dilakukan untuk saling bertukar pikiran mengenai masa depan Indonesia di tengah situasi global saat ini.

"Ya kalau menyatukan visi, saya enggak tahu persis. Tapi bertukar pikiran yang mendalam tentang bagaimana masa depan Indonesia itu pasti,” kata dia, dilansir dari pemberitaan Kompas.com, Selasa (8/4/2025).

Dia menjelaskan, salah satu topik yang dibahas adalah upaya pemerintah dalam menghadapi situasi global saat ini.

Sebab, Megawati memiliki pengalaman dalam mengatasi krisis yang terjadi di Tanah Air pada masa kepemimpinannya.

Oleh karena itu, dia merasa kedua tokoh tersebut perlu untuk bertemu dan bertukar pikiran. 

“Ya sebenarnya kan lebih bagaimana menghadapi situasi global yang pada saat ini juga banyak menimpa negara-negara lain dan kedua tokoh saling bertukar pikiran dan juga bertukar pengalaman,” tutur Dasco. 

“Apalagi Ibu Megawati kan berpengalaman juga memimpin Indonesia di waktu yang lalu juga menghadapi saat-saat yang kurang lebih juga ada masa-masa krisis,” tambahnya.

Baca juga: TARIF IMPOR AS yang Diberlakukan Donald Trump Bikin Saham Medsos Mark Zuckerberg Anjlok, Rugi 297 T

Sekaligus Berlebaran

Selain membicarakan masa depan Indonesia secara empat mata, pertemuan Prabowo dan Megawati juga dilakukan untuk silaturahmi dalam momen Lebaran 2025.

Dasco mengatakan, pertemuan keduanya sangat hangat dan diwarnai dengan gelak tawa.

"Pertemuan penuh keakraban saya lihat, kita dengar lebih banyak ketawa-ketawanya juga sih sebenernya," ujar Dasco.

Dalam pertemuan malam itu, Prabowo juga membawa bingkisan untuk Megawati. 

Hal itu disebutkan oleh politikus PDI-P, Guntur Romli.

Romli mengatakan, parcel tersebut berisi sayur mayur kesukaan Megawati, salah satunya buah tomat yang berukuran besar.

"Bahkan Ibu Megawati ingin mendapatkan bibit pohon tomatnya untuk beliau tanam sendiri," kata Guntur.

Dia juga mengatakan, pertemuan Megawati dan Prabowo itu bersifat mendadak, meski sudah direncanakan sejak lama.

Namun, karena kesibukan masing-masing, pertemuan itu baru dapat dilakukan pada Senin kemarin. "Ibu

Megawati dalam banyak kesempatan sering mengatakan, beliau merasa tidak punya hambatan untuk terus melakukan komunikasi dan silaturahmi dengan Presiden Prabowo meski posisi politik PDI Perjuangan saat ini masih berada di luar pemerintahan," tandas Guntur.

Dalam pertemuan tersebut, Romli menyebutkan, Megawati dan Prabowo berbincang empat mata untuk membahas bangsa dan negara.

Menurut dia, keduanya membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi mengingat keduanya bersahabat baik selama ini.

Baca juga: INI REAKSI Jusuf Kalla dan Pengusaha Indonesia soal Kebijakan Tarif Trump, Kanada Lakukan Pembalasan

Dampak Kebijakan Tarif Trump

Diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif baru untuk semua impor ke Amerika Serikat dan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan negara lain, termasuk beberapa mitra dagang terbesar AS.

Trump memberlakukan 'Tarif Timbal Balik' terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Tarif baru ini dianggap sebagai kado pahit di momen Lebaran di seluruh dunia.

Presiden mengatakan AS akan menggunakan uang yang dihasilkan dari tarif untuk "mengurangi pajak dan membayar utang nasional kami."

"Ini adalah deklarasi kemerdekaan ekonomi kami," ujar Trump saat mengumumkan langkah-langkah baru tersebut.

Trump kemudian mengangkat bagan besar berjudul 'Tarif Timbal Balik'.

Kolom pertama adalah daftar negara.

Kemudian, kolom kedua merupakan besaran tarif yang dikenakan suatu negara terhadap barang-barang dari Amerika Serikat.

Selanjutnya, kolom ketiga berisi tarif balasan yang dikenai AS terhadap negara itu.

Dikutip dari Tribunnews.com, berikut daftar 160 negara dan wilayah yang dikenakan tarif oleh AS.

Angka berdasarkan persen:

1. China: 34 persen

2. Uni Eropa:20

3. Vietnam: 46

4. Taiwan: 32

5. Jepang: 24

6. India: 26

7. Korea Selatan: 25

8. Thailand: 36

9. Swiss: 31

10. Indonesia: 32

11. Malaysia: 24

12. Komboja: 49

13. Inggris: 10

14. Afrika Selatan: 30

15. Brasil: 10

16. Bangladesh: 37

17. Singapura: 10

18. Israel: 17

19. Filipina: 17

20. Chile: 10

21. Australia: 10

22. Pakistan: 29

23. Turki: 10

24. Sri Langka: 44

25. Kolombia: 10

26. Peru: 10

27. Nikaragua: 18

28. Norwegia: 15

29. Kosta Rika: 10

30. Jordan: 20

31. Republik Dominika: 10

32. Uni Emirat Arab: 10

33. Selandia Baru: 10

34. Argentina: 10

35. Ekuador: 10

36. Guatemala: 10

37. Honduras: 10

38. Madagaskar: 47

39. Myanmar: 44

40. Tunisia: 28

41. Kazakhstan: 27

42. Serbia: 37

43. Mesir: 10

44. Arab Saudi: 10

45. El Savador: 10

46. Pantai Gading: 21

47. Laos: 48

48. Botswana: 37

49. Trinidad dan Tabago: 10

50. Maroko: 10

51. Algeria: 30

52. Oman: 10

53. Uruguay: 10

54. Bahamas: 10

55. Lesotho: 50

56. Ukraina: 10

57.Bahrain: 10

58. Qatar: 10

59. Mauritius: 40

60. Fiji: 32

61. Islandia: 10

62. Kenya: 10

63. Liechtenstein: 37

64. Guyana: 38

65. Haiti: 10

66. Bosnia-Herzegovina: 35

67. Nigeria: 14

68. Namibia: 21

69. Brunei: 24

70. Bolivia:  10

71. Panama: 10

72. Venezuela: 15

73. Makedonia Utara: 33

74. Ethiopia: 10

75. Ghana: 10

76. Moldova: 31

77. Angola: 32

78. Republik Demokratik Kongo: 11

79. Jamaika: 10

80. Mozambik: 16

81. Paraguay: 10

82. Zambia: 17

83. Lebanon: 10

84. Tanzania: 10

85. Irak: 39

86. Georgia: 10

87. Senegal: 10

88. Azerbaijan: 10

89. Kamerun: 11

90. Uganda: 10

91. Albania: 10

92. Armenia: 10

93. Nepal: 10

94. Sint Maarten: 10

95. Kepulauan Falkland: 41

96. Gabon: 10

97. Kuwait: 10

98. Togo: 10

99. Suriname: 10

100. Belize: 10

101. Papua Nugini: 10

102. Malawi: 19

103. Liberia: 10

104. British Virgin Islands: 10

105. Afganistan: 10

106. Zimbabwe: 18

107. Benin: 10

108. Barbados: 10

109. Monako: 10

110. Suriah: 41

111. Uzbekistan: 10

112. Republik Kongo: 10

113. Jibuti: 10

114. Polinesia Prancis: 10

115. Kepulauan Cayman: 10

116. Kosovo: 10

117. Curaçao: 10

118. Vanuatu: 22

119. Rwanda: 10

120. Sierra Leone: 10

121. Mongolia: 10

122. San Marino: 10

123. Antigua dan Barbuda: 10

124. Bermuda: 10

125. Eswatini: 10

126. Kepulauan Marshall: 10

127. Saint Pierre dan Miquelon: 50

128. Saint Kitts dan Nevis: 10

129. Turkmenistan: 10

130. Grenada: 10

131. Sudan: 10

132. Kepulauan Turks dan Caicos: 10

133. Aruba: 10

134. Montenegro: 10

135. Saint Helena: 10

136. Kirgistan: 10

137. Yaman: 10

138. Saint Vincent and Grenadines: 10

139. Niger: 10

140. Saint Lucia: 10

141. Nauru: 30

142. Guinea Khatulistiwa: 13

143. Iran: 10

144. Libya: 31

145. Samoa: 10

146. Guinea: 10

147. Timor Leste: 10

148. Monstserrat: 10

149. Chad: 13

150. Mali: 10

151. Sao Tome dan Príncipe: 10

152. Pulau Norfolk: 29

153. Gibraltar: 10

154. Tuvalu: 10

155. Teritori Inggris di Samudra Hindia: 10

156. Tokelau: 10

157. Guinea-Bissau: 10

158. Svalbard dan Jan Mayen: 10

159. Pulau Heard dan Kepulauan McDonald: 10

160. Réunion: 37

Baca juga: DPR RI Ingatkan PHK Massal Imbas Kebijakan Donald Trump Naikkan Tarif Impor: Ekspor Turun, PHK Naik

Indonesia dikenakan tarif 32 persen

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan tarif impor terbaru terhadap produk-produk yang mereka impor dari Indonesia sebesar 32 persen. Keputusan itu diumumkan Trump hari Rabu, 2 April 2025 waktu Amerika Serikat.

Dalam pengumumannya, Trump menyatakan AS mengenakan tarif dasar (minimal) 10 persen untuk semua produk impor AS. Total ada 60 negara yang terkena aturan tarif individual Trump yang dihitung sebesar setengah dari tarif dan hambatan lain yang "dibebankan negara-negara tersebut kepada AS.” 

“Tidak akan pernah ada transformasi suatu negara seperti transformasi yang terjadi di Amerika Serikat,” kata Trump dalam pernyataan yang ia sampaikan di Rose Garden, Gedung Putih, Rabu (2/4/2025) waktu AS. 

Trump menyebut hari pengumuman tarif imbal balik tersebut sebagai Hari Pembebasan.

"Menurut saya, ini adalah salah satu hari terpenting dalam sejarah Amerika. Ini adalah deklarasi kemerdekaan ekonomi kita," katanya dikutip dari Guardian, Kamis (3/4/2025).

Dalam pengumuman yang dia sebut sebagai 'Hari Pembebasan' dan dibagikan di media sosial, Indonesia termasuk negara yang terkena tarif imbal balik Donald Trump dan dikenai tarif impor 32 persen.  

Mengutip dari CNBC, Kamis (3/4/2025), AS akan mengenakan tarif timbal balik sebesar 32 persen terhadap Indonesia.

Dibandingkan negara ASEAN lain, tarif imbal balik terhadap Indonesia lebih rendah jika dibandingkan dengan tarif imbal balik yang dikenakan AS terhadap Malaysia sebesar 24 persen dan Filipina sebesar 17 persen. 

Negara ASEAN lainnya yang terkena tarif imbal balik Trump adalah Singapura tapi cuma kena 10 persen. 

Sementara Vietnam dan Thailand masing-masing dikenai tari timbal balik 46 persen dan 36 persen.  Sementara, Kamboja dikenakan tarif impor sebesar 49 persen dan Laos sebesar 48 persen.

Seorang pakar mengatakan, Donald Trump kemungkinan menargetkan pengenaan impor terhadap negara-negara yang menerima investasi dari China.

Menurut Dr Siwage Dharma Negara, seorang peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, tarif terhadap negara-negara di Asia Tenggara ini sebenarnya dimaksudkan untuk merugikan China.

"Dengan menargetkan produk-produk mereka, mungkin hal itu akan memengaruhi ekspor dan ekonomi China," katanya.

"Target sebenarnya adalah China, tetapi dampak nyata terhadap negara-negara tersebut akan cukup signifikan karena investasi ini menciptakan lapangan kerja dan pendapatan ekspor," jelasnya.

Tarif impor untuk Indonesia disebut malah akan kontraproduktif bagi AS karena ada perusahaan garmen dan alas kaki asal AS yang memiliki pabrik di Indonesia.

“Beberapa perusahaan garmen dan alas kaki, beberapa merek Amerika seperti Nike, Adidas, perusahaan AS yang memiliki pabrik di Indonesia, apakah mereka juga akan menghadapi tarif yang sama?” ucap Dr Siwage Dharma Negara.

Baca juga: Soroti Kebijakan Tarif Impor Donald Trump, Kabid PPLL Sumut : Berdampak Terutama Ekspor Kopi

Dampak Tarif Trump untuk Perekonomian Indonesia

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan, kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke Indonesia sebesar 32 persen bisa memicu resesi ekonomi pada kuartal IV 2025.

"Bisa picu resesi ekonomi Indonesia di kuartal IV 2025," kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Kamis (3/4/2025), seperti dikutip Kompas.com.

Ia menuturkan dampak kenaikan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump akan berdampak signifikan ke ekonomi Indonesia.

Bukan hanya pada kuantitas ekspor Indonesia ke AS, namun juga bisa turut memberikan dampak negatif berkelanjutan ke volume ekspor ke negara lain.

Bhima mengatakan, dengan tarif resiprokal tersebut, sektor otomotif dan elektronik Indonesia bakal di ujung tanduk. 

Pasalnya, konsumen AS menanggung tarif dengan harga pembelian kendaraan yang lebih mahal yang menyebabkan penjualan kendaraan bermotor turun di AS.

Karena ada korelasi ekonomi Indonesia dan AS dengan persentase 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi AS, maka ekonomi Indonesia turun 0,08 persen.

"Produsen otomotif Indonesia tidak semudah itu shifting ke pasar domestik, karena spesifikasi kendaraan dengan yang diekspor berbeda. Imbasnya layoff dan penurunan kapasitas produksi semua industri otomotif di dalam negeri," ujarnya.

Selain sektor otomotif dan elektronik, lanjut Bhima, industri padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil diperkirakan bakal mengalami penurunan, mengingat banyak jenama global asal AS memiliki pangsa pasar besar di Indonesia.

"Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah order atau pemesanan ke pabrik Indonesia. Sementara di dalam negeri, kita bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja dan China karena mereka incar pasar alternatif," tuturnya.

Lebih lanjut, Bhima menyampaikan solusi agar Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap tarif resiprokal yang diterapkan AS.

"Pemerintah perlu mengejar peluang relokasi pabrik dengan cara memberikan regulasi yang konsisten, efisiensi perizinan, kesiapan infrastruktur pendukung kawasan industri, sumber energi terbarukan yang memadai untuk memasok listrik ke industri, dan kesiapan sumber daya manusia."

(*/Tribun-medan.com/Tribunnews.com/Kompas.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved