Hardiknas 2025

Potret Pendidikan Anak Pesisir Percut Seituan di Hari Pendidikan Nasional 2025

Anak-anak pesisir yang dulunya hanya peduli dengan mencari ikan dilaut, kini perlahan mulai berani menyuarakan keinginan untuk belajar.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA TARIGAN
PERAYAAN HARDIKNAS: Puluhan anak nelayan di pesisir Percut Seituan tengah mengikuti belajar berhitung dan membaca, Jumat (2/5/2025). Terkadang anak-anak juga membaca lantang di atas perahu, hal ini dilakukan untuk memantik semangat belajar anak-anak pesisir tersebut. TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di balik gemuruh ombak dan hamparan muara di pesisir Percut Sei Tuan, sebuah rumah kayu sederhana berdiri tegak sebagai simbol harapan bagi puluhan anak nelayan.

Minimnya literasi dan tingginya angka putus sekolah menjadi alasan rumah belajar non-formal ini berdiri sejak tahun 2022. Melalui tangan anak muda inspiratif, Afri Yuda Tama Siregar dan kawan-kawan, Rumah Edukasi Anak Pesisir atau Redaksi masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Anak-anak pesisir yang dulunya hanya peduli dengan mencari ikan di laut, kini perlahan mulai berani menyuarakan keinginan untuk belajar.

Pasang surut air laut tak membuat semangat mereka padam untuk datang ke gubuk yang hampir tumbang itu agar menambah pemahaman membaca dan berhitung.

Setiap minggu mulai pukul 9-12 siang, puluhan anak usia 6–15 tahun bergegas ke Redaksi setelah membantu orang tua. Mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan metode yang menyenangkan.

“Rumah edukasi ini menyediakan pendidikan informal setiap minggunya dari jam 9 pagi sampai 12 siang. Program kita biasanya belajar berhitung, membaca, hingga berkreasi," ujar relawan Rumah Edukasi Anak Pesisir bernama Atika.

Mayoritas anak-anak yang belajar di tempat ini adalah "Anak Itik", sebutan yang biasa dikenal masyarakat pesisir untuk anak-anak yang sudah bekerja mencari ikan lalu dijual secara mandiri.

"Peserta didik di sini anak nelayan semua. Rata-rata orang tua mereka banyak menjadikannya sebagai Anak Itik, mereka disuruh orang tua bekerja mencari ikan daripada harus belajar. Ada yang masih sekolah pendidikan formal, ada juga yang sudah putus sekolah. Bahkan ada yang sudah SMP namun belum bisa membaca. Nah, kekhawatiran inilah yang membuat kami ingin mengajar mereka, sekurang-kurangnya tidak buta huruf," ungkap Atika.

Seiring berjalannya waktu para relawan mampu merengkuh kepercayaan masyarakat dan "Anak-anak Itik". Hingga hari ini para siswa terus bertambah, murid di rumah edukasi ini jumlahnya bahkan sudah mencapai 100 lebih. 

"Kelas dibagi 2, yakni kelas A untuk anak-anak tak bisa membaca, dan kelas B untuk anak-anak yang sudah bisa membaca. Ketika anak di kelas A sudah bisa membaca, dia naik ke kelas B. Di kelas B kita mengajari mereka sesuai dengan porsinya," sebut Atika.

Jumlah anak yang terus bertambah membuat Atika dan relawan sering merasa kewalahan. Hal ini lah yang menjadi tantangan bagi mereka, yakni mengajak lebih banyak relawan muda untuk ikut berpartisipasi.

“Tantangan kita saat ini mengajak lebih banyak relawan untuk ikut mengajar disini. Bisa kita lihat jumlah anak-anak yang semakin banyak membuat kita sedikit kesulitan,” ungkapnya.

Ciptakan Belajar yang Asyik

Memantik semangat belajar anak-anak pesisir ini juga menjadi tantangan sendiri bagi para relawan.

Oleh sebab itu, berbagai cara dilakukan, termasuk mengajak anak-anak membaca lantang diatas perahu.

Di tengah deru air dan suara mesin perahu, mereka berlayar ke tepian muara. Ditemani temaram langit sore anak-anak membaca lantang.

Fitri relawan lainnya, gadis lulusan SMK Kesehatan Imelda Medan ini dulunya adalah salah satu murid Rumah Edukasi Anak Pesisir. Kini, ia balik membawa perubahan untuk generasi berikutnya.  

"Saya ingin membuktikan bahwa anak nelayan juga bisa berdaya. Dulu saya diajari membaca di sini, sekarang giliran saya yang mengajar," katanya dengan mata berbinar.  

Namun, perjuangan tak semudah membalik telapak tangan. Jumlah relawan terbatas, sementara murid terus bertambah. "Setiap hari ada saja anak baru yang datang. Kami butuh lebih banyak tangan untuk membantu," ujarnya.  

Upaya keras Fitri dan kawan-kawan tidak sia-sia. Beberapa tahun lalu, komunitas ini menyabet penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Utara dalam Festival Literasi. Tapi yang lebih membanggakan adalah kesaksian para orang tua.  

Seperti Farida (38), yang dua anaknya bersekolah di sini. "Dulu anak saya hanya ikut ke laut. Sekarang, dia juara kelas dari kelas 1 sampai 5 SD!" ceritanya bangga.  

Farida bukan satu-satunya. Banyak orang tua di Desa Bagan Percut kini berlomba menitipkan anak mereka di sini. "Kalau tidak ada Rumah Edukasi, anak-anak di sini mungkin hanya akan jadi nelayan buta huruf seperti generasi sebelumnya," ucapnya.  

Ke depan, Fitri dan tim punya mimpi besar, di hari pendidikan nasional (Hardiknas) ini tepatnya, dengan penuh tekad ia ingin membuat anak-anak pesisir tidak hanya melek huruf, tetapi juga berani bermimpi lebih tinggi.

"Kami ingin ada ruang kreatif di mana mereka bisa belajar keterampilan lain, seperti menulis cerita atau membuat kerajinan tangan," ujar Fitri.  

Di tengah deburan ombak dan terik matahari, Rumah Edukasi Anak Pesisir tetap berdiri tegak sebagai bukti bahwa pendidikan bisa lahir dari mana saja, bahkan dari atas perahu kayu yang sederhana.

(cr26/tribun-medan.com)

 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved