TRIBUN WIKI

Puasa Ayyamul Bidh Menurut Muhammadiyah, Benarkah Tidak Harus 13, 14 dan 15 Hijriah

Jadwal puasa Ayyamul Bidh Juli 2025 dilaksanakan pada tanggal 9, 10 dan 11 Juli 2025. Berikut penjelasan Muhammadiyah soal puasa Ayyamul Bidh.

Tayang:
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Tribun Medan/ChatGPT
SAHUR- Ilustrasi sebuah keluarga muslim saat melaksanakan sahur di rumah dalam suasana yang hangat. Ilustrasi ini dibuat menggunakan aplikasi kecerdasan buatan atau ChatGPT, Senin (7/7/2025). 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dikerjakan setiap bulan Hijriah pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Qamariah (kalender Hijriah).

Hari-hari ini disebut “Ayyamul Bidh” atau “hari-hari putih” karena pada malam-malam tersebut bulan purnama bersinar terang.

Adapun perintah melaksanakan puasa Ayyamul Bidh ini berangkat dari hadits Nabi Muhammad S.A.W yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabatnya.

يَا أَبَا ذَرٍّ إذا صُمْتَ من الشَّهرِ ثلاثًا فصُم ثلاثَ عَشرةَ، وأربعَ عشرةَ، وخَمسَ عشرةَ

“Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR. At-Tirmizi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أوْصَانِي خَلِيلِي بثَلَاثٍ لا أدَعُهُنَّ حتَّى أمُوتَ: صَوْمِ ثَلَاثَةِ أيَّامٍ مِن كُلِّ شَهْرٍ، وصَلَاةِ الضُّحَى، ونَوْمٍ علَى وِتْرٍ..

“Kekasihku (Rasulullah Saw) mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga aku mati: berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan salat Dhuha, dan tidur setelah salat Witir.” (HR. Al-Bukhari).

Baca juga: Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2025 Menurut Muhammadiyah dan Versi Kalender Hijriah

BUKA PUASA- Ilustrasi sebuah keluarga saat melaksanakan buka puasa dengan penuh kesederhanaan.
BUKA PUASA- Ilustrasi sebuah keluarga saat melaksanakan buka puasa dengan penuh kesederhanaan. (Pinterest/PNGTree)

Baca juga: Puasa Asyura Tapi Tidak Puasa Tasua, Apakah Boleh? Begini Penjelasan Buya Yahya

Bila melihat hadits dari dua riwayat tersebut, tentu pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan selama tiga hari, yakni tanggal 13, 14 dan 15 Hijriah.

Pertanyaannya, apakah boleh melaksanakan puasa Ayyamul Bidh di luar tanggal tersebut?

Bagaimana menurut Muhammadiyah tentang pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh ini?

Bila merujuk pada perkataan Aisyah ra, istri Rasulullah, terdapat fleksibilitas dalam pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh ini.

Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, bahwa Mu’adzah ra, ia bertanya kepada ‘Aisyah ra:

أَكانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ مِن كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قالَتْ: نَعَمْ، فَقُلتُ لَهَا: مِن أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كانَ يَصُومُ؟ قالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِن أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

“Apakah Rasulullah berpuasa tiga hari setiap bulan?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah bertanya lagi, “Pada hari apa beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau berpuasa.” (HR. Muslim dan At-Tirmizi).

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa tiga hari dapat dilakukan kapan saja dalam sebulan, tidak terpaku pada tanggal 13, 14, dan 15.

Baca juga: Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah Idul Adha Beserta Keutamaan dan Keistimewaannya

Menurut Muhammad Ichsan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam Pengajian Tarjih beberapa waktu silam, terdapat enam varian waktu pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh, di antaranya:

1) berpuasa berturut-turut pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan Kamariah;

2) berpuasa tiga hari pada hari Senin pekan pertama kemudian pada hari Kamis, lalu hari Senin pekan berikutnya;

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved