Senyum di Ujung Usia: Keberkahan di Tengah Keterbatasan

Menikmati masa tua dengan tenang dan sejahtera adalah impian setiap orang, tetapi tidak semua berkesempatan merasakannya.

Tayang:
Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Sumber: youtube/@ownerjestham 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - (09/03/25) Menikmati masa tua dengan tenang dan sejahtera adalah impian setiap orang, tetapi tidak semua berkesempatan merasakannya. Seperti kisah haru seorang Bapak tua berusia 76 tahun yang ditemui Jesica Thamrin saat sedang membagikan sembako kepada mereka yang membutuhkan. Dengan tubuh yang sudah renta, Bapak itu tetap bersemangat mengayuh becaknya setiap hari, meski sering kali hanya memperoleh penghasilan sedikit. Keterbatasan fisik dan kehilangan keluarga tak menyurutkan tekadnya untuk bertahan hidup dengan kemandirian yang menginspirasi.

 

Dari percakapan singkat, terungkap bahwa Bapak tersebut telah bekerja sebagai tukang becak selama delapan tahun. Ketika ditanya tentang keluarganya, Ia hanya tersenyum getir karena anak-anaknya sudah tinggal jauh. Meski hidup sebatang kara, Ia tetap bersyukur dan berusaha menjalani hari dengan ikhlas.

Bapak Pengayuh Becak, Tekun Berjuang di Masa Senja
Bapak Pengayuh Becak, Tekun Berjuang di Masa Senja (TRIBUN MEDAN)

Kehidupan keras tak membuatnya mengeluh. Ketika ditanya tentang pengalaman berharga, sang Bapak justru bercerita tentang kebaikan pelanggan yang sesekali membayar jasanya lebih dari biasanya. Dengan mata berbinar, Ia mengenang saat ada yang membayar Rp50.000,- untuk ongkos becak, sebuah rezeki tak terduga yang membuatnya sangat bersyukur. Jestham mendengar dengan lembut, sekaligus memberi pengingat bahwa kita harus menabur kebaikan setiap hari melalui perkataan, sikap, maupun perbuatan. Nasihat sederhana itu menyimpan makna mendalam tentang betapa pentingnya berbuat baik, sekecil apa pun.

 

Di tengah kesederhanaan hidupnya yang akan segera menyambut hari kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan penuh, Bapak itu tetap berharap bisa membeli baju baru untuk Lebaran. Jestham tak hanya memberikan bantuan sembako, hatinya terawai untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan sederhana tersebut, Ia memberikan sedikit rezeki tambahan, untuk dapat digunakan sang Bapak membeli kebutuhan seperti membeli pakaian terbaik untuk di Hari Raya nanti.

 

Dengan suara bergetar, sang Bapak menganggap bantuan tersebut sebagai rezeki dari Tuhan yang datang tepat pada waktunya. Rupanya, hari itu Ia baru mendapatkan Rp. 20.000,- dari mengayuh becak sejak pagi. Bantuan yang diberikan bukan sekadar tambahan rezeki, melainkan pengingat bahwa kebaikan kecil bisa menjadi berkah besar bagi seseorang yang jarang merasakannya.

 

Jestham pun turut mendoakan Bapak, agar rezekinya dilancarkan dan keluarganya diberkahi sebelum akhirnya berpamitan. Sang bapak mengangguk haru, mengucap syukur atas pertolongan yang datang di saat tepat. Cerita sang Bapak melalui keikhlasannya menerima takdir, seberat apapun perjuangan hidup, percayalah akan ada sentuhan kebaikan dari manapun asalnya yang menjadi cahaya bagi harapan dan asa kita.


Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=3B1ymdjgvng

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved