Kisah Jenderal M Jusuf, Pernah Tampar Pengusaha, Pakai Celana Pendek Temui Presiden Soeharto

Sosok M Jusuf pernah menjabat sebagai Menhankam/Pangab, orang nomor satu di militer Indonesia. 

Kolase/Tribunjambi.com
Kisah Jenderal M Jusuf, Pernah Tampar Pengusaha, Pakai Celana Pendek Temui Presiden Soeharto 

TRIBUN-MEDAN.com - Kisah Jenderal M Jusuf, sang penjaga marwah TNI. Ternyata sang jenderal pernah tampar seorang pengusaha karena temui Presiden Soeharto pakai celana pendek.

Sosok M Jusuf pernah menjabat sebagai Menhankam/Pangab, orang nomor satu di militer Indonesia. 

M Jusuf diketahui sebagai prajurit yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan yang sangat menjaga kehormatan dan marwah TNI. Jenderal bangsawan Bugis ini pernah ikut menumpas pemberontakan RMS di Maluku Selatan. 

Bukan cuma gebrak meja saat rapat kabinet dengan Presiden Soeharto, jenderal penjaga marwah TNI ini sempat menampar seorang konglomerat Tionghoa bernama Liem Sioe Liong gegara menemui Presiden Soeharto cuma pakai celana pendek. 

Selepas menjadi Pangdam XIV Hasanuddin, M Jusuf itu ditarik ke kabinet sebagai menteri perindustrian ringan oleh Presiden Soekarno. Setelah itu menteri perindustrian dasar dan menteri perdagangan. Karier itu berlanjut saat Soeharto naik takhta. 

Pasca Gerakan 30 September 1965, Jusuf bersama Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amir Machmud mendatangi Sukarno dan mendesaknya untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Surat itulah yang menjadi legitimasi Soeharto menggantikan Sukarno.

Di bawah pemerintahan Soeharto, Jusuf yang punya nama lengkap Andi Muhammad Jusuf Amir bertahan sebagai Menteri Perindustrian hingga 1978. Sementara Basuki dijadikan Menteri Dalam Negeri sejak 1966 sampai meninggal dunia pada 8 Januari 1969. Posisinya kemudian diisi Amir Machmud.

Jusuf kembali dikaryakan menjadi perindustrian, tepatnya pada 6 Juni 1968. Atas dasar itu banyak orang tak menyangka ketika Soeharto mengumumkannya sebagai Panglima ABRI/Menhankam menggantikan Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal M Jusuf ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Panglima ABRI pada Maret 1978 mengejutkan banyak kalangan. Bukan apa-apa, Jusuf telah 13 tahun tak berdinas di militer.

“Dibanding Maraden Panggabean yang digantikan, dia (Jusuf) kalah lengkap karier militernya terutama di bidang staf dan teritorial. Tetapi siapa yang berani melawan kehendak Soeharto?,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam buku Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit.

Dalam perjalanannya, Jusuf dikenal sebagai orang dekat Presiden Soeharto. Sekalipun begitu, David Jenkins dalam tulisannya Soeharto & Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983 menggambarkan Jusuf masih sebagai ‘jenderal lingkaran luar Soeharto’.

Popularitas Jusuf sebagai orang nomor satu di ABRI melesat cepat. Dia dianggap bisa menerjemahkan tugas yang diberikan langsung oleh Soeharto yakni manunggal dengan rakyat. Tak hanya itu, mantan ajudan Kahar Muzakkar ini juga dikenal sangat dekat dengan prajurit.

Popularitas itu ternyata memiliki dampak. Lantaran terlalu sukses, jaringan intelijen Soeharto yang dimotori Letjen Leonardus Benyamin Moerdani memasok informasi ke Istana. Jusuf dinilai memiliki ‘ambisi politik’.

Muncullah informasi intelijen yang menyebut niat Jusuf menggalang kekuatan internal untuk menjadi presiden. Ini terbaca dari seringnya dia mengunjungi barak-barak prajurit, serta perhatiannya yang besar terhadap kesejahteraan dan perlengkapan pasukan. 

Soeharto dan Jenderal M Jusuf. (Tribun Lampung/ Kolase)
Soeharto dan Jenderal M Jusuf. (Tribun Lampung/ Kolase) (Tribun Lampung/ Kolase)

“Diduga, Jenderal Jusuf sedang melakukan penggalangan kekuatan—persis yang dilakukan Jenderal Sumitro sebelum peristiwa Malari meletus. Bedanya, Sumitro berorasi di kampus-kampus,” tulis A Pambudi dalam buku Sintong & Prabowo: Dari ‘Kudeta LB Moerdani’ sampai ‘Kudeta Prabowo.

Halaman
123
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved