Berita Asahan Terkini
Oknum Pengabdi Pesantren di Kisaran Peras dan Ancam Bunuh Santri
Pelaku RGRS kerap memintai uang kepada korban dengan ancaman akan memukuli hingga dibunuh bila tidak memberikan uang yang dimintanya.
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN - Bak samsak tinju, seorang santri mengaku dianiaya oleh salah satu pengabdi pondok pesantren di Kelurahan Sentang, Kisaran Timur, Kabupaten Asahan.
Ada seorang siswa yang berani mengungkap perlakuant ak patut ini.
Ia mengaku kerap diperas dan dianiaya oleh seorang pengabdi pondok pesantren.
Pelaku RGRS kerap memintai uang kepada korban dengan ancaman akan memukuli hingga dibunuh bila tidak memberikan uang yang dimintanya.
Korban mengaku, tak hanya dia, ada puluhan siswa lainnya kerap diperas oleh pelaku dengan modus yang sama. Namun, saat ini hanya tiga orang santri yang berani mengungkap perkara ini.
Orang tua korban, Chandra, saat dijumpai tribun-medan.com, mengaku kejadian ini bermula saat korban dan beberapa santri lain dipanggil oleh R untuk masuk ke salah satu ruangan.
Modusnya, pelaku memberikan rokok miliknya kepada korban untuk dinyalakan.
Setelah dipegang oleh korban dan dinyalakan, pelaku sengaja memfoto para korban untuk mengancam akan dilaporkan ke guru bimbingan konseling.
Merasa di atas angin, pelaku langsung memeras para korban untuk memberikan uang kepadanya dengan jumlah yang bervariasi.
Mulai dari Rp 150 ribu, hingga Rp 500 ribu diminta pelaku hampir tiap hari kepada korban.
Hasilnya, seorang siswa sampai berutang hingga Rp 2 juta kepada teman-teman santrinya untuk memenuhi keinginan sang pengabdi.
Bila tidak diberikan, oknum pengabdi ini tidak ragu untuk menganiaya korban hingga korban jatuh sakit dan sempat dilarikan ke rumah sakit.
"Jujur awalnya saya sempat curiga dengan anak saya. Sebelumnya, dia gemuk, di kelas 7 dan 8. Tiba masuk kelas 9, kok anak saya kurus. Dia alasannya diet, tapi saya curiga, saya belikan dia makanan kesukaannya, dimakannya bersih (sampai habis)," ujar orang tua korban, Chandra, Sabtu (13/12/2025).
Lanjut Chandra, kejadian ini terungkap ketika sang anak akhirnya berani buka suara karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakukan pelaku yang merupakan pengabdi santri.
"Saat itu pas tanggal 11 November 2025, anak saya ini menelepon menggunakan ponsel ustadnya, kemudian, disuruhnya kami datang. Satu hari, dia itu ada menelepon sampai 4 kali. Saya masih berfikir positif, karena itu hari ayah, saya pikir dia mau ngasih saya kejutan," ujarnya.
Namun, kejutan tersebut benar adanya, ketika Chandra bertemu dengan korban dan tiga teman lainnya yang juga mengaku diperlakukan serupa oleh pengabdi tersebut.
"Saat itu saya bawa mereka makan di salah satu rumah makan di Kisaran, di sana mereka menceritakan bahwa mereka sudah dikompas (diperas, red) dan dianiaya oleh pelaku RGRS. Keempatnya saat itu mengaku bahwa bila tidak diberikan uang, maka pelaku akan menganiaya anak saya," ungkapnya.
Akhirnya, Chandra menghubungi orang tua dari tiga teman anaknya itu dan menceritakan apa yang dikatakan oleh para santri tersebut.
"Awalnya semua orang tua mendukung, tapi satu dari orang tua akhirnya mundur karena mengaku masih ada lingkaran dengan keluarga pelaku. Itu tidak bisa kita paksa. Hanya, tinggal kami bertiga yang saat ini keberatan," katanya.
Ungkapnya, akibat perbuatan itu, anaknya terpaksa mengutang ke teman-temannya untuk memenuhi permintaan pelaku.
"Kami setiap pekan ngasih ke anak kami ini untuk uang jajannya. Tapi bisa dia ngutang sampai Rp 2 juta?. Rupanya pelaku minta uang ke anak saya ini. Dia manggil naik ke kamar yang sudah dikosongkannya, kemudian di stel musik boxing, dia mukuli anak saya seperti samsak," jelasnya.
Pelaku selalu beraksi tengah malam hingga dini hari ketika para ustad dan pengurus pesantren pulang ke rumah dan sekolah dalam kondisi kosong.
"Anak saya mengaku sudah empat bulan diperlakukan seperti itu oleh pelaku, di kelas 7 dan 8 ga pernah dia sakit, di kelas 9 ini kok sering kali sakit. Saya pikir juga lah dia malas sekolah, rupanya gara-gara si pelaku ini," katanya.
Ungkapnya, pelaku kerap menyiksa anaknya tidak pandang waktu.
Berdasarkan keterangan sang anak, dirinya kerap disiksa meskipun dalam kondisi sakit hingga diancam akan dibunuh.
"Anak saya pernah sakit. Dia tidur, kemudian dipijaknya perut anak saya disuruhnya mencari uang untuk dia. Dia juga menganiaya anak saya sering, di depan teman-teman anak saya. Hanya mereka ga berani angkat suara," katanya.
Ia mengaku, kerap melihat lebam di tubuh anaknya, namun berdasarkan pengakuan sang anak bahwa luka lebam itu akibat olahraga futsal yang diminatinya.
"Kami punya tukang urut, jadi pas diurut, kata tukang urut badan anak saya penuh luka lebam. Tapi ngakunya main futsal. Inilah terakhir dia mengakui bahwa dia beberapa waktu lalu dicekik dan dipukul pelaku, kami lakukan visum, dan benar ada ditemukan cekikan di leher anak saya," ungkapnya.
Melalui kuasa hukumnya, kini keluarga telah melaporkan peristiwa ini ke Polres Asahan untuk ditindaklanjuti oleh Satuan reserse kriminal Polres Asahan.
"Klien kami sudah resmi melaporkan peristiwa ini ke Polres Asahan untuk diproses secara hukum perbuatan pelaku," kata pengacara keluarga korban, Muhammad Deni Royhan Azifa.
Katanya, kini pelaku sudah dikeluarkan dari pesantren dan dikhawatirkan melarikan diri sebelum diamankan oleh petugas.
"Pelaku sekarang sudah tidak di pesantren, dan kami khawatir bisa saja dia kabur. Siapa yang bisa menjamin dia memenuhi panggilan," katanya.
Sementara, korban yang melaporkan peristiwa ini baru satu orang, namun didampingi dua saksi anak.
"Tapi, berdasarkan keterangan korban ini, ada puluhan anak lainnya menjadi korban si pelaku. Tapi sudahlah, kami fokus kepada anak-anak ini, karena mereka trauma. Jadi kami melakukan home schooling bagi para anak-anak ini," katanya.
Ia berharap, Polres Asahan segera mengamankan pelaku karena sudah kembali mengancam korban anak lainnya.
"Ada satu anak yang diancamnya mau dibunuh kalau terlihat di Kota Tanjungbalai. Karena si pelaku orang Tanjungbalai, si anak ini rumah ibunya di Tanjungbalai. Kalau terlihat, anak ini akan dibunuh, begitulah ancamannya," pungkasnya.
(cr2/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| 2 Petugas Bakrie Sumatera Plantation Ditembak saat Patroli di Lokasi Sengketa di Asahan |
|
|---|
| Akses Jalan 20 Tahun Rusak, Puluhan Emak-emak di Asahan Blokir Jalan |
|
|---|
| FF Sekap Mahasiswi setelah Permintaan Berhubungan Intim Ditolak, Pelaku Diringkus Polres Asahan |
|
|---|
| Buntut Sopir Panik, Innova Dihantam Kereta Api Putri Deli di Perlintasan tanpa Palang di Asahan |
|
|---|
| 18 SPPG Kabupaten Asahan Ditutup Sementara, Siswa Tak Dapat MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Santri-Korban-Pemerasan-Pengabdi-Pesantren-di-Kisaran_.jpg)