Juli Fathiyah, Mengubah Banyak Kemampuan Menjadi Peluang

Sejak kecil, ia sudah terbiasa bekerja keras dan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

Tayang:
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
IST
Bagi Juli Fathiyah, perempuan memiliki ruang untuk berkembang di banyak bidang sekaligus selama memiliki kemauan belajar, keberanian mencoba, dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Banyak perempuan harus memilih satu jalan dalam hidupnya. Ketika sudah berkarier, mereka merasa sulit mengembangkan passion lain. Saat mulai berbisnis, mereka khawatir tidak bisa menyeimbangkan kehidupan keluarga.

Namun bagi Juli Fathiyah, perempuan memiliki ruang untuk berkembang di banyak bidang sekaligus selama memiliki kemauan belajar, keberanian mencoba, dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri.

Perempuan kelahiran Medan, 10 Agustus 1988 ini dikenal sebagai Branch Manager BSI KCP Medan USU. Namun di luar profesi tersebut, ia juga aktif sebagai makeup artist, influencer, entrepreneur, instruktur makeup di Balai Pelatihan Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan, hingga endorser berbagai produk.

Perjalanan panjang itu tidak lahir dari kehidupan yang serba mudah. Juli tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia sudah terbiasa bekerja keras dan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Dari kecil saya memang sudah terbiasa mandiri. Saya pernah jualan kue, jual kacang tojin, kemudian saat SMP, SMA sampai kuliah saya juga mengajar les bahasa Inggris, matematika, dan pelajaran lainnya,” ujarnya.

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Juli merasa memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding adik-adiknya. Posisi tersebut tanpa disadari membentuk karakter kepemimpinan yang membantunya dalam perjalanan karier.

Baca juga: BARU Perawatan, Wajah Eva Manurung Dipuji Jordan Ali Habis-habisan, Dibilang Awet Muda Tanpa Make Up

“Sebagai anak pertama tentu harus menjadi contoh bagi adik-adik. Kalau jiwa kewirausahaan juga sudah ada sejak kecil karena memang suka jualan dan ingin punya penghasilan sendiri,” katanya.

Bahkan saat masih sekolah dan kuliah, Juli sudah mencoba berbagai peluang usaha yang sedang berkembang saat itu. Baginya, setiap pengalaman adalah proses belajar yang berharga.

Ketika ditanya mengenai cita-cita masa kecilnya, jawabannya cukup sederhana. Ia ingin bekerja di bank.

Kala itu, profesi pegawai bank terlihat menarik di matanya. Penampilan yang rapi, lingkungan kerja yang profesional, dan kebanggaan yang melekat pada profesi tersebut membuatnya bercita-cita meniti karier di dunia perbankan.

“Dulu kalau melihat orang kerja di bank itu rasanya keren. Pakaiannya rapi, terlihat profesional, dan ada kebanggaan tersendiri. Dari situ saya ingin bekerja di bank,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 5 Medan dan melanjutkan kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), impian itu akhirnya terwujud.

Pada tahun 2010, Juli memulai karier di dunia perbankan sebagai teller. Namun ia tidak berhenti di satu posisi. Berkat konsistensi dan kemauan belajar, ia terus berkembang dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.

“Semua proses sudah saya jalani. Mulai dari teller, funding officer, marketing, sampai akhirnya dipercaya menjadi Branch Manager BSI KCP Medan USU,” katanya.

Menurut Juli, perjalanan menuju posisi tersebut tidak selalu mudah. Industri perbankan memiliki target dan tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Namun tantangan terbesar justru sering datang dari diri sendiri.

“Pasti ada masa bosan, ada masa lelah, ada masa merasa sulit mencapai target. Tantangannya adalah bagaimana kita melawan rasa bosan itu dan tetap bisa memberikan kontribusi terbaik,” ujarnya.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Juli pernah meraih penghargaan sebagai salah satu Best Branch Manager dan mendapatkan berbagai apresiasi dalam sejumlah kategori pencapaian bisnis perbankan.

Meski demikian, penghargaan yang paling membanggakan baginya bukanlah penghargaan pribadi.

“Yang paling membuat saya bangga adalah melihat tim berkembang. Ada anggota tim yang menjadi Best Sales Power tingkat nasional. Melihat orang-orang berkembang di bawah kepemimpinan kita itu punya kepuasan tersendiri,” katanya.

Bagi Juli, seorang pemimpin bukan hanya bertugas memberikan arahan, tetapi juga harus mampu merangkul tim dan menciptakan rasa memiliki.

“Kita harus tahu kapan menjadi pemimpin dan kapan menjadi teman. Tim harus merasa bahwa apa yang kita lakukan juga untuk mereka. Kantor ini bukan hebat karena satu orang, tetapi karena kerja bersama,” ujarnya.

Temukan Passion jadi MUA

Di tengah kesibukan sebagai pimpinan cabang bank, Juli menemukan dunia lain yang kemudian menjadi passion besar dalam hidupnya, yakni makeup.

Ketertarikannya muncul pada tahun 2014 setelah melihat karya makeup artist Ricky Peranginangin.

“Waktu itu saya melihat Bang Ricky dan berpikir, ternyata seru juga menjadi makeup artist. Bisa membuat orang tampil cantik, pekerjaannya menyenangkan, dan punya peluang yang bagus,” katanya.

Rasa penasaran itu membawanya belajar langsung dari Ricky Peranginangin. Setelah itu, ia terus mengembangkan kemampuan secara mandiri melalui berbagai sumber, termasuk belajar secara otodidak melalui YouTube.

Menurutnya, setiap makeup artist harus memiliki karakter dan ciri khas sendiri.

“Walau pun belajar dari orang lain, kita tetap harus punya signature sendiri. Tarikan makeup setiap orang pasti berbeda,” ujarnya.

Proses belajar tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika hasil riasannya belum sesuai harapan, bahkan mendapat kritik dan komentar negatif. Namun semua itu tidak membuatnya menyerah.

“Pasti pernah hasilnya kurang bagus atau diejek orang. Tapi itu biasa. Yang penting tetap belajar dan membuktikan bahwa kita bisa memberikan hasil terbaik,” katanya.

Seiring waktu, Juli mulai dikenal sebagai makeup artist dengan ciri khas pada bagian mata dan alis. Menurutnya, banyak klien berhijab yang membutuhkan tampilan natural tetapi tetap tegas dan elegan pada area tersebut.

Selain terus mengembangkan diri sebagai makeup artist, Juli juga dipercaya menjadi instruktur makeup di Balai Pelatihan Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan. Kesempatan tersebut hadir melalui kerja sama yang terjalin antara dunia perbankan dan lembaga pelatihan.

Baginya, pengalaman mengajar memberikan kepuasan tersendiri karena dapat berbagi ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya senang bisa berbagi ilmu. Apalagi kalau ilmu itu bisa membantu orang mendapatkan penghasilan tambahan atau membuka usaha sendiri,” ujarnya.

Menurut Juli, keterampilan paling penting yang harus dimiliki seorang makeup artist pemula bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga mental yang kuat.

“Skill itu wajib. Jangan jadi makeup artist hanya karena ikut-ikutan. Selain skill, mental juga harus siap. Kita tidak mungkin langsung berhasil. Pasti ada kritik, cibiran, dan proses panjang yang harus dilewati,” katanya.

Perjalanan Juli kemudian berkembang ke dunia media sosial. Awalnya, ia menerima berbagai tawaran endorsement dan mulai aktif membuat konten yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mau pun dunia kecantikan. Seiring waktu, jumlah pengikutnya terus bertambah.

Konten tutorial makeup dan konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi jenis konten yang paling disukai para pengikutnya.

Meski aktif sebagai influencer, Juli menilai kepercayaan audiens adalah hal yang paling penting.

“Kita harus menjaga integritas. Jangan menipu, jangan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, dan harus memberikan dampak positif. Menjadi influencer bukan hanya soal banyak followers, tetapi bagaimana kita bisa bermanfaat,” ujarnya.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved