Berita Viral

IRAN Berhasil Rudal Kota Dimona dan Arad, PM Benjamin Netanyahu: Malam yang 'Sulit' bagi Israel

Iran berhasil merudal wilayah selatan Israel, termasuk kota Dimona dan Arad. Serangan ini menjadi salah satu eskalasi paling signifikan

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
ABS News
PM Israel Benjamin Netanyahu 

Yang membedakannya adalah respons tersebut tidak didefinisikan di pinggiran, tetapi di kedalaman strategis lawan—suatu area yang sampai baru-baru ini hanya sedikit yang percaya dapat dicapai.

Ini mencerminkan pergeseran tingkat konfrontasi dari pinggiran ke pusat.

Terakhir, klaim berulang yang dibuat oleh Donald Trump tidak dapat diabaikan.

Ia berulang kali berbicara dengan yakin tentang "penghancuran" atau "kelumpuhan" kemampuan rudal Iran — pernyataan yang seringkali lebih menyerupai perang psikologis daripada penilaian realistis.

Apa yang terjadi malam ini disajikan sebagai respons praktis terhadap narasi tersebut.

Kemampuan yang dikatakan telah dinetralisir kini muncul dalam pengaturan operasional nyata — bukan dalam uji coba atau demonstrasi, tetapi selama konfrontasi aktif.

Bagi pengamat profesional mana pun, kesimpulan yang lebih luas jelas: target yang dipilih, tingkat perlindungannya, kedalaman geografisnya, dan waktu operasi semuanya menunjukkan bahwa ini bukanlah tindakan biasa.

Ini mewakili pesan berlapis-lapis — yang ditujukan secara bersamaan kepada Tel Aviv, Washington, dan opini publik regional — yang menyampaikan bahwa keseimbangan kekuatan, bertentangan dengan narasi resmi selama bertahun-tahun, bukanlah satu sisi, dan bahwa setiap penilaian yang dibangun berdasarkan asumsi pelemahan Iran tetap terputus dari realitas di lapangan.

REAKTOR NUKLIR ISRAEL
REAKTOR NUKLIR ISRAEL: Citra satelit yang diyakini sebagai pusat nuklir Israel di Kota Dimona.

Baca juga: TERBARU Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Beri Waktu 48 Jam

China dan Rusia Diduga Bagikan Sistem Navigasi Satelit ke Iran

Di sisi lain, China dan Rusia diduga membagikan citra satelit dan teknologi kepada Iran untuk menargetkan pertahanan militer AS dan Israel. Demikian disebutkan dalam sebuah laporan oleh The Wall Street Journal.

WSJ melaporkan Moskow terus memperluas pertukaran intelijen dan kerja sama militer dengan Teheran. Langkah ini membantu sekutu Timur Tengahnya tersebut menghadapi AS dan Israel, yang melancarkan perang hampir tiga minggu lalu.

Menurut laporan tersebut, teknologi yang diberikan oleh Rusia ke Iran mencakup komponen-komponen drone Shahed yang telah dimodifikasi, yang bertujuan meningkatkan komunikasi, navigasi, dan kemampuan penargetan terhadap pasukan AS.

Dikutip dari Anadolu, seorang perwira senior intelijen Eropa mengatakan ke WSJ bahwa bantuan kepada Iran ini diadaptasi dari pengalaman drone Rusia dalam perangnya di Ukraina. 

Iran antara lain mendapatkan pengetahuan seperti jumlah drone yang sebaiknya dikerahkan dalam suatu operasi dan dari ketinggian berapa serangan harus dilakukan. Russia memang mengimpor Shahed dari Iran, tapi menyempurnakannya dalam perang dengan Ukraina.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa Rusia telah memberikan informasi kepada Iran mengenai lokasi pasukan militer AS di Timur Tengah, serta lokasi sekutu-sekutu regionalnya melalui satelit.Data dari langit ini dapat membantu proses penentuan target sebelum serangan dilakukan, serta penilaian kerusakan pascaserangan.

Menurut para pejabat, data yang diberikan Moskow kepada Teheran berasal dari armada satelit yang dikelola oleh Pasukan Dirgantara Rusia, yang bertugas menyediakan intelijen untuk operasi militer.

Meskipun Iran diduga menerima bantuan dari Rusia, pemerintah AS mengklaim bahwa hal tersebut tidak membahayakan operasi militer AS. "Tidak ada bantuan apa pun yang diberikan oleh negara lain kepada Iran yang memengaruhi keberhasilan operasi kami," tegas juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales.

Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah laporan Wall Street Journal itu, yang menyebutkan bahwa Rusia membagikan citra satelit dan teknologi drone canggih kepada Iran. Ia menyebutnya sebagai berita palsu.

Sistem Navigasi China

Bukan hanya teknologi Rusia, Iran juga diduga memakai sistem navigasi satelit China untuk menarget aset militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Mantan direktur intelijen Prancis, Alain Juillet, mengatakan ada kemungkinan Iran diberi akses sistem navigasi BeiDou karena penargetan Iran jadi jauh lebih akurat dibanding perang dengan Israel tahun lalu.

"Salah satu kejutan perang ini adalah rudal Iran lebih akurat dibanding perang delapan bulan lalu, memunculkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu rudal-rudal tersebut," kata Juillet, direktur intelijen General Directorate for External Security (GDES) Prancis tahun 2002 hingga 2003.

Meski Israel dan negara-negara Teluk mencegat banyak rudal, namun sebagian tembus.

AS dapat mengacak atau menolak akses Global Positioning System (GPS) yang sebelumnya diandalkan militer Iran. Namun AS tak dapat berbuat banyak untuk mengganggu sistem BeiDou jika sistem itu yang digunakan.

Apa itu Sistem Satelit Navigasi BeiDou (BDS)?

China meluncurkan BeiDou sebagai pesaing GPS tahun 2020 yang diresmikan Presiden Xi Jinping.

China mengembangkan navigasi satelit sendiri setelah krisis Taiwan 1996 karena khawatir Washington membatasi akses ke GPS. Sistem China menggunakan jauh lebih banyak satelit.

Menurut data AJ Labs dari Al Jazeera, sistem China mengandalkan 45 satelit. Sementara sistem GPS AS memiliki 24 satelit. Sistem navigasi global lainnya adalah GLONASS milik Rusia dan sistem Galileo milik Uni Eropa, yang masing-masing memiliki 24 satelit.

Situs web BeiDou menyebut sistemnya terdiri dari tiga segmen, segmen ruang angkasa, segmen darat, dan segmen pengguna. "Akurasi bervariasi tergantung tingkat layanan," kata analis militer Elijah Magnier.

"Sinyal sipil terbuka umumnya memberi akurasi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas bagi pengguna resmi dapat menawarkan presisi jauh lebih tinggi."

Namun tudigan ini membuat Iran bungkam. Juga tidak jelas apakah memindahkan operasi militer ke sistem navigasi satelit berbeda dimungkinkan dalam waktu singkat sejak perang dengan Israel tahun lalu. Namun, Juillet menilai beralih ke sistem BeiDou adalah penjelasan realistis tentang bagaimana Iran meningkatkan akurasi secara drastis. "Target penting berhasil dihantam,"sebutnya.

Ahli meyakini Iran menggabungkan sistem navigasi China jauh lebih lama. 

Theo Nencini, peneliti hubungan China-Iran menyebut di 2015, Iran menandatangani kesepahaman untuk mengintegrasi BeiDou-2 ke infrastruktur militer, untuk meningkatkan pemandu rudal dengan sinyal jauh lebih akurat dari GPS sipil yang sebelumnya digunakan.

Implementasi bertahap, namun tampaknya dipercepat setelah Kemitraan Strategis Sino-Iran ditandatangani Maret 2021, ketika China diyakini memberi Iran akses sinyal militer terenkripsi milik BeiDou.

"Sejak itu, militer Iran mulai menggabungkan BeiDou ke pemandu rudal dan drone, serta ke jaringan komunikasi aman tertentu," kata Nencini.

Pergeseran itu berarti Iran mulai menghapus penggunaan GPS AS secara bertahap. Iran diyakini baru menyelesaikan transisi ke BeiDou di Juni 2025, termasuk untuk penggunaan sipil.

Bagaimana BeiDou meningkatkan akurasi?

Sistem BeiDou dapat dipakai memandu rudal balistik Iran dengan akurasi jauh lebih baik.

Sistem navigasi China diyakini punya margin kesalahan kurang dari semeter, juga dapat secara otomatis mengoreksi arah target jika target bergerak.

"Itu secara signifikan lebih baik daripada apa yang dimungkinkan sinyal GPS sipil, mengingat AS membatasi akses sinyal militer terenkripsinya untuk musuh-musuhnya," kata Nencini kepada Al Jazeera.

Sistem ini juga kemungkinan membantu Iran mengakali sistem pengacakan yang digunakan Israel.

"Tak seperti sinyal GPS kelas sipil yang dilumpuhkan, sinyal tingkat militer milik BDS-3 pada dasarnya tidak dapat diacak,"ujar analis militer, Patricia Marins.

BeiDou juga memungkinkan operator berkomunikasi dengan drone atau rudal sejauh 2.000 km saat mereka sedang terbang. Berarti rudal berpotensi dapat diarahkan ulang setelah diluncurkan.

(*/Tribun-medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

Baca juga: TRUMP Kerahkan Jet Tempur Thunderbolt Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Misi Buka Jalur Minyak

Baca juga: AS Jatuhkan Bom Seberat 2,2 Ton, Hantam Fasilitas Rudal Bawah Tanah Iran di Dekat Selat Hormuz

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved