Fenomena Langit

Ingin Potret Fenomena Pink Moon? Perhatikan Langkah-langkah Berikut Ini

Yang harus diperhatikan sebelum memotret fenomena Pink Moon atau Bulan Merah Muda adalah cuaca dan alat foto.

Tayang:
Editor: Array A Argus
Pinterest/pngtree
PINK MOON- Ilustrasi fenomena Pink Moon atau Bulan Merah Mudah yang diperkirakan akan terjadi pada April 2026 mendatang. 

Sebagai gambaran, di Jakarta pada Rabu (25/3/2026), waktu Maghrib berlangsung sekitar pukul 18.01 WIB, sedangkan matahari terbit pada pukul 05.56 WIB.

“Purnama dapat diamati mulai Maghrib sampai menjelang matahari terbit,” kata Thomas.

Menariknya, fenomena ini bisa disaksikan tanpa alat bantu.

“Dapat diamati tanpa alat, atau menggunakan teleskop dan kamera untuk hasil lebih optimal,” tambahnya.

Baca juga: Apa Itu Kabut Adveksi, Fenomena Alam yang Menyelimuti Bali, Simak Penjelasannya

Namun, menurut laman Unesa, puncak purnama Pink Moon April 2026 akan jatuh pada hari Kamis, 2 April 2026 pukul 09:11 WIB.

Karena pada jam puncak tersebut matahari sudah terbit tinggi di langit Indonesia, waktu paling dramatis untuk mengagumi keindahannya adalah pada malam sebelumnya (Rabu malam, 1 April) saat bulan baru terbit, atau pada Kamis malam harinya.

Di tahun ini, Pink Moon juga akan ditemani oleh bintang terang kebiruan bernama Spica dari rasi bintang Virgo.

Pemandangan yang sangat sayang dilewatkan!

Baca juga: Fenomena Alam Langka Mirip Tornado Terjadi di Tengah Danau Toba, BMKG Silangit Berikan Penjelasan

GERHANA BULAN- Ilustrasi fenomena gerhana bulan atau gerhana bulan total yang bakal terjadi, Jumat (14/3/2025). Fenomena alam ini hanya bisa disaksikan di wilayah Timur Indonesia.
GERHANA BULAN- Ilustrasi fenomena gerhana bulan atau gerhana bulan total yang bakal terjadi, Jumat (14/3/2025). Fenomena alam ini hanya bisa disaksikan di wilayah Timur Indonesia. (Pinterest/Aksiografi.com)

Logika dan Hitungan Matematika

Masih dari laman Unesa, fenomena langit atau fenomena astronomi seperti Pink Moon ini dapat dihitung detik kemunculannya bukan tebakan acak, melainkan kekuatan luar biasa dari matematika. 

Lewat perhitungan yang rapi, fenomena alam yang tampak misterius ini bisa dipahami dengan logika yang mengagumkan, sebuah bukti nyata betapa pentingnya pendidikan bermutu di bidang sains.

Baca juga: Tembagapura Papua Turun Hujan Salju, BMKG Sebut Ini Fenomena Alam Langka yang Terjadi di Indonesia

Unesa mencontohkan, jika Bumi dan Bulan sedang berlari di lintasan atletik yang mengelilingi Matahari, Bulan butuh waktu sekitar 27,3 hari (Periode Sideris) untuk mengelilingi Bumi satu putaran penuh.

Namun, karena Bumi juga terus bergerak maju mengelilingi Matahari, Bulan harus "berlari sedikit lebih jauh" agar posisinya kembali sejajar antara Bumi dan Matahari untuk bisa memantulkan cahaya purnama.

"Jika gerak Bulan tampak teratur, apakah itu berarti alam memiliki pola tersembunyi yang bisa dihitung?"

Baca juga: Viral di Medsos Pria Asal Aceh Konsumsi Sabu di Halaman Rumah Warga di Binjai, Kini Ditangkap Polisi

Kejaran-kejaran kosmik ini diringkas oleh para matematikawan ke dalam sebuah rumus kecepatan yang indah (persamaan kecepatan sudut):

Dalam bahasa matematika yang lebih elegan, kita mencari Periode Sinodis ():

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved