Konflik Timur Tengah

Ancaman Baru Donald Trump Blokade Selat Hormuz, Nego AS-Iran Buntu

Perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad tak menemui kesepakatan.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
TRIBUN MEDAN/DOK GOOGLE MAPS
SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. 

TRIBUN-MEDAN.com - Perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad tak menemui kesepakatan.

Jalan buntu negosiasi tersebut membawa dampak kurang baik.'

Amerika dikabarkan melontarkan ancaman baru pada Iran yang enggan penghentian pengayaan nuklir dan enggan melepas kendali Selat Hormuz.

Pihak Iran menilai AS gagal membangun kepercayaan.

PRESIDEN AS: Kolase Presiden AS Donald Trump dan konflik Iran vs Israel.
PRESIDEN AS: Kolase Presiden AS Donald Trump dan konflik Iran vs Israel. (Kolase Tribun/kompas)

Sementara Presiden AS Donald Trump justru mengancam akan memblokade Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan delegasi AS tidak mampu memenuhi ekspektasi Teheran dalam putaran negosiasi tersebut.

 

Di sisi lain, Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap memblokade kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia.

Iran menolak tuntutan utama Washington, termasuk penghentian pengayaan nuklir dan pelepasan kendali atas Selat Hormuz.

 

Sikap ini justru mendapat dukungan dari sejumlah pejabat dan kelompok garis keras di dalam negeri.

Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei memuji delegasi Iran karena dinilai mampu mempertahankan “garis merah” negara.

Ketika delegasi-delegasi terlibat dalam pembicaraan pada Sabtu malam, seorang anggota divisi kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ditayangkan oleh televisi pemerintah yang mengatakan kepada para pendukung yang mengibarkan bendera di pusat kota Teheran agar tidak khawatir.


“Jika musuh tidak mengerti, kami akan membuat mereka mengerti,” kata pria yang mengenakan pakaian militer dan masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya, disambut sorak sorai dari kerumunan, yang sebagian di antaranya menuntut lebih banyak serangan rudal dan pesawat tak berawak dari IRGC.

Sementara itu, sejumlah anggota parlemen menyebut kegagalan negosiasi sebagai hal positif karena Iran dianggap berada dalam posisi lebih kuat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved