Berita Viral

Soal MBG Butuh 19.000 Sapi Per Hari, Dalih Kepala BGN: Itu Hanya Pengandaian

Polemik soal kebutuhan belasan ribu sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penjelasan dari Kepala BGN.

Editor: AbdiTumanggor
(Kompas.com)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan soal program MBG membutuhkan 19.000 ekor sapi per hari untuk produksi menu makanan.

Kata Dadan, angka yang sempat menjadi sorotan publik itu bukan kebutuhan riil, melainkan sekadar ilustrasi perhitungan. 

Dadan Hindayana menegaskan bahwa angka 19.000 ekor sapi hanyalah simulasi berbasis asumsi tertentu bukan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," kata Dadan, seperti dikutip dari Tribunnews.com, Sabtu (25/4/2026).

Dadan menjelaskan, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram. Jumlah itu setara dengan satu ekor sapi untuk sekali produksi.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi," ujarnya berandai-andai.

Namun, skenario tersebut hanya berlaku jika seluruh dapur MBG di Indonesia secara bersamaan memasak menu berbahan dasar daging sapi sesuatu yang sejauh ini tidak pernah diterapkan.

Dadan mencontohkan momen peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, ketika menu nasi goreng dan telur disajikan untuk sekitar 36 juta penerima manfaat. Dampaknya cukup signifikan terhadap pasar.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp 3.000," ungkapnya.

Lonjakan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan menu seragam bisa memberi tekanan besar pada pasokan dan harga pangan.

Untuk menghindari dampak serupa, BGN memilih pendekatan yang lebih fleksibel. Menu MBG disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

Langkah ini tidak hanya menjaga stabilitas harga di pasar, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal supaya tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," pungkas Dadan.

Antara Kebutuhan Gizi dan Stabilitas Pasar

Penjelasan ini menegaskan bahwa program MBG tidak sekadar soal memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan pasar.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved