Breaking News

Berita Nasional

Respons Seskab Teddy Dikritik Dino Patti Djalal, Beri Apresiasi tapi Sindir Masa Jabatan

Namun, ia juga menyindir masa jabatan Dino yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan pada 2014.

Tayang:
TRIBUN MEDAN
KUNJUNGAN LUAR NEGERI PRABOWO – Kolase Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya (kiri) dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal (kanan) saat menyampaikan pernyataan terkait kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto melalui media sosial. Dalam tanggapannya atas kritik Dino, Teddy menyinggung masa jabatan Dino saat pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri. 

TRIBUN-MEDAN.com - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjawab kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.

Kritik tersebut menyangkut frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dianggap berlebihan dan membebani anggaran.

Hubungan antara pejabat aktif dan pengamat senior kembali menjadi sorotan setelah Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik mantan Dino Patti Djalal.

Teddy mengapresiasi kritikan Dino, namun ia pun menyindir masa jabatan sang mantan wamenlu itu.

Beri Apresiasi Lalu Menyindir 

Dalam video resmi yang dirilis Sekretariat Kabinet RI pada Senin (1/6/2026), Teddy menyampaikan apresiasi atas masukan Dino yang dinilai cermat dan terstruktur.

Namun, ia juga menyindir masa jabatan Dino yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan pada 2014.

“Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” kata Teddy dalam video resmi yang dirilis Senin (1/6/2026).

Sebagai catatan, Dino Patti Djalal menjabat Wakil Menteri Luar Negeri pada akhir masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Juli hingga Oktober 2014.

Teddy menekankan bahwa kunjungan luar negeri Presiden bukan sekadar seremonial atau “gagah-gahan”.

Kritik Dino Patti Djalal menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai perlu menjadi perhatian publik, termasuk dari sisi biaya perjalanan serta persepsi bahwa sebagian agenda bersifat seremonial.

Meluruskan Tudingan “Gagah-gahan”

Menanggapi kritik tersebut, Teddy menilai terdapat kekeliruan framing yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial atau “gagah-gahan”.

Ia menegaskan Presiden Prabowo menjabat di tengah situasi global yang diwarnai berbagai krisis, sehingga diplomasi tidak bisa dibangun secara instan, melainkan melalui hubungan jangka panjang antar pemimpin negara.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gahan atau seremonial,” tegas Teddy.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved