PDI Perjuangan SUmut

PDIP Sumut Hadir di Sipange yang Terisolasi 10 Hari: Rapidin Tempuh Lumpur dan Gelondongan Kayu

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Drs Rapidin Simbolon MM menyusuri jalan berlumpur dan gelondongan kayu menuju Kelurahan Sipange

Tayang:
Editor: Arjuna Bakkara
@falconpictures_/Arjuna Bakkara
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Drs Rapidin Simbolon MM menyusuri jalan berlumpur dan gelondongan kayu menuju Kelurahan Sipange Kecamatan Tukka Kabupaten Taput yang terisolasi hingga Jumat (5/12/2025). Rapidin mendesak pemerintah segera membuka akses agar bantuan darurat bisa menjangkau desa ini. 

TRIBUN-MEDAN.COM, SIPANGE TAPANULI TENGAH-Menyusuri jalan berlumpur, diapit lautan gelondongan kayu yang berserakan, Rapidin Simbolon melangkah perlahan menuju Sipange.

Jumat siang (5/12/2025), Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut itu tiba di bekas permukiman yang luluh lantak. 

Perjalanan sejauh tiga kilometer dari Kelurahan Hutanabolon sebagian ditempuh dengan berjalan kaki, melewati jalur yang terputus dan tanah yang masih basah oleh sisa longsor.

Di Sipange, pemandangan yang menyambut bukan sekadar kehancuran. Tiga ruas jalan utama lumpuh total, tertimbun longsor.

Di titik tertentu, jalan patah seperti teriris, memutus urat nadi desa. Warga yang tersisa hidup dalam isolasi. Bantuan sulit menjangkau.

Rumah-rumah ambruk. Ada yang hilang sama sekali, digantikan tumpukan lumpur, kayu bulat berdiameter raksasa, dan batu-batu sebesar kerbau.

Tiang listrik roboh, kabel berserakan. Di setiap sudut mata, terasa sunyi dan kelelahan.

Sebagian warga yang masih memiliki dinding dan atap seadanya bertahan dengan cangkul dan tangan kosong.

Mereka membersihkan lumpur perlahan, berharap esok memiliki tempat tidur kering.

Setelah berdialog dengan para pengungsi, Rapidin dan rombongan menyaksikan sendiri bagaimana bantuan harus dibawa tanpa kendaraan.

Beras dan kebutuhan pokok dipikul bergotong royong. Jalan menuju Sipange memang hanya sepuluh kilometer dari ibu kota kabupaten, namun dalam keadaan seperti ini, jarak terasa seperti puluhan mil.

“Saya benar-benar bisa merasakan penderitaan mereka. Untuk mendapatkan lima kilogram beras saja, orang harus berjalan jauh dan merangkak melewati lumpur,"ujarnya.

Muara Sitompul, seorang warga yang rumahnya hilang, berdiri dengan pandangan kosong di lokasi tempat rumahnya pernah berdiri. “

Sudah sebelas hari kami terisolasi,” katanya pelan. Seratus rumah rubuh. Gereja hancur. Jalan putus,"tuturnya.

Ia mengaku tak pernah menyangka, seorang anggota DPR RI akan menembus daerah terisolasi hingga ke kampung mereka.

“Kami terharu dikunjungi. Kami percaya, Pak Rapidin bisa menyuarakan penderitaan kami di pemerintahan pusat,” ujar Muara.

Menurutnya, 6.000 jiwa terdampak di wilayah itu. “Inilah yang longsor di Sipange, inilah jalan aspal yang sudah hilang,” katanya sambil menunjuk bekas permukaan jalan yang kini hanya tumpukan kayu dan batu. 

Di kesempatan yang sama, Muara Sitompul memaparkan langsung kepada Rapidin bagaimana warga bertahan dalam kondisi serba kekurangan setelah banjir dan longsor.

Rumah-rumah hilang, jalan utama putus, dan selama sebelas hari mereka terisolasi tanpa kepastian bantuan.

“Seratus rumah rubuh. Gereja pun hancur. Kami benar-benar terputus dari dunia luar,"katanya lirih. 

Rapidin menyatakan akan memperjuangkan agar bencana di Tapanuli Tengah ditetapkan sebagai bencana nasional.

“Kalau tidak ditetapkan, pemulihan mustahil. Infrastruktur harus dibuka. Tiga jalur akses ini harus dibebaskan supaya bantuan bisa masuk,” tegasnya.

Sementara bantuan yang dibawa, dari beras hingga kebutuhan darurat, akhirnya tiba juga diangkut di atas pundak, bergantian, melalui lumpur dan tumpukan kayu.(Jun-tribun-medan.com).

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved