PDI Perjuangan Sumut

Ketua DPD PDIP Sumut Sumbang Moril Untuk Tradisi Marbinda: Rawat Semangat Gotong Royong & Pancasila

KEgiatan yang didukung Ketua DPD PDIP Sumut Drs Rapidin Simbolon MM sebagai upaya melestarikan kearifan lokal

Tayang:
Editor: Arjuna Bakkara
TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara
Warga Huta Sibingke, Desa Sibengke, Kecamatan Pangaribuan, Tapanuli Utara, bergotong royong membagikan daging dalam tradisi Marbinda, Sabtu (20/12/2025), sebagai wujud kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat desa. Kegiatan ini didukung Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Drs Rapidin Simbolon MM sebagai upaya melestarikan kearifan lokal dan memperkuat gotong royong masyarakat desa. 

TRIBUN-MDEAN.COM, TAPANULI UTARA-Puluhan warga Huta Sibingke, Desa Sibengke, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, menggelar tradisi marbinda dengan membagikan daging secara merata kepada 78 kepala keluarga, Sabtu (20/12/2025), dalam kegiatan yang didukung Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Drs Rapidin Simbolon MM sebagai upaya melestarikan kearifan lokal dan memperkuat gotong royong masyarakat desa.

Akhir tahun sering dirayakan dengan hiruk-pikuk wisata, gemerlap lampu, dan pesta konsumsi. Tetapi di Huta Sibingke, Desa Sibengke, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, waktu justru diperlambat.

Di sana, akhir tahun dirayakan dengan cara lama berkumpul, berbagi, dan merawat persaudaraan.

Sekitar 78 kepala keluarga berhimpun dalam satu lingkaran kebersamaan. Mereka menghidupkan kembali marbinda tradisi Batak yang bukan sekadar soal membagi daging, melainkan membagi rasa adil dan kebersamaan.

Tradisi ini digelar oleh Ale-ale Rapidin yang menamai diri mereka Aladin sebagai sahabat dan relawan Rapidin Simbolon, Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara.

Bukan perayaan glamor, bukan pula seremoni politik. Yang tampak hanyalah gotong royong, pisau yang bekerja bersama, dan tangan-tangan yang saling percaya.

Puluhan warga bergotong royong menyembelih hewan.

Dagingnya dibagi rata kepada 78 keluarga, bukan berdasarkan timbangan kilogram, melainkan ukuran adat yang disebut saumpang satu tumpukan yang disepakati bersama.

Dari kulit hingga isi perut ternak, semuanya dibagi. Tak ada yang lebih, tak ada yang kurang. Tak ada debat.

“Ini bukan soal daging,” kata seorang penatua kampung.

“Ini pardomu-domuan dongan sahuta atau cara kami berkumpul sebagai satu kampung,"ujar penetua kampung.

Sebagian sisa hasil pembagian dimasak bersama dengan sistem masak tolu, seadanya, lalu disantap bersama sebelum masing-masing kembali ke rumah.

Di meja sederhana itulah, percakapan mengalir, tawa dibagi, dan jarak sosial dilebur.

Penatua kampung menyampaikan terima kasih kepada Rapidin Simbolon.

“Sampai urusan begini pun masih diperhatikan kami,” ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved