PDI Perjuangan Sumunt

Fit and Proper Test PAC Pematangsiantar: PDIP Sumut Target Menang 2029, Rebut Hak Rakyat Terzalimi

Ketua DPD Sumatera Utara didampingi Ketua DPC PDIP Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga, membuka fit and proper tes

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Arjuna Bakkara
TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara
Ketua DPD Sumatera Utara Drs Rapidin Simbolon MM, (tengah), didampingi Ketua DPC PDIP Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga, membuka kegiatan pendidikan politik dan fit and proper test calon Ketua PAC di Kantor DPC PDIP Kota , Selasa (24/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari konsolidasi internal partai menjelang Pemilu 2029. 

TRIBUN-MEDAN.COM, PEMATANSIANTAR-Ruang pertemuan Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Pematangsiantar, Selasa (24/2/2026), dipenuhi kader dari berbagai kecamatan.

Spanduk kegiatan pendidikan dan orientasi politik terpasang di dinding, sementara satu per satu calon Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) mengikuti fit and proper test yang digelar partai.

Fit and Proper Test tersebut dibuka secara langsung oleh Ketua DPD PDIP SUmut Drs Rapidin Simbolon MM didampingi Ketua DPC PDIP Pematangsiantar, Timbul Marganda Lingga.

Dalam forum tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Drs Rapidin Simbolon menegaskan Pemilu 2029 dipandang bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan momentum untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang dinilai kerap terpinggirkan.

Kegiatan yang berlangsung sejak siang itu menjadi bagian dari konsolidasi internal partai di tingkat kota hingga tingkat kecamatan bahkan akar rumput sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pemilu 2029.

Rapidin meminta kader memperkuat komitmen untuk membela kepentingan masyarakat kecil serta merespons persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Rapidin menyebut PAC sebagai benteng pertama menghadapi ketidakadilan sosial. Ia mengingatkan, kemenangan 2029 tak akan berarti jika rakyat kecil tetap hidup dalam tekanan.

“PAC tidak boleh hanya papan nama. Ia harus menjadi rumah bagi rakyat yang terzalimi. Bekerjalah untuk keinginan rakyat,” kata Rapidin.

Ia menggambarkan wajah kezaliman itu dengan gamblang, seperti petani yang lahannya terancam konflik, buruh yang diperas tenaganya tanpa upah layak, nelayan yang makin sulit melaut karena biaya tinggi, hingga warga miskin kota yang terhimpit kebutuhan dasar.

Menurutnya, politik tak boleh netral dalam situasi seperti itu. Netralitas, kata dia, sering kali berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

Rapidin mengutip pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri , bahwa partai harus menjadi alat perjuangan wong cilik.

Dari tingkat PAC, Rapidin meminta suara-suara kecil itu dikumpulkan, bukan hanya saat musim kampanye, tetapi dalam keseharian saat rakyat menghadapi ketidakpastian hidup.

Ia menyinggung konflik agraria yang menimpa ratusan kepala keluarga petani di Padang Halaban, Labuhanbatu Utara baru-baru ini.

Bagi Rapidin, peristiwa semacam itu adalah cermin bagaimana rakyat kecil kerap berhadapan dengan kekuatan besar tanpa perlindungan memadai.

“Kalau kita berbicara memenangkan pemilu, itu artinya memenangkan rakyat. Mengembalikan hak-hak yang terambil. Menghentikan kezaliman yang dibiarkan terlalu lama,” ujarnya.

Ketua DPC PDIP Pematangsiantar, Timbul Marganda Lingga, menambahkan bahwa fit and proper test bukan sekadar seleksi jabatan.

Ia adalah penyaringan komitmen, siapa yang benar-benar siap turun membela rakyat, dan siapa yang hanya ingin posisi.

“Struktur harus kuat agar penderitaan rakyat tidak hanya jadi bahan pidato. Kita harus hadir ketika mereka dipinggirkan,” katanya.

Di penghujung acara yang ditutup dengan buka puasa bersama, pesan yang mengemuka jelas, 2029 bukan sekadar target politik.

Ia diproyeksikan sebagai momentum perubahan agar demokrasi tak berhenti pada pencoblosan, tetapi berlanjut pada pembelaan nyata terhadap rakyat kecil yang selama ini merasakan ketidakadilan.(Jun-tribun-medan.com).

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved