Catatan Sepak Bola
Indonesia vs Arab Saudi, Sepertinya Kita Bisa
Indonesia akan menghadapi Arab Saudi di laga pertama Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia Grup B di Stadion King Abdullah Sport City.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Indonesia berjarak 180 menit, 2 x 90 menit, dari Piala Dunia 2026.
Rabu malam waktu Arab Saudi, 8 Oktober 2025, atau Kamis (9/10) menjelang pagi Waktu Indonesia, adalah 90 menit yang pertama.
Indonesia akan menghadapi Arab Saudi di laga pertama Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia Grup B di Stadion King Abdullah Sport City (Alinma Stadium), Jeddah.
Waktu yang sangat krusial.
Tiga poin dari waktu ini, akan membawa Indonesia selangkah lebih dekat pada sejarah.
Pertanyaannya, apakah kita bisa? Persisnya, apakah kita memiliki potensi untuk sampai pada titik itu?
Berat tentu saja, tapi, sepertinya kita bisa. Sejumlah rumah prediksi memang selalu menempatkan kita di urutan buntut.
Persentase peluang Indonesia untuk lolos ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tahun depan tidak pernah berada di atas 10 persen.
Rata-rata tujuh-delapan persen, bahkan ada yang lima persen saja.
Persentase yang kecil ini tentu bukan merupakan satu bentuk memandang sebelah mata. Bukan meremehkan.
Para pengampu rumah prediksi bekerja berdasarkan hitung-hitungan statistik, dan di antara enam kontestan ronde empat kualifikasi Piala Dunia Zona Asia, Indonesia harus diakui sebagai yang paling kurang berpengalaman.
Saudi jelas langganan Piala Dunia. Mereka sudah enam kali lolos ke putaran final, dengan pencapaian tertinggi babak 16 besar pada edisi 1994.
Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar masing-masing sudah lolos satu kali. Oman belum pernah.
Pun Indonesia, meski dalam catatan FIFA, pada edisi 1938, atas nama Dutch East Indies kita pernah berpartisipasi dan lolos ke babak 16 besar pula.
Itu soal pengalaman. Belum pula perkara peringkat.
Di antara kontestan-kontestan ini, lagi-lagi, Indonesia jadi yang terendah. Pada update 18 September 2025, peringkat paling tinggi ditempati Qatar (53), diikuti Irak (58), Saudi (59), Uni Emirat Arab (67), Oman (78), dan Indonesia di posisi 119, satu-satunya kontestan yang berada di tier 3.
Maka hampir semua rumah prediksi menempatkan Indonesia sebagai kontestan yang paling mungkin untuk keluar dari persaingan, baik menuju putaran final Piala Dunia maupun playoff menuju putaran lima.
Indonesia diberi persentase 5 persen untuk lolos langsung, 20 persen untuk playoff, dan 75 persen untuk mengemas koper.
Lantas di mana letak potensi itu? Di mana letak harapan?
Setidaknya dua alasan bisa dikedepankan. Pertama, Indonesia sebelumnya pernah bentrok dengan Saudi di fase grup ronde tiga, dua kali, dan hasilnya positif.
Satu kali seri dan satu kali menang. Hasil imbang diperoleh di laga tandang. Kala itu, lewat cocoran Ragnar Oratmangoen, Indonesia sempat unggul duluan.
Barangkali masih banyak yang mengingat laga itu.
Betapa dalam posisi yang sama sekali tak dijagokan, bahkan untuk sekadar ‘tidak kebobolan banyak’, Indonesia justru menunjukkan performa yang gemilang.
Di bawah kendali Shin Tae-yong kala itu, Indonesia –di luar dugaan– berani “bermain”: memindahkan bola dari kaki ke kaki tanpa ada kesan takut sama sekali.
Padahal, Saudi yang bernafsu meraih poin penuh, sejak menit awal laga telah mengambil inisiatif menyerang. Mereka mengepung pertahanan Indonesia dari semua lini.
Laga kedua, masih bersama Shin Tae-yong, Indonesia membekap Saudi 2-0 di Jakarta. Marselino Ferdinand melesakkan dua gol yang monumental, sekaligus memorable.
Selebrasinya usai melesakkan gol; duduk di kursi lalu berpose santai, menjadi favorit di media sosial.
Alasan kedua, dibanding laga pertama dan kedua, Indonesia datang dengan kekuatan yang lebih besar. Belum ada Dean James, Kevin Diks, dan Ole Romeney di Jakarta.
Belum ada Miliano Jonathans dan Mauro Ziljstra. Belum ada juga Emil Audero Mulyadi, kiper berpengalaman Serie A Italia.
Meski Emil harus absen karena cedera otot, lima pemain lain tetap memberi tambahan kekekuatan yang signifikan bagi Indonesia. Terutama sekali Diks, Jonathans, dan Ole.
Ketiganya, setidaknya sampai sejauh ini, menjadi kepingan yang cocok untuk mengisi ruang puzzle yang sebelumnya kosong.
Sebaliknya, dari sisi Saudi, tidak ada perubahan berarti.
Pelatih Herve Renard hanya memanggil tiga pemain abroad, Marwan Alsahafi yang merumput untuk Royal Antwerp di Belgia; Muhannad Alsaad yang bergabung bersama klub Liga Swiss, Lausanne Sport, serta Saud Abdulhamid yang berkostum RC Lens, klub Ligue 1 Prancis. Selebihnya pemain-pemain liga lokal.
Namun bukankah saat ini Liga Arab Saudi merupakan yang terbaik di Asia?
Sangat benar! Investasi besar-besaran pemerintah yang membuat klub-klub mampu membeli banyak pemain bintang kelas dunia, temasuk Cristiano Ronaldo, mendongkrak popularitas sekaligus mutu kompetisi.
Liga Saudi pun melejit melewati J-League Jepang dan K-League Korea Selatan.
Tentu saja, mereka jauh sekali meninggalkan kompetisi sepak bola Indonesia yang tercecer di posisi 25.
Sampai di sini terjadi anomali. Meski bergabung dengan klub-klub besar seperti Al Ahli, Al-Hilal, Al-Ittihad, dan Al-Nassr, sebagian besar pemain Tim Nasional Saudi tak selalu mendapatkan kesempatan untuk masuk jajaran starting eleven.
Sebagian besar mereka justru lebih sering jadi penghangat bangku cadangan, menonton para bintang dari Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika, para eks superstar kompetisi-kompetisi paling gemerlap di dunia, beradu aksi.
Hal yang pernah dikeluhkan pelatih Saudi sebelumnya, Roberto Mancini.
Kiper-kiper yang dibawa Herve Renard, misalnya. Raghid Najjar dari Al-Nassr, Mohamed Alyami dari Al-Hilal, dan Abdulrahman Alsanbi dari Al-Ahli. Ketiganya bukan merupakan kiper utama di klub masing-masing.
Raghid Najjar kalah bersaing dengan Bento Matheus Krepski, kiper berkebangsaan Brasil yang bahkan belum pernah dipanggil masuk tim nasional Seleccao.
Mohamed Alyami ditepikan Yassine Bounou, kiper internasional Maroko, sedangkan Abdulrahman Alsanbi kerap menjadi cadangan Edouard Osoque Mendy.
Begitu pula pemain-pemain abroad mereka. Marwan Alsahafi, Muhannad Alsaad, dan Saud Abdulhamid, bukanlah pemain-pemain inti.
Situasi yang sedikit banyak berbanding terbalik dengan pemain-pemain Indonesia yang berkompetisi di luar negeri. Jay Idzes di Sassuolo, Kevin Diks di Borussia Moenchengladbach, mendapat menit bermain yang banyak. Hampir selalu mengisi first line up.
Calvin Verdonk yang baru bergabung dengan Lille di Liga Prancis, juga telah menunjukkan peran penting.
Ia, sebagaimana Dean James di Go Ahead Eagles, turun di Liga Europa dan memberi kontribusi penting untuk kemenangan yang diraih tim mereka.
Pertanyaannya sekarang, mampukah Patrick Kluivert memanfaatkan sedikit angin ini untuk meramu strategi yang pas? Banyak yang percaya, tapi tidak sedikit yang meragukan.
Kegagalan Indonesia mencetak gol pada FIFA Matchday kontra Lebanon menjadi satu di antara tolok ukur.
Strategi sepak bola Kluivert dengan formasi 4-2-3-1 yang offensif tapi buntu tatkala menghadapi lawan yang bermain negatif, makin kerap dibanding-bandingkan dengan pragmatisme ala Shin Tae-yong, yang meski kurang menarik tapi berhasil mengemas empat poin kontra Saudi.
Kluivert sendiri, seperti biasa, memilih untuk silence. Tidak memberi tanggapan secara frontal. Ia bicara diplomatis. Tidak meledak-ledak, tidak juga merendah.
“Kami tentu saja akan melakukan yang terbaik untuk tampil di level tertinggi. Kami mempersiapkan pemain sebaik mungkin, dan mudah-mudahan kami siap membuat negara bangga pada kami,” katanya dalam sesi konferensi pers jelang laga. Senyum berkali-kali mengembang di bibirnya.
Jay yang dibawa serta, tak kalah berhati-hati –meski terkesan sedikit lebih optimistis.
“Sulit, tapi bukan mustahil. Pastinya kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk para suporter kami, yang sampai sejauh ini menaruh kepercayaan yang tinggi,” ucapnya.
(t agus khaidir)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/TAHAN-BOLA-Pemain-Tim-Nasional-Indonesia-Calvin-Verdonk-kanan.jpg)