Sumut Terkini

Setelah Bencana dan Jelang Ramadan, Pemprov Sumut Pastikan Stok Bapok Cukup dan Harga Stabil

Hal itu dikarenakan, stok pangan di Sumut mengalami surplus (stok pangan melebihi kebutuhan konsumsi).

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
HARGA BAHAN POKOK- Suasana Pasar Tradisional Kampung Lalang, Medan, Senin (5/1/2026). Aktivitas jual beli terpantau ramai meski sejumlah harga bahan pokok mengalami kenaikan di awal tahun. Pedagang dan pembeli tetap bertransaksi dengan pasokan komoditas yang masih tersedia. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) memastikan harga bahan pokok menjelang bulan Ramadan bakal stabil.

Hal itu dikarenakan, stok pangan di Sumut mengalami surplus (stok pangan melebihi kebutuhan konsumsi).

Pelaksana tugas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Timur Tumanggor mengatakan, selain itu pihaknya juga terus melakukan sejumlah program agar harga bapok tetap stabil di tahun 2026. 

Misalnya kata Timur, Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop) yang telah dilakukan sejak tahun 2025.

“Stok pangan kita sekarang surplus, sehingga menjelang bulan Ramadan hingga hari raya Idul Fitri nanti, kita pastikan kondisinya bisa tetap terjaga dan harga bahan pokok bisa stabil dan tidak terlalu naik,” jelasnya, Kamis (22/1/2026).

Dirincikan Timur, dari Program Jaskop tersebut, sepanjang tahun 2025 Sumut mengalami surplus beras.

Produksi beras mencapai lebih dari 2.222.000 ton.

"Sementara kebutuhan masyarakat Sumut sekitar 1,7 juta ton per tahun, sehingga terdapat surplus sekitar 501 ribu ton. Kondisi ini juga menjadikan Sumut sebagai salah satu daerah penyuplai beras bagi provinsi lain," ucapnya.

Dijelaskan Timur, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami surplus.

"Diantaranya cabai merah sebesar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, serta cabai rawit 65 ribu ton.

Namun diakuinya, harga cabai merah masih berpotensi berfluktuasi karena sebagian produksi dijual ke provinsi lain dengan harga lebih tinggi.

“Untuk harga cabai merah terkadang berfluktuasi karena cabai dijual ke provinsi lain dengan harga yang lebih tinggi, makanya kita lakukan intervensi saat panen untuk menjaga stok dan harga bisa terkendali,” kata Timur.

Pemprov Sumut juga melakukan intervensi melalui pengembangan kawasan unggulan padi di lima kabupaten/kota, antara lain Deliserdang, Serdangbedagai, dan Asahan.

Sementara kawasan unggulan cabai merah dikembangkan di Kabupaten Karo dan Batubara.

“Untuk kawasan ini kita intervensi mulai dari pupuk juga bibitnya, supaya produksi kita tetap bisa surplus,”katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved