Sumut Terkin

Respon Gubsu Bobby Soal Lambatnya Pembangunan Huntara dan Huntap di Tapteng

Bobby Nasution sudah berkali-kali meminta ke Bupati Tapteng untuk melengkapi administrasi secara terstruktur. 

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Huntara Mandiri- Sejumlah penyintas banjir tinggal di Huntara yang dibangun mandiri di Gang Bersama, Huntara Mandiri, Hutanabolon,Tapteng, Jumat (20/3/2026). Mereka diminta pindah dari lokasi pengungsian oleh pemerintah padahal huntara nya belum selesai dibangun pemerintah 

Bangunan huntara mandiri ini terbuat dari kayu-kayu gelondongan bekas banjir, atapnya diambil dari seng dan sebagian dari plastik-plastik karung yang dipasang berlapis-lapis. 

Selain di gang ini, penyintas banjir ini terpencar-pencar di sudut-sudut jalan Simpang Merah Hutanabolon-Sipange.  

Warga terlihat satu persatu menolong tetangganya untuk membangun huntara mandiri ini. 

Seorang penyintas banjir yang tinggal di Huntara Mandiri Gang Bersama Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Piltak Sigultom mengatakan, 

"Ya kami buat palang ini karena dibangun secara mandiri ternyata ini kami bangun sendiri rumah ini. Kami pindahan dari pengungsian Kemensos Tanah Merah," jelasnya mengawali cerita, Jumat (20/3/2026).

Diceritakan Piltak, kepedihan pasca banjir saat pihaknya diminta untuk menandatangani surat pernyataan untuk pindah dari pengungsian. 

"Surat pernyataan itu disuruh pemkab waktu itu berdampingan dengan Camat, malam-malam mereka datang, poinnya menyatakan bersedia keluar dari tenda dan mencari tempat sendiri. Itu isinya," ucapnya.

Diakuinya, dia telah menerima Dana Tunggu Hunian dari pemerintah sebesar Rp 600 ribu.

Namun, dengan uang segitu, tidak cukup untuk mengontrak rumah.

"Gara-gara kami tidak sanggup ngontrak, huntara huntap tidak ada terlihat dan belum pernahh dibahas itu, makanya hari itu kami disuruh buat surat pernyataan keluar dari tenda yang katanya akan dibangun huntara. Tapi sampai sekarang enggak ada, jadi kami bertindak bangun rumah sendiri," ucapnya.

Diakuinya kepedihan itu terasa, sebab mereka membangun Huntara secara mandiri dan bergotong royong dengan warga. 

"Itulah kami bikin ini mandiri kami cari mandiri bahannya. Ya (Sedih disuruh buat pernyataan huntara). Jangankan sedih dah pada pusing semua. Karena meski 7 rumah di sini, ada 50 orang yang tinggal di sini," jelasnya.

Dikatakannya, di area ini bebas banjir. Namun, dari satu bulan lalu, yang menjadi kendala adalah listrik.

"Pokoknya proses pembangunan huntara mandiri ini gak terbilang lah berapa hari. Karena kami pungut nya pelan pelan. Ada pasir di sini, kami tempelkan ke huntara mandiri ini. Jadi begitulah prosesnya," tuturnya.

Bahkan, sebelum ada kayu yang mereka dapat untuk membangun huntara, mereka hanya tidur beralaskan tenda saja.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved