10 Persen Warga Sumut Pengguna Narkoba, Program Pemberantasan Terkendala Anggaran
Menurut Tatar, pada tahun 2025, penyalahgunaan narkoba didominasi usia produktif 15 hingga 45 tahun.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara Brigjen Pol Tatar Nugroho mengatakan, Sumut masih menempati peringkat pertama nasional dalam jumlah pengguna narkoba.
Dijelaskannya, bahkan penggunaan narkoba tersebut sudah merambah ke desa-desa yang ada di Sumut. Menurutnya ada beberapa faktor sebab pengguna narkoba di Sumut paling banyak.
“Dari sekitar 15 juta total penduduk Sumut, terdapat 10 persen yang menjadi pengguna narkoba. Tingkat penyebarannya pun belakangan ini sudah merambah hingga ke desa-desa,” terangnya, Rabu (3/6/2026).
Dikatakannya, beberapa faktor itu diantaranya, kondisi geografis Sumut yang menjadi jalur utama masuknya narkoba.
"Wilayah Sumut juga diapit sejumlah titik rawan di bagian selatan yang menjadi pintu masuk penyelundupan," ucapnya.
Menurut Tatar, pada tahun 2025, penyalahgunaan narkoba didominasi usia produktif 15 hingga 45 tahun. Namun kini trennya mulai merambah anak-anak usia sekolah.
Baca juga: SOSOK Cut Salsa Viral, Siapakah Salsabila Alwani yang Diisukan Digerebek Narkoba Bareng Anak Bupati
Diakuinya, ada keterbatasan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan untuk pemberantasan narkoba.
"Meski begitu kita tetap fokus menekan peredaran narkoba di pintu-pintu masuk utama serta wilayah pedesaan," jelasnya.
Menanggapi itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution merespon soal keterbatasan anggaran tersebut. Ia menegaskan akan membantu kendala itu semaksimal mungkin.
“Kita minta program konkret dari BNNP. Mengenai anggaran, Pemprov Sumut akan berupaya membantu. Kita harus serius agar Sumut benar-benar terbebas dari narkoba,” tegasnya.
Untuk itu Bobby mengajak pihakk BNNP Sumut memperkuat kolaborasi dan melakukan intervensi terpusat guna memberantas peredaran gelap narkotika di Sumut.
“Pada pertemuan ini, saya ingin adanya kolaborasi kuat dalam penuntasan narkoba. Saya minta kita lakukan intervensi secara terpusat, khususnya difokuskan pada beberapa daerah yang menjadi titik masuk utama dan pusat peredaran narkoba,” ujar Bobby Nasution.
Bobby mengakui masih terdapat kendala di tingkat provinsi, terutama keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus dalam penanganan narkoba secara masif.
"Saya khawatir terhadap masa depan generasi muda di Sumut. Narkoba kini semakin mudah diakses karena harganya yang makin terjangkau dan telah menyasar usia muda," ucapnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov Sumut akan mengambil langkah konkret dengan memperbanyak kegiatan masyarakat dan program-program positif di daerah rawan narkoba.
"Pemprov Sumut juga akan memperkuat edukasi dengan mendorong setiap kegiatan pemerintahan mau pun kemasyarakatan menyisipkan pesan bahaya narkoba," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ilustrasi-alat-alat-dan-penggunaan-narkoba-Gubernur.jpg)