Catatan Piala Dunia
Telepon dari Donald Trump
SEPAK bola bukan barang baru di Amerika Serikat. Tahun 1968, telah bergulir kompetisi North American Soccer League atawa NASL.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SEPAK bola bukan barang baru di Amerika Serikat. Tahun 1968, telah bergulir kompetisi North American Soccer League atawa NASL. Tidak tanggung-tanggung, satu di antara klub kontestan liga, New York Cosmos, merekrut pemain yang kala itu dianggap sebagai yang terbaik di kolong langit, Edson Arantes do Nascimento alias Pele. Cosmos kemudian juga mendatangkan tiga jagoan lain, dari Brasil, Belanda, dan Jerman: Carlos Alberto, Johan Neeskens, dan Sang Kaisar, Franz Beckenbauer.
Klub-klub lain tak mau kalah. Los Angeles Aztec merekrut legenda De Oranje, Johan Cruyff. Bermain satu musim, Cruyff pindah ke Washington Diplomats. Ada juga Fort Lauderdale Strikers yang memboyong dua pemain hebat dari tanah Inggris Raya, Bobby Moore dan George Best. Sebelumnya, Best, yang flamboyan di dalam dan luar lapangan, bermain untuk Aztec.
NASL bertahan sampai 1985. Kompetisi bubar karena beragam persoalan finansial dan regulasi yang tumpang tindih, yang dalam beberapa kasus bahkan kontradiktif dengan regulasi FIFA, hingga hanya menyisakan beberapa klub. Sebagian klub pailit. Sebagian yang lain bergeser ke kompetisi sepak bola dalam ruangan.
Tahun 1993, setelah FIFA memutuskan menunjuk mereka sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994, federasi sepak bola Amerika Serikat menggagas Major League Soccer atau MLS, kompetisi baru yang lebih profesional di satu sisi dan tetap semarak di sisi yang lain dan diharapkan dapat mengejar ketertinggalan dari kompetisi-kompetisi di Eropa.
Musim pertama MLS digelar tahun 1996 dan sejak itu banyak pemain bintang berdatangan. Carlos Valderrama, Youri Djorkaef, Ashley Cole, Didier Drogba, Frank Lampard, Andrea Pirlo, dan Zlatan Ibrahimovic untuk menyebut beberapa saja. Tentu, tak boleh dilupa bagaimana kepindahan David Beckham ke Los Angeles Galaxy melejitkan sensasi luar biasa, sebagaimana dua-tiga tahun terakhir, MLS menjadi sorotan publik sepak bola setelah Lionel Messi menerima tawaran Inter Miami lalu membawa serta sohib-sohibnya di Barcelona dan Tim Nasional Argentina.
Namun sensasi demi sensasi ini, ternyata belum mampu mengangkat derajat sepak bola di Amerika Serikat. Sepak bola tetap saja diidentifikasi sebagai 'soccer'. Ada pun yang disebut 'football' adalah permainan "tabrak-tabrakan", yang pemain-pemainnya "berlari-larian" mengenakan helm dan "baju zirah", dengan bola kulit berwarna coklat berbentuk lonjong yang lebih banyak ditangkap didekap ketimbang ditendang.
Di mata publik Amerika Serikat, kasta soccer, bukan saja terletak di bawah (American) "football", tapi juga lebih rendah dari baseball dan basket. Bahkan masih kerap pula dibayang-bayangi hoki es. Orang-orang di sini, kerap kali dengan lagak gaya meyakinkan menyebut olahraga-olahraga ini sebagai olahraga yang paling banyak ditonton di dunia. Bilang mereka, babak grand final liga (American) "football", yakni Super Bowl yang fase jeda antarbabaknya diisi pertunjukan panggung artis, lebih besar dari final Piala Dunia. Pun final liga baseball (World Series MBL) dan liga basket (NBA Finals).
Padahal faktanya, penonton final-final ini tidaklah lebih banyak dari laga reguler Liverpool versus Manchester United di Liga Inggris atau El Clasico Barcelona kontrak Real Madrid di Liga Spanyol. Apatah lagi final Piala Dunia?
Pertanyaannya, setelah FIFA kembali menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia (kali ini bersama dua tetangga, Meksiko dan Kanada), apakah sudah terjadi perubahan?
Rasa-rasanya belum. Sepak bola, bahkan dalam ruang lingkup Piala Dunia, masih tetap jadi anak tiri, dan gelagat ini tercermin dari sikap pemerintah Amerika Serikat sendiri. Secara terbuka, mereka menunjukkan garis yang tegas terkait kebijakan politik yang mengakibatkan Tim Nasional Pantai Gading, Senegal, dan Haiti harus berlaga tanpa suporter.
Iran lebih parah. Sebagai negara yang berkonfrontasi langsung dengan Amerika Serikat di Timur Tengah, Iran dicekal sepenuhnya. Bukan cuma suporter, seluruh tim dilarang masuk hingga harus mengungsi ke Meksiko. Teranyar, wasit berkebangsaan Somalia, Omar Artan, dideportasi. Padahal dia sudah tiba di Bandara Miami. Sebelum dihalau pergi, Omar sempat ditahan petugas imigrasi dan diperiksa selama 11 jam. Perlakuan yang juga sempat dialami kapten Tim Nasional Irak, Aymen Hussein.
Kedua, sikap Presiden Donald Trump. Lain dari pemimpin-pemimpin negara penyelenggara Piala Dunia sebelumnya, Trump tak pernah terlalu bersibuk-sibuk. Dia jarang menggelar Konferensi pers perihal progres turnamen. Jarang terlibat dalam promosi-promosi. Dia bahkan tidak datang ke Los Angeles Stadium untuk menonton laga perdana Amerika Serikat melawan Paraguay, Sabtu, 13 Juni. Jelang pertandingan, lewat ponsel Andrew Guiliani, perwakilan Gedung Putih untuk mengurus Piala Dunia, Trump bicara pada penggawa-penggawa Tim Nasional Amerika Serikat. Dia bicara, dengan pengeras suara yang dibuka, pada Pelatih Kepala Mauricio Pochettino dan kapten Tim Ream. Tidak ada basa-basi yang berpanjang-panjang. Pesannya jelas dan terang: bermain sebaik mungkin dan menang, demi martabat dan harga diri bangsa. Pendek kata, jangan bikin malu.
Amerika Serikat menggulung Paraguay 4-1 di pertandingan itu. Mereka sangat dominan sepanjang 90 menit di lapangan, unggul di semua lini, termasuk penguasaan bola, dan seolah mengajari kekuatan tradisional dari Amerika Latin tersebut bagaimana cara bermain. Puja-puji pun segera melesat-lesat. Christian Pulisic, yang tampil gemilang sebagai metronome lini tengah sebelum ditarik keluar lantaran cedera, digelari Captain America. Di media massa maupun media sosial, optimisme merebak.
Namun begitulah, apa boleh buat, di tengah euforia, perubahan agaknya memang masih berjarak jauh. Soccer tetaplah soccer, belum menunjukkan tanda-tanda menjadi football, dan Presiden Trump lebih memilih pergi ke New York, ke Madison Square Garden, menonton laga gim ketiga NBA Finals antara New York Knicks dan San Antonio Spurs, walau nyaris sepanjang pertandingan mendapat cemooh dari penonton yang menyesaki stadion itu.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Donald-Trump-as-muka.jpg)