Longsor di Tapanuli Tengah
MOMEN HARI GURU MENGERIKAN, Longsor Rusak Sekolah, Begini Nasib 600 Siswa SMPN 2❗
Kondisi SMP Negeri 2 Pandan Nauli yang hancur akibat longsor saat Peringatan hari guru pada 25 November 2025 lalu.
Penulis: Fredy Santoso | Editor: M.Andimaz Kahfi
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Peringatan hari guru pada 25 November lalu menjadi momen tak terlupakan seumur hidup bagi 600 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Pandan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Bukan cuma siswa, melainkan para guru dan kepala sekolah yang berada di lokasi.
Suasana pagi itu, sekira pukul 07.00 WIB begitu meriah. Sebagian pelajar sudah memakai pakaian adat jelang upacara.
Mereka juga sudah menyiapkan hadiah-hadiah sederhana penuh makna untuk bapak, maupun ibu guru.
Namun, suasana yang begitu riuh mendadak berubah mencekam.
Suara guru perempuan menggunakan pengeras suara, meminta para siswa yang berada di ruang kelas tepat dibawah bukit segera turun kebawah, keluar dari ruangan.
Sebab, air hujan yang turun dari bukit mulai membawa lumpur hingga ke lapangan upacara.
Air berlumpur diisyaratkan sebagai penanda, ada tebing yang retak dan siap roboh ke bawah.
Para guru yang sudah bersiap-siap, langsung mengevakuasi seluruh siswa ke lapangan futsal.
Ternyata benar, sekira pukul 08.00 WIB, tanah menghantam 1 ruangan laboratorium sekolah hingga hancur.
Selain itu, longsor juga merusak enam kelas yang berada di atas dekat bukit, serta dibawahnya.
Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Pandan Nauli, Nur Ikfan Santoso mengatakan, peristiwa mengerikan itu terjadi pada Selasa 25 November lalu, sekira pukul 08.00 WIB.
Namun, sejam sebelum kejadian, ia sudah mengantisipasinya karena ada tanda-tanda.
"Kemudian, ada beberapa guru yang mengabari ke saya bahwa lumpur masuk ke halaman sekolah berarti di atas mau longsor. Dari situ terinspirasi beberapa guru termasuk saya kami langsung bergerak," kata Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Pandan Nauli, Nur Ikfan Santoso, Rabu (10/12/2025).
"Ada seorang guru yang menyiarkan melalui toa bilang, anak-anak kami yang ada di lantai atas atau kelas atas segera turun dan kemudian beberapa guru mengevakuasi ke bawah termasuk 3 lokal di bawah ini dan 3 lokal yang di atas," sambungnya.