Mereka Siswa Kelas Unggulan
WAKIL Kepala Sekolah Bagian Kemahasiswaan SMAN 3 Medan, Emir Harahap, mengklarifikasi kegiatan belasan siswanya yang tertangkap basah kumpul-kumpul
Emir menghubungi Tribun, Selasa (19/4) sekitar pukul 08.00 WIB. Dia tidak yakin siswanya yang kumpul-kumpul di kediaman Wn, Jalan Jemadi No 42, Medan, telah melakukan kecurangan, seperti menerima bocoran kunci jawaban.
"Anak-anak itu saya tanyai dan mereka memang mengaku kumpul-kumpul membahas soal. Mereka siswa kelas unggulan, ada tak ada ujian mereka membahas soal," katanya, saat ditemui di ruangannya, kemarin. Guru pelajaran kewarganegaraan ini mengakui siswanya bukan hanya kumpul di rumah Wn, Jl Jemadi, tapi juga di Jalan Pasar III, dekat sebuah masjid.
"UN memang menjadi ketakutan sekolah, siswa dan orangtua. Tapi membangun citra sekolah ini tak mudah. Mohon pemberitaan yang objektif," ujarnya. Emir mengatakan berdasarkan pengakuan Wn padanya, dua orang temannya pun menginap di rumahnya yang dekat ke lokasi sekolah.
"Sudah saya peringatkan mereka. Ini sensitif, Nak, bisa mengundang asumsi negatif," katanya. Emir mengatakan selain siswa, guru-guru SMAN 3 sering datang ke sekolah pagi-pagi. Suasana sekolah yang terang benderang sejak pukul 05.00 WIB, merupakan kebiasaan sekolah. Dia berdalih kawasan SMAN 3, rawan, maka dua lampu neon sengaja dihidupkan.
"Bukan karena ada yang mau mengerjakan soal. Daerah sini lumayan rawan, kami pun sering meminta Polsek Medan Barat patroli di sekitar sini untuk membantu kami menjaga properti sekolah," katanya. Mengenai kendaraan yang diduga sebagai joki yang melakukan transaksi, jika memang mencurigakan, Emir meminta media agar benar-benar independen bersama polisi menindaklanjuti keberadaan kendaraan tersebut. Emir yakin tak ada soal yang bocor mengingat pengawasan di seputaran dan dalam sekolah cukup ketat.
Ia mempertanyakan sumber bocornya soal sebab mulai dari percetakan yang diawasi CCTV hingga pengawas independen dan intel yang disebar di sekolah-sekolah sangat meminimalisasi kesempatan bocornya soal.
"Memang kami tak bisa mengontrol 300 siswa kami yang ujian, tapi kami pastikan dan wanti-wanti dari awal jangan percaya pada joki dan semacamnya," kata Emir. (Tafsir).(mom) Selengkapnya baca edisi cetak hal 1 hari ini