Breaking News

Laba Bisnis Distro Kian Menggiurkan

Omzet Capai Rp 100 Juta Per Bulan

Lokasi dan Konsep jadi Penentu

Tayang:
Laporan Reporter Tribun Medan

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berbisnis distro yang umumnya menjual perlengkapan pakaian dan aksesori anak muda, ternyata tidak bisa dianggap sebelah mata. Beberapa pengusaha di bidang ini bahkan bisa melejit bak roket.

Siarkansyah, pemuda berusia 24 tahun asli Medan membuktikan berbisnis di bidang ini cukup menggiurkan. Memegang hak paten pendistribusian produk Peter Says Denim (PSD) dan Afends, ia memanfaatkan pola konsumtif masyarakat dengan mendirikan beberapa distro.

"Sebenarnya untuk berbisnis ini bukan bagaimana kita membuka distro atau toko. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan pola gaya hidup konsumtif masyarakat untuk membeli produk. Tidak bisa dipungkiri, banyak orang di Medan yang punya uang cash tetapi tidak memiliki pilihan menghabiskan uangnya di mana," ujarnya saat ditemui Tribun di seputaran Jalan DR Mansyur, Medan, Senin (13/2).

Pria muda yang boleh dibilang "raja" distro kota Medan ini menceritakan, memulai bisnis ini tidak bisa asal-asalan. Banyak yang tertarik dan ikut-ikutan membuka usaha sejenis baik di plaza maupun di jalan, tetapi perkembangannya tetap negatif.

Ia sendiri mengaku, ketika akan terjun ke bisnis ini membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk memantau pasar Kota Medan. Baik dari konsep yang akan diterapkan, kebutuhan, dan lokasi menjadi sarana yang tidak bisa dipisahkan. Jangan sampai konsep produk bersifat street tetapi berjualan di plaza, yang mengakibatkan ruh dan brand produk melemah di pasaran.

"Saya memulai usaha ini sejak pertengahan 2009 dengan membuka Rumah Sepatu di Jalan DR Mansyur, dan berkembang terus sehingga berdirilah Victory, STORE dan BOX 19 yang lokasinya di jalan yang sama. Konsep, lokasi dan bagaimana display produk menjadi penting. Sebelum mendirikan Rumah Sepatu dan distro-distro lainnya sebenarnya sudah banyak pemain lama. Tetapi konsep yang saya terapkan berbeda. Produk yang dijual original 100 persen dan tidak ada yang palsu satu unit pun," ujarnya.

Dari modal Rp 25 juta di 2009 saat membuka Rumah Sepatu, usahanya kian berkembang hingga sekarang ia memiliki empat store resmi penjual kebutuhan anak muda yang memiliki aset Rp 2,9 miliar. Rata-rata tokonya mampu beromzet Rp 100 juta lebih per bulan.

Selain mempusatkan diri di kota Medan, untuk bisnisnya Siar mengembangkan sayap ke beberapa kota. Ia diberi wewenang dari beberapa brand ternama dunia untuk menjadi distribusi tunggal, membuat distro-distro di beberapa kawasan mengambil produk padanya.

Pematangsiantar, Banda Aceh, Binjai, dan Padang Sidempuan adalah kota-kota yang menjadi agen sub dealer pemasaran produk. Maka jangan heran, pria kelahiran 14 Juni 1987 ini telah memiliki aset cukup menggiurkan plus ditambah pekerja berjumlah 14 orang.

Terkait banyaknya distro yang gulung tikar, menurut Siar, kesalahan utama terletak pada konsep dasar pendirian distro. Sebelum terjun ke bisnis ini, Siar mengaku pemilik modal harus paham market apa yang akan disasar dan produk apa yang akan dijual.

Selain itu pengelola harus mampu membangun citra toko ke publik dengan cara-cara yang sederhana. Misalkan menjadi sponsor acara-acara anak muda dan melakukan komunikasi kepada konsumen yang datang dengan menanyakan kebutuhan.

Siar menjelaskan, pada tahun ini ia akan ekspansi dengan membuka satu unit toko lain. Katanya, bukanya toko baru ini karena ekspektasi brand-brand ternama dunia yang memintanya bertanggungjawab memasarkan produknya di Sumut.(irf)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved