Baca Selengkapnya di Tribun Medan

Ali Bantah Ada "Uang Pelicin"

"Anak saya itu pintar. Rangking selalu dia selama SMP. Baca Al Quran pun bisa. Kawannya dia, NEM-nya Nilai Ebtanas Murni, sekarang Nilai UN,"

Tribun Medan / Royandi
Ilustrasi 

- MAN 1 Medan Disebut-sebut Minta Uang Rp 11 Juta

- Orangtua Peserta Ujian Melapor ke Ombudsman

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan diduga mensyaratkan "uang pelicin" senilai Rp 11 juta kepada para peserta Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2016/2017 yang tidak lulus seleksi agar tetap dapat diterima.

Namun, kabar tersebut dibantah Kepala MAN 1 Medan Ali Masran Daulay. Ia mengatakan, pihaknya tidak pernah membuat syarat "uang pelicin".

Menurutnya, kutipan uang tersebut telah disepakati para orangtua, yang ingin anaknya tetap bersekolah di MAN 1 Medan, setelah dinyatakan tidak lulus seleksi. Uang tersebut, katanya, dibuat sebagai uang pembangunan ruang kelas tambahan.

Dugaan adanya "uang pelicin" tersebut diungkapkan Zulkarnain, orangtua Nurul Fadillah, peserta yang tidak lulus pada pengumuman hasil ujian 22 Juni lalu.

Merasa ada kecurangan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang digelar MAN 1 Medan, Zulkarnain melapor ke Ombudsman RI Perwakilan Sumut. Ia mengatakan, sejak awal, putrinya memiliki nilai Ujian Nasional yang cukup baik, yakni 33,34.

Adapun indikator penilaian yang dibuat MAN 1 Medan, yakni 40 persen nilai UN, 40 persen nilai tes akademik (tes tertulis), dan 20 persen tes baca Al Quran dan praktik ibadah.

"Anak saya itu pintar. Rangking selalu dia selama SMP. Baca Al Quran pun bisa. Kawannya dia, NEM-nya (Nilai Ebtanas Murni, sekarang Nilai Ujian Nasional) lebih rendah daripada anak saya, tapi bisa lulus. Saya gak mengerti kenapa bisa begitu. Saya minta penjelasan, mereka gak peduli. Itu yang bikin saya kesal," katanya di Kantor Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Jalan Majapahit, Medan, Senin (27/6).

Saat meminta penjelasan, Zulkarnain mengaku, pihak MAN 1 Medan menawarinya alternatif lain.

Alternatif yang dimaksud, yakni kelas tambahan. Pihak MAN 1, katanya, menamainya dengan istilah kelas mandiri.

Sejak awal, MAN 1 Medan mengumumkan daya tampung 365 siswa, 60 di antaranya diterima melalui undangan.

"Saya ketemu sama KTU-nya (kepala tata usaaha). Dia bilang, nilai tinggi anak bapak gak menjamin. Terus saya tanya, 'Jadi gimana supaya anak saya bisa diterima?' Dia bilang, 'Ya, pakai uang sogoklah. Pakai uang pelicin. Nanti masuk kelas mandiri.' Saya terkejut. Dalam hati saya, kok bisa begitu. Padahal dari awal gak ada yang namanya kelas mandiri," terang Zulkarnain.

Atas arahan pihak MAN 1, Zulkarnain kemudian datang kembali ke MAN 1 untuk mengetahui besaran uang yang harus ia bayarkan agar putrinya dapat diterima.

Dari situ, ia mendapati bahwa pihak MAN 1 mematok Rp 11 juta bagi siswa yang diterima di luar jalur resmi, dan Rp 6 juta bagi siswa yang diterima sesuai jalur resmi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved