Mutiara Ramadan
Memakan Bangkai Teman
Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap.
TRIBUN-MEDAN.com - TERDAPAT peringatan di Alquran yang sangat keras bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat ghibah, yaitu membicarakan kejelekan teman sendiri dari belakang.
Coba simak surat 49: 12. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sikap suka berprasangka, karena sebagian prasangka itu tidak selalu benar dan medatangkan dosa.
Jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta saling menggunjingkan teman, membicarakan hal-hal yang kamu pandang buruk di saat temanmu tidak di tempat.
Yang demikian itu, bukankah sama halnya kamu menikmati bangkai temanmu, yang tentu saja menjijikkan? Di sini Alquran menggunakan ungkapan sangat keras. Mencari-cari kesalahan teman lalu dijadikan bahan gunjingan itu tak ubahnya makan bangkai temannya.
Baca: Tak Ingin Teringat Mendiang Ibunda, Ashanti Rayakan Lebaran di Bali
Baca: Ini Tujuh Ruas Tol Jasa Marga Siap Dilewati di Idul Fitri Tahun Ini dan Gratis
Baca: Akunnya Ditangguhkan, Ini Curhatan Pengemudi Ojek Online yang Jadi Viral
Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap.
Lalu, mengapa bangkai? Karena mungkin sekali apa yang digunjingkan itu tidak benar, mengandung fitnah, sementara orang yang dijadikan sasaran tidak bisa membela diri karena tidak berada di tempat, sehingga tak berdaya bagaikan mayat atau bangkai.
Kalau saja yang berbuat ghibah sadar pasti merasa jijik karena yang tengah dinikmati itu oleh Alquran diidentikkan dengan bangkai. Berprasangka buruk (suudhon) adalah pangkal fitnah.
Orang membangun cerita negatif tentang orang lain, padahal itu hanya imajinasi yang muncul dari rasa iri dan dengki.
Jika cerita itu sampai ke orang lain atau yang bersangkutan, sangat mungkin akan berkembang lebih jauh lagi menjadi kebencian, permusuhan, dan perkelahian.
Akibat yang ditimbulkan dari fitnah skalanya bisa lebih besar dan lebih berbahaya dari pembunuhan. Fitnah ini mudah sekali menyelinap melalui jargon dan mekanisme demokrasi, misalnya saja di saat menjelang pilkada atau pemilu.
Antarcalon dan pendukungnya tidak segan-segan mengintip, mencari-cari dan mengorek kekurangan lawan.
Jika ditemukan, kekurangan yang lalu dibesar-besarkan. Hal-hal gang sifatnya pribadi lalu dibuka secara terbuka ke publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/komaruddin_hidayat_20160617_122123.jpg)