Mutiara Ramadan
Memakan Bangkai Teman
Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap.
Yang lebih bahaya lagi, jika ternyata tidak ditemukan kesalahan, maka diciptakan berita bohong untuk menjatuhkannya.
Makanya dalam masyarakat muncul kesan kuat, politik itu kotor, penuh kebohongan, dan saling membunuh lawannya. Kata politik dan demokrasi yang pada dasarnya bagus serta mulia, lalu ternodai menjadi kotor.
Munculnya teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone, masyarakat begitu cepat menyebarkan berita gosip dan fitnah.
Hanya dengan copy paste (copas) sebuah berita yang kadang bernada fitnah menyudutkan seseorang atau kelompok, bisa tersebar hanya dalam hitungan menit, menyebar ke ratusan ribu orang.
Ada lagi fitnah itu ditampilkan menggunakan bahasa gambar atau foto yang sudah diubah dan dimanipulasi.
Foto wajah dan tubuh orang lain namun dimanipulasi seakan orang yang sama, dimaksudkan untuk memperolok.
Di samping fungsinya yang positif untuk menjaga pertemanan dan berbagi ilmu, media sosial juga banyak disalahgunakan untuk membunuh karakter seseorang (character assasination).
Semua ini jelas tidak sejalan dengan etika Alquran. Persoalannya memang tidak mudah bagaimana mengendalikan dan mencegah lalu lintas informasi yang merusak.
Karena itu, menjadi sangat penting dan mendesak membangun daya tahan dimulai dari keluarga. Masing-masing saling mengingatkan yang lain untuk menjaga lisan.
Berbicaralah yang baik-baik, atau pilihlah diam untuk menjaga lisan, begitu sabda Rasulullah. Bahkan, saya ketemu beberapa keluarga yang sangat pelit menonton televisi, karena menurutnya tidak mendidik bagi anak-anak dan remaja.(*)
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/komaruddin_hidayat_20160617_122123.jpg)