TribunMedan/

Ngopi Sore

Untunglah Kasino Warkop Sudah Dipanggil Tuhan dan Tak Sempat Jadi Pendukung Jokowi

Makin panas atmosfer politik makin meruapkan ketegangan. Dalam bekap perasaan selalu was-was dan selalu terancam, siapa yang punya waktu untuk tertawa

Untunglah Kasino Warkop Sudah Dipanggil Tuhan dan Tak Sempat Jadi Pendukung Jokowi
youtube
KASINO Hadiwibowo dan Wahjoe Sardono 

SEORANG kawan, penulis dan sutradara, menulis di akun Facebooknya. Perihal Tukul Arwana yang disebutnya sedang mengkeret. Tukul takut dilaporkan ke polisi lantaran kebiasaannya meletupkan kata 'ndeso' saat masih menjadi pembawa acara program bincang-bincang Empat Mata (dan Bukan Empat Mata).

Tentu saja tulisan ini imajiner belaka. Tukul tidak benar-benar mengkeret. Namun apa yang ditulisnya tetap membuat saya tergelak. Sekaligus tertohok, lantaran sekonyong-konyong menyadari betapa orang-orang di negeri ini sudah tak lagi "selow". Tingkat kesantaian telah merosot jauh sekali.

Baca: TRAGIS, Pengantin Wanita Diperkosa di Hari Pernikahan, Gak Disangka Gini Kondisinya

Makin ke sini, orang-orang di negeri ini makin sensitif dan reaktif. Makin mudah merasa tersinggung dan marah. Sedikit-sedikit main ancam. Sedikit-sedikit mengajak perang, mengajak revolusi. Sedikit-sedikit main lapor, lalu mendesak polisi untuk memenjarakan orang atau sekelompok orang yang dirasa menyinggung dan membikin marah.

Yang seperti ini, paling anyar, menimpa Kaesang Pangarep. Putra bungsu Presiden Joko Widodo ini dilaporkan oleh seorang bernama Muhammad Hidayat S atas tuduhan melakukan tindakan pidana ujaran kebencian lewat vlog berjudul #BapakMintaProyek. Dalam vlog ini, Kaesang mengumbar kata 'ndeso', yang menurut Hidayat merupakan semacam dorongan atau ajakan dari Kaesang untuk membenci ulama dan kelompok masyarakat tertentu.

youtube
Vlog Kaesang Pangarep (YOUTUBE)

Saya tak hendak membahas lebih jauh tentang kata 'ndeso' dan tuduhan Hidayat yang belakangan diketahui ternyata lebih dulu berstatus tersangka atas kasus ujaran kebencian juga. Biarlah ini jadi urusan polisi, yang apapun keputusannya, entah melanjutkan atau tak melanjutkan, seyogianya sama-sama dihormati.

Persoalan makin merosotnya tingkat kesantaian orang-orang Indonesia lebih menarik untuk dicermati. Ini fakta yang --setidaknya bagi saya-- bikin gamang. Di satu sisi, barangkali dimaksudkan untuk bersopan-sopan. Santun dalam bersikap dan berujar. Di lain sisi justru menjadi ancaman. Sebangsa pisau bermata dua.

Tengoklah ke televisi dan Anda akan dengan sangat mudah menemukan parade sensor yang semakin lama juga semakin menyedihkan. Mulai dari sensor gambar sampai sensor bunyi. Paha, belahan dada, rokok, sampai senjata, dapat dipastikan tampil dalam kondisi buram. Atau ditutup dengan piksel seperti yang digunakan para sineas film porno Jepang untuk menutup kelamin.

Adegan yang mengetengahkan darah lebih aduhai lagi. Jika tidak diburamkan atau ditutup piksel, layar televisi Anda yang full colour bisa tiba-tiba berubah monokrom (hitam putih).

Sensor bunyi bagaimana? Sama saja. Dialog yang dianggap tak sesuai dengan asas-asas kesopanan dan kesantunan langsung dipotong. Kadangkala, pemotongan ini dilakukan tanpa sedikit pun memperhatikan unsur sinematografi. Penyensor tak peduli apakah pemotongan yang dilakukan mengurangi nilai film itu atau tidak.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help