TribunMedan/
Home »

Video

Video

NEWSVIDEO: Orangtua Murid Tidak Terima Anaknya Disebut Siswa Siluman

"Tolong jangan sebut anak kami siswa siluman karena itu tidak pantas, dia bukan anak siluman. Sebutlah yang lebih pantas, seperti siswa kelas"

Laporan Wartawan Tribun Medan / M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah orangtua murid yang anaknya bersekolah di SMA 2 Medan, Sumatera Utara, membentuk konsorsium terkait nasib 136 anak-anak mereka yang disebut siswa siluman di SMA 2.

Mereka berang terkait rencana Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan yang akan mengeluarkan 213 siswa ilegal yang terdapat pada SMA 2 dan SMA 13 Medan.

"Tolong jangan sebut anak kami siswa siluman karena itu tidak pantas, dia bukan anak siluman. Sebutlah yang lebih pantas, seperti siswa kelas tambahan," kata orangtua siswa siluman, Eddiyanto, Rabu (13/9/2017).

Eddiyanto menyangkal dan tidak ingin anaknya disebut siswa siluman. Ia tidak setuju anaknya dikatakan siswa ilegal, menurutnya hal tersebut berdampak pada psikologis anak-anak.

Baca: Resep Jamu Bikin Dada Montok Ini Viral, Penonton Justru Curiga

Karena saat ini mereka sedang dalam proses belajar dan saat ini mereka belajar sudah lebih satu bulan.

Berdasarkan kebutuhan dan analisa kebutuhan sekolah pada setiap Provinsi, Kabupaten kota , masih belum dapat menampung peserta didik yang tersedia sesuai ketentuan zona. Jumlah peserta didik ini sebenarnya bisa ditambah. Ini berdasarkan surat edaran nomor 3 tahun 2017 tentang PPDB.

“Itulah yang tidak dilakukan oleh sekolah. Karena menteri menyatakan penerimaan itu sistem zonasi, artinya tidak boleh ada siswa tamatan SMP disekitar SMA 2 ini yang tidak sekolah, bahkan karena nilainya rendah," kata Eddiyanto.

“Sebenarnya Kadis Pendidikan Sumut, Arsyad Lubis ini tidak memahami dan itu wajar. Karena dia tidak ada latarbelakang pendidikan dan tidak mengerti masalah pendidikan. Sehingga enak saja mengeluarkan anak-anak sedang belajar, itu sangat luar biasa. Kita wajar kalau seandainya kemarin kejadian ribut di Disdik, karena anak kita dikatakan siluman,“ tambahnya.

Eddiyanto tetap tidak terima anaknya disebut siswa siluman, karena dalam peraturan kalau tanah ini tanah milik TNI, mereka punya wewenang untuk masuk sekolah disini. Selain itu, seperti siswa berkebutuhan khusus, siswa berprestasi, siswa dengan kemampuan olahraga itu seharusnya ditampung.

"Jadi kalau karena hal ini, katakanlah karena temuan oleh Ombudsman atau tindakan tidak disiplin karena Ombudsman itu terus terang harus mengawal sesuai dengan peraturan, sebenarnya hal ini tidak keluar dari peraturan, karena ada pedomannya," ujar Eddiyanto.

"Sebenarnya anak kita masuk sesuai prosedur, tapi tahu-tahu ini berkembang, ini disebut siswa siluman, disebut siswa ilegal, ya kita sebagai orangtua tidak terima anak kita disebut siluman,“ Pungkas Eddiyanto.

(cr9/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help